Sunday, 22 November 2015

SM3T Itu, Mandinya Bareng Kecebong


Ini adalah sepotong kisah yang saya alami sewaktu mengikuti program SM3T. Program yang tak asing lagi bagi para guru muda di seantero tanah air Indonesia. Program yang dicetus oleh orang-orang hebat di Dikti ini mengajak guru-guru muda yang memiliki jiwa petualang untuk mengabdikan diri mendidik anak-anak negeri yang ada di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) dengan tujuan memajukan pendidikan di Tanah Air Indonesia.

Menyebut daerah 3T tentu terbayang di kepala kita sebuah daerah yang ekstrem. Sebuah daerah yang serba serba kekurangan. Daerah yang kenikmatan kemerdekaannya belum mencapai 100%. Ada banyak kekurangan yang akan kita dapati bila kita mau menyebutnya satu per satu. Mulai dari jalan yang tak bagus. Listrik tak ada; kadang-kadang ada dan itu pun cahayanya sudah diatur (menyala pukul sekian dan wafatnya pukul sekian!). Sinyal tak ada (kalau ada pun mesti manjat pohon-pohon yang tingi di atas bukit atau gunung yang tinggi pula). Kekurangan air bersih. Transportasi susah. Dan tentunya banyak tantangan yang dihadapi. 
 
Semua kekurangan yang ada di daerah 3T itu akan menjadi sebuah kenangan yang manis bila kita bersedia menjadikannya sebagai sebuah kenangan yang manis. Tak menutup kemungkinan juga semua kekurangan yang ada di daerah 3T itu akan menjadi musibah bagi kita jika kita memikirkan semua kekurangan itu adalah musibah. Itu tergantung pada pribadi masing-masing tentang bagaimana otak kita memikirkan semua kekurangan tersebut. Tetapi bagi saya kekurangan yang ada di daerah 3T itu menjadi sebuah kenangan yang manis. Alasannya, ya karena selama ini saya hidup di daerah yang serba ada. Jadi, di saat saya ditempatkan di daerah yang serba kekurangan itu, saya menjadi sadar bagaimana nikmatnya hidup di daerah yang lampunya menyala 24 jam dan bagaimana pula hidup di daerah yang lampu telah diatur waktu hidupnya dan telah ditentukan pula waktu wafatnya. Saya jadi sadar bagaimana susahnya hidup di daerah yang untuk mendapatkan sinyal handphone-nya saja kita harus berjuang mati-matian manjat pohon yang tinggi atau mendaki bukit/gunung yang tinggi dulu untuk mendapatkan sang gadis yang bernama sinyal.

Saya adalah alumni SM3T angkatan ke-2 skala nasional dan angkatan ke-1 untuk skala provinsi Aceh. Berkat doa kedua orang tua dan juga doa teman-teman saya yang baik hati, saya akhirnya ditempatkan di salah satu daerah 3T yang terindah di dunia (menurut saya), yaitu di Kepri, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Anambas. Waktu itu kami yang berasal dari Aceh, LPTK Unsyiah, dengan jumlah peserta SM3T sebanyak 301. Dari 301 peserta itu kami akhirnya “dibuang” di tiga provinsi yang ada di Indonesia yaitu, Kepulauan Riau (Kabupaten Kepulauan Anambas), Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Barat. Sebanyak 126 orang di tempatkan di Kabupaten Kepulauan Anambas. Selebihnya “dibuang” di NTT dan Kalbar.

Saya tidak pernah bermimpi untuk hadir di daerah 3T, Kabupaten Kepulauan Anambas. Karena sewaktu saya lulus tes perekrutan SM3T, yang saya tanamkan di dalam benak saya adalah selama satu tahun ke depan saya akan berada di daerah ekstrem. Saya akan berada di daerah yang serba kekurangan. Itulah yang saya tanamkan dalam benak saya. Intinya, pada waktu itu, saya bertekad di mana pun saya ditempatkan untuk mencerdaskan anak negeri saya siap 1000 persen! Ternyata Tuhan menempatkan saya di daerah yang sangat indah meskipun daerah itu digolongkan ke dalam daerah 3T.

Akhirnya, kami yang berjumlah 126 orang itu disebar di beberapa pulau (yang sudah ditentukan oleh dinas pendidikan) yang ada di Kabupaten Kepulauan Anambas. Ada yang mengajar di SD, SMP, SMA, dan juga SMK. Setelah melihat nama-nama yang tertera di atas kertas yang dibagikan oleh pihak dinas setempat, ternyata saya ditempatkan di sebuah SMA yang ada di pulau Palmatak, desa Tebang. SMAN 1 Palmatak namanya. Di pulau Palmatak kami berjumlah 26 orang dengan tempat tugas yang berbeda-beda. Mulai dari SD, SMP, SMA, dan MTs, hingga MA.

Masing-masing kami yang ditempatkan di Pulau Palmatak punya cerita tersendiri, baik itu tentang sekolahnya maupun tentang tempat tinggalnya. Cerita teman saya yang penempatan di Mts akan berbeda dengan cerita teman saya yang bertugas di SMP dan tentunya akan berbeda lagi dengan teman-teman saya yang menjalankan tugas di SD. Begitu juga kisah saya yang berada di SMA akan berbeda dengan kisah yang dialami oleh teman-teman saya yang bertugas di MA (Madrasah Aliyah) baik itu kisah tentang sekolah mereka maupun kisah tentang tempat tingal mereka. 

Sekali waktu saya bersama teman bernama T Andizal−Guru Olahraga yang mengajar di salah satu SD di Pulau Air Asuk−berkunjung ke kediaman Ade Fauzi, Yudi, dan Sarwo Edi di MA. Mereka tinggal di rumah dinas milik sekolah. Kediaman mereka tinggal memang sedikit angker. Di depan dan samping rumah dinas terhampar ilalang setinggi bahu orang dewasa dan tumbuh di atas rawa-rawa. Di belakang rumah mereka pohon-pohon rumbia tumbuh subur. Bila malam tiba suasana sungguh sangat hening. Mencekam. Hanya ada suara kodok bersahut-sahutan bernyanyi. Sesekali diiringi suara jangkrik malas dan juga suara cacing tanah yang sedang “eh-oh” dengan kekasihnya. Sore hari bila kita beruntung maka akan terlihat seekor biawak yang ukurannya cukup besar dengan lidah menjulur-julur keluar. Lain lagi cerita bila pagi menyapa. Bila pagi menjelma telinga kita akan sedikit bahagia karena dari balik semak rawa-rawa itu akan terdengar bermacam-macam kicauan burung. Tentang makhluk halus yang bernama hantu itu jangan ditanya lagi, mereka bertiga itu sudah kebal dengan gangguannya.

Dalam kunjungan kali itu, kami memang berniat untuk bermalam di kediaman mereka. Petang menjelang. Kami pun pergi mandi bersama. Ade Fauzi−guru Olahraga−membawa kami ke sumur yang tak jauh dari rumah mereka tinggal. Kala itu Sarwo Edi−guru yang mengajar mata pelajaran Kimia− dan Yudi−guru Matematika−sudah selesai mandi. Sepanjang perjalanan menuju sumur, kulihat Ade Fauzi membawa serta saringan teh yang diambil dari kantor sekolah. Barang aneh yang dipegang oleh Ade Fauzi menarik perhatianku dan juga T Andizal.

“Untuk apa kamu bawa saringan teh sekolah ke sumur, Ade?” tanyaku.

“Mmm … ini akan kamu perlukan nantinya,” jawab Ade Fauzi santai.

Penjelasan Ade Fauzi cukup singkat. Lantas aku dan T Andizal pun saling memandang. Kami tiba di sumur. Ade Fauzi langsung buka baju. Basahannya hanyalah celana bola berlambang Realmadrid. Peralatan mandi serta saringan teh di taruh di tempat yang tak jauh dari sumur. Ia langsung menimba air dan menyirami tubuhnya. Sudah lima timba air menyirami tubuhnya. Aku dan T Andizal masih buka baju, buka celana. Sebagai basahannya kami hanya memakai celana dalam saja, karena di tempat itu kupastikan tidak ada seorang gadis pun yang melintas karena sumurnya dikelilingi dengan ilalang. Hihihi.

Ketika aku dan T Andizal bersiap-siap untuk menimba air, kulihatlah Ade Fauzi menuangkan air yang ditimbanya ke dalam ember besar yang ada di dekat sumur. Saat itulah pertanyaan mengapa Ade Fauzi membawa saringan teh ke sumur dengan sendirinya terjawab. Di dalam ember besar itu, kulihatlah berpuluh-puluh kecebong kecil-kecil imut dan menggemaskan. Mereka hitam berekor. Berenang dan saling kejar-kejaran mengelilingi ember. Aku dan T Andizal saling berpandangan lalu tersenyum-senyum.

“O, Potallah na jih (kecebong) lagoe lam mon nyoe,” ujar T Andizal seraya melihat lebih dekat lagi sumur yang airnya akan ditimba sebentar lagi. (Ya Allah, ada kecebong rupanya di dalam sumur ini).

Ade Fauzi mulai beraksi. Saringan teh mulai ia tugaskan untuk menjaring kecebong-kecebong yang ada di dalam ember itu. Aku suka apa yang baru saja dilakukan oleh Ade Fauzi. Kuambil saringan teh dari tangan Ade Fauzi, lalu mulailah kejahilanku beraksi menjaring kecebong-kecebong yang tak berdosa itu yang ada di dalam ember.

Kini aku asyik menjaring kecebong yang ada di dalam ember. T Andizal mulai menyirami tubuhnya.

“Andi, nyan bak get-get bek sampe ditamong aneuk abik-abik (kecebong) lam babah. Aneuk abik-abik nyan meugigoe, bak get-get, bek sampe dikap “dek gam” kah yang lam sempak nyan,” ucapku sambil tertawa terbahak-bahak. (Andi, hati-hati jangan sampai kecebong itu masuk ke dalam mulutmu. Kecebong itu bergigi, hati-hati, jangan sampai digigit “burungmu” itu).

Mendengar itu, Ade Fauzi juga turut tertawa bersamaku. Aku semakin asyik menjaring kecebong-kecebong yang ada di dalam ember itu. Sifat kekanak-kanakanku pun muncul; sambil menjaring kecebong-kecebong itu, aku berbicara dengan kecebong-kecebong yang ada di dalam ember itu. Hihihi.

“Ayooo, kecebooong, selamatkan diri kalian, pukat harimau sudah mendekati kalian ini. Mereka akan menjaringmu,”ucapku sambil memainkan saringan teh itu di dalam ember.

Air di dalam ember kini telah steril dari kecebong. Melihat itu, aku, Ade Fauzi, dan juga T Andizal segera menggosok gigi. Setelah selesai, Ade Fauzi langsung membilas tubuhnya untuk yang terakhir dengan air di dalam ember yang telah bersih dari kecebong itu. Begitu juga dengan T Andizal.

“Airnya jangan dihabiskan. Tinggalkan juga buat aku untuk bilasan terakhir,” ucapku pada mereka.

Akhirnya, kami bertiga pun selesai mandi sore itu. Seperti biasa, setelah selesai mandi kami pun “bersolek” meskipun mandi bareng para kecebong. Ketampanan mesti tetap dijaga meskipun sebelumnya kami mandi bersamaan dengan para kecebong. Apalagi gadis-gadis yang ada di pulau itu pun ramai yang tertarik pada kami. Kata mereka bapak-bapak Aceh banyak yang ganteng dan manis-manis.

Itulah sepotong kisahku dan teman-teman selama berada di daerah penugasan. Untuk itu, bagi kamu anak muda yang punya jiwa petualang, ikutlah SM3T. Selain bertugas mendidik dan mencerdaskan anak bangsa, mana tahu di daerah penempatanmu kelak kamu punya cerita mandi bareng biawak, mandi bareng merpati, atau mandi bareng penguin. Mana tahu ya kan?! Maka dari itu, sekali lagi, ikutlah program hebat ini biar kamu tahu luasnya tanah Indonesia. Biar kamu tahu suku adat dan budaya yang ada di tanah Indonesia. Biar kamu semakin cinta dengan gadis yang bernama INDONESIA.***



                                    -Ditulis setelah mandi bareng kecebong di Tanah Anambas   



 oleh: Azmi Labohaji


Berani share??? Hebat!!!   

Monday, 27 April 2015

[Bukan] Surat [Cinta] buat Kira




Kira tertariknya aku padamu itu bermula dari segenap keanggunan yang kaumiliki. Keanggunanmu itu terpancar terang lewat potret-potret yang kauunggah melalui media sosial yang bernama facebook. Aku menilai keanggunan yang kaumiliki itu sungguh sempurna karena ia dibalut dalam kesahajaan yang tak dimiliki oleh gadis-gadis lain. Aku sangat menyukai itu. Sungguh!

Kemudian genap hari dan genap malam sebelum aku meninggalkan Kuta Raja bersebab karena studiku telah habis masa, hari-hari dan malam-malam aku terus dihantui oleh bayang keanggunan dan kesahajaanmu itu. Aku tak kuasa melawan bayang itu untuk tidak menghantuiku lagi. Ia seperti udara yang membelaiku kapan ia mau dan tak kenal waktu. Seperti nyamuk yang selalu ingin mencintai tubuhku saban malam. Bagai matahari yang tiada memilih kasih untuk menerangi bumi. Aku ingin mengumpamakan lagi keanggunan Kira. Keanggunan yang dibungkus kesahajaan pada Kira adalah kelangkaan seumpama batu akik mulia yang bernama indocrase yang semua orang berhasrat tinggi untuk memilikinya. Sebagaimana indocrase yang tersembunyi jauh di dalam bebatuan dan bersemayam di pegunungan Nagan Raya, Kira pun tersembunyi jauh dalam likuk-likuk tempat yang teramat damai di desa di tepian Kuta Raja. 

Tentu semua orang bertanya-tanya dan ingin tahu di mana pula aku menemukan Kira yang seumpama indocrase itu??? Yang jelas aku bukan menemukannya di Nagan Raya dan bukan jua di desa tempat ia bersemayam saban waktu. Aku menemukannya pada gedung megah pencetak guru, FKIP namanya. Selanjutnya, kutelusuri lebih jauh ia lewat dunia maya. Ya, seperti itulah rupa keanggunan dan kesajahaan, Kira. Sungguh dahsyat, bukan??? Lalu aku bertanya pada angin saat aku sendirian, lelaki mana yang tak menginginkan keanggunan yang dibalut kesahajaanmu itu, Kira?

Pada subuh sebelum matahari terbangun dari lelapnya, tepatnya selepas aku menyembah Sang Pencipta, keanggunanmu itu semakin menggila meraung-raung dan mengaduk-aduk dadaku yang di dalamnya ada segumpal daging yang bernama hati. Jujur aku tak kuasa menahan itu! Musabab tak tahannya aku akan raungan dan adukan ngeri itu, lalu dengan penuh kesadaraan aku menghubungimu yang kala itu kau masih memeluk erat bantal panjang kesayanganmu. Kau pun terjaga karena raungan handphone yang terus memainkan nada deringnya  pertanda ada sebuah panggilan masuk. Ya, itu aku!

Dari balik handphone aku mendengar suaramu yang baru saja terjaga. Aku tahu kala itu kau belum bersih untuk menghadap Tuhan maka aku pun tak menanyakan perkara apakah kau telah selesai shalat atau belum. Sebagai pengantar dalam pembicaraan pagi itu sebelum kuutarakan isi hati, aku pun bertanya banyak hal padamu; tentang mimpi malammu, tentang jumlah nyamuk yang telah berhasil mencumbui tubuhmu lewat jarumnya nan maharuncing, juga tentang kabar hatimu pada pagi itu. Lantas kau pun menjawabnya seperti air mengalir dengan suara merdu yang kaumiliki. Kemudian pada menit yang tak kutahu lagi, kita pun sama-sama terdiam untuk durasi waktu yang singkat. Memecah keheningan pagi itu, kau pun bertanya padaku apakah aku telah selesai melaksanakan perintah Tuhan. Aku pun menjawab sudah kulakukan. 

Selepas kau tanyakan perkara itu padaku, kita kembali membisu. Hanya deru angin pagi yang terdengar dari balik handphone. Kali ini dengan segenap keberanian, sambil membenarkan letak kopiah dan kain sarung, aku pun langsung mengutarakan isi hati itu. Langsung kukatakan padamu bahwa setelah beberapa hari aku melihat gerak-gerikmu lewat potret di facebook, lewat pertemuan kita di kantin di atas kolam ikan FKIP, dan juga pada saat kita bersama menikmati angin senja di sebuah tempat di sudut Ulee Lheue yang bernama Kuala Cangkoi, aku nyatakan bahwa aku memiliki rasa atas dirimu. Ya, aku jatuh hati padamu!

Saat kuutarakan kata itu kau terdiam membisu seolah-olah tak percaya akan kata yang baru saja aku muntahkan dari mulutku. Saat kuucapkan kata-kata itu seolah-olah kau merasa dirimu masih dalam buaian mimpi. Aku kembali mengulang kata-kata itu. Ya, sungguh aku menyukaimu, Kira! Kau tak sedang bermimpi aku juga demikian. Kuutarakan kata-kata ini dengan penuh kesadaran yang kumiliki di awal pagi ini. 

Kemudian kau kembali bersuara lewat handphone setelah beberapa saat terdiam mencari jawaban atas ucapanku itu. Seketika itu juga kau balas ucapan hatiku dengan sejumlah alasan yang kata-katanya tertata rapi, penuh makna, dengan tujuan meyakinkanku. Singkatnya, pagi itu kau belum menerima rasa yang kumiliki ini!

Aku lantas tak langsung patah hati atas ucapanmu pada pagi itu. Alasannya ialah karena jauh sebelum aku mengagumi keanggunanmu itu, aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa setelah berpisah dengan perempuan yang lahir di bulan Juni itu, aku takkan melangsungkan percintaan (baca: pacaran) lagi dengan segenap gadis. Bila telah tiba waktunya sesuai perjanjian Tuhan denganku, tentunya saat aku sudah matang secara mental dan finansial, aku akan segera menikahi tulang rusukku (baca: jodoh) itu dan menjadikannya pendamping hidup. Namun, keanggunanmu mengalihkan duniaku dan menghancurkan perjanjian yang telah kubuat antara diriku dengan hatiku!

Pada hari yang tak terhitung lagi, aku masih menghubungimu lewat handphone, media sosial (BBM, facebook), sekedar bertanya kabar, menanyakan makan siang, makan malam, sarapan pagimu, dan juga menanyakan kabar tentang hatimu. Ah, itu kulakukan tanpa ada maksud agar kau menerima rasa itu. Itu terus terjadi seiring waktu hingga tiba pada sekali waktu aku yang sedang membawa segenap rombongan (teman-teman PPG; Sayed Munandar, Diba Rizki ‘Jersey’, Zal ‘Bg’, Pak Sem KW, Bang Mustaqim, Abi Khalifah, Zaldi ‘selalu cot iri-selalu cot iri’, Ali Yuzar ‘the Gunner’, Adun Mustafa Karo-Karo, yang berwisata ke daerah yang sangat terkenal di Aceh yakni Aceh Selatan. Sekedar informasi mereka ingin melihat tapak kaki terbesar di dunia peninggalan orang Alim, Tuanku Tapa, yang ada di Tapaktuan) mendapat pesan singkat darimu yang mana di dalam pesan tersebut kau menyapaku dengan sapaan yang ada unsur kata ‘sayang’-nya. Aku terkejut. Merasa tak percaya, kubaca pesan singkat itu dengan amat pelan kata per kata hingga dua puluh kali. Baru kemudian aku percaya ini benar pesan singkat darimu. Sepanjang perjalanan itu aku tersenyum seorang diri di belakang Pak Sem dan berteriak-teriak kencang bila hatiku kegirangan.

Setelah hari berganti  minggu. Minggu berganti bulan. Kita masih saja bertanya kabar seperti biasa dan juga menggunakan sapaan seperti yang kusebutkan di atas. Namun, semenjak aku terbaring lemah bersebab kepalaku sakit teramat sangat, sejak itu pula aku tak lagi mendengar kabar tentangmu. Manjaan terakhir darimu yang masih kuingat hanyalah seuntai kalimat yang berisi perintah, “Sudah, minum obat sana biar kepalanya ngak sakit lagi, Abang.” Aku hanya mengiyakannya saja, tetapi obat yang kuanggap racun hasil racikan orang-orang ahli itu tak juga kutengak.

Aku seperti kehilangan Kira, tetapi batinku sendiri seperti tak merasakan kehilangannnya. Sungguh aneh diriku, bukan? Ah, entahlah aku memang tak mendapatkan kabar lagi darinya. Entah ia dibawa oleh angin yang menyejukkan hingga ia terbuai jauh dan larut dalam pelukannya, entah ia ditelan bumi yang tak kutahu belahan bumi mana yang telah menelannya, atau entah ia telah terjatuh dalam lubang yang di dalamnya ada sebentuk hati yang dipenuhi dengan segenap kenyamanan, kedamaian, dan juga cinta, pada sesosok adam! Wallahu’alam. Pesanku, Kira semoga kau baik-baik saja dan sehat-sehat saja meskipun di belahan bumi mana pun kau berada. 

Bila pun kau telah terjatuh dalam hati sesosok adam seperti yang kulukiskan di atas, semoga kau bahagia dan tentunya aman nyaman sejahtera bersamanya. Di samping itu, aku pun berharap semoga kau memberikan hati dan segenap keanggunanmu yang dibalut kesahajaan itu pada lelaki yang tepat! Aku akan selalu mengenangmu, Kira. Dan untuk merindukanmu, aku pikir itu sama seperti membuang-buang waktu pada hal yang percuma. Aku berkata demikian karena di balik semua ini ternyata ada sesosok bidadari kecil yang telah bertahun-tahun mengharapkan rinduku ini! Salam hangat teruntuk Kira(ku) dari lelaki yang mengagumi keanggunanmu. *** 

======>Boleh dishare buat yang lain.

Tuesday, 3 March 2015

Bidadari Tuhan yang Jatuh di Kandang Ayamku



Satu tahun selepas menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru di universitas ternama di Aceh, saat itu aku mulai memutuskan untuk menjalani profesi tambahan yaitu menjadi seorang peternak ayam yang sukses. Untuk menjalani profesi tersebut agar menuai hasil sukses, aku mencari banyak referensi dari berbagai sumber dan juga pawang-pawang ayam. Referensi itu sangat aku butuhkan. Tujuannya agar aku mahfum bagaimana cara merawat ayam yang baik, mendidik anak ayam agar ia tumbuh dengan sempurna, hingga tentang tata cara bagaimana mengawinkan (baca: jatuh cinta) ayam kampung dengan ayam Siam yang katanya cool dan memiliki harga jual yang tinggi.  Setengah tahun mempelajari tentang seluk beluk hewan yang bertanduk di kaki itu, akhirnya apa yang aku impikan tercapai. 

Kini ayam-ayamku telah banyak dan hasil jerih payah atas menernak hewan yang bertanduk di kaki itu sebentar lagi akan terbayar. Bila kurincikan seperti ini; ayam jantan sebanyak 300 ekor, ayam dara sebanyak 350 ekor (ada yang sedang bertelur, yang tengah mengeram telur, yang hampir bertelur, dan yang sedang mencari si jantan untuk kawin dengannya), ayam betina (ma manok) sebanyak 250 ekor, dan anak ayam sebanyak 500 ekor. Kali ini aku akan memanen mereka di saat yang sangat tepat karena sebulan lagi bulan puasa tiba. Bila bulan puasa telah tiba, tentu kebutuhan masyarakat akan ayam sangat tinggi, apalagi ayam kampung. Nah, setelah kukalkulasikan dengan menjual ayam jantan sekian ekor, ayam dara sekian ekor, ma manok sekian ekor, dan anak ayam sekian ekor (jumlah ayam yang akan kujual sengaja aku rahasiakan biar kalian tidak tahu berapa rupiah yang aku dapatkan) aku akan mendapatkan uang yang lumayan menyenangkan buat lebaran kelak. 

Akhirnya, ramadhan memasuki hari ke lima belas. Kesenangku atas ayam-ayamku semakin tak terbendung. Kuhabiskan hari-hariku selepas subuh hingga waktu berbuka bersama ayam-ayamku. Kebetulan saat bulan puasa aku libur mengajar. Di area peternakan ayamku itu aku mulai me-list ayam jantan, ayam betina, ayam dara, dan anak-anak ayam yang mana akan kujual pada masyarakat dan agen saat ramadhan memasuki hari keduapuluh delapan. Mendengar keriuhan suara ayam; yang berkokok, yang merepet karena baru siap bertelur, yang berteriak karena dikejar jantan untuk diajak kawin, dan suara-suara ayam lainnya, bagiku memiliki kesenangan tersendiri. 

Ramadhan memasuki hari kedua puluh tujuh. Aku belum sekejap pun memejamkan mata. Sejak berbuka puasa hingga subuh tiba, aku menghabiskan waktu di mesjid, tadarus bersama pemuda-pemuda kampung (sekedar informasi: saat tadarus kata kawan-kawanku di kampung, aku memiliki suara dan irama yang merdu). Pada pukul 14.00 WIB selepas pulang membelikan tepung terigu buat Emakku yang akan membuat kue bhoi untuk sajian para tetamu saat lebaran nanti aku tertidur sejenak. Tepat pukul 15.00 WIB Emak mengguncang-guncang tubuhku. Saat aku membuka mata, raut wajah Emakku terlihat panik. 

“Ka beudoh bagah, Ajimi, jeh manok-manok kah ka habeh  diklik-klik, kadang cit na muruwa yang ka jitamong dalam eumpung manok,” ucap Emakku dan kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaannya membuat kue Bhoi. 

Aku segera bangun dan berlari ke area peternakan ayam. Saat kubuka pintu gerbang masuk ke area perternakan ayam, ayam-ayamku mengejarku. Aku tak tahu maksud mereka apa sehingga mereka berkerumun mengelilingiku, apakah ingin memberi tahu sesuatu atau ingin melindungi diri dari sesuatu. 

Ayam-ayam terus berdatangan ke arahku. Kali ini, di paruh mereka ada bulu-bulu putih yang begitu lembut. Kuperhatikan lekat-lekat ayam-ayamku itu dan bulu-bulu yang ada di paruh mereka. Mereka tak memakannya. Saat ayam-ayam tersebut tiba di dekatku mereka menjatuhkan bulu-bulu tersebut tepat di hadapanku. Begitu seterusnya hingga di hadapanku kini telah ada tumpukan bulu-bulu putih yang begitu lembut dan menawan. 

Aku semakin penasaran. Untuk menjawab rasa penasaranku ini, kutelusurilah asal mula bulu-bulu putih lembut tersebut. Saat aku hampir tiba di kandang utama—di belakang kandang utama itu tumbuh sebatang mawar putih yang berdekatan dengan sebatang pohon kuini yang besar—kulihat Mando (nama ayam jantan kesayanganku) itu tengah mengambil ancang-ancang hendak menyerang sesuatu. Aku takut-takut suka untuk melihat apa benda yang hendak dihajar Mando. Dengan kejantanan dan kegarangan yang ia miliki, Mando akhirnya menyerang sesuatu yang ada di hadapannya itu. 

Aku akhirnya memberanikan diri untuk melihat sesuatu yang dihajar Mando. Ah, aku langsung terkejut dengan wajah melotot dan mulut menganga. Ternyata yang kudapati adalah seorang gadis mahacantik yang tengah merintih kesakitan dengan tangan memegang mawar putih dan Mando menghajarnya tanpa ampun. 

Aku masih berdiam diri di tempat dan tak membantunya sama sekali. Aku masih berpikir bahwa gadis yang ada di depanku ini manusia atau bukan. Dan Mando semakin garang menghajarnya. Beberapa menit kemudian, gadis mahacantik itu mengulurkan tangan mahaputihnya itu yang tengah menggenggam mawar putih. Ada nada iba memohon darinya. 

Aku langsung mengusir Mando. Mando berhenti menyerang. Aku dengan takut-takut suka mencoba memegang tangannya secara perlahan-lahan. Pertama yang kuambil adalah mawar putih itu baru kemudian aku memegang tanggannya. Saat persentuhan pertama terjadi aku merasakann kelembutan kulit telapak tangannya yang mahalembut. Sedikit demi sedikit rasa takutku mulai sirna. Aku mencoba membangunkannya perlahan-lahan. Saat itu juga rasa takutku melarikan diri dan selama proses membangunkannya itu mataku sama sekali tak berkedip! Aku berhasil membangunkannya. Saat itu aku seperti tak sadar diri ketika berdekatan dengan gadis yang mahacantik dan mahaputih itu. 

Tiba-tiba rasa takutku kembali menghampiri. Gadis nan mahacantik itu mendekatkan wajahnya ke telinganku. Dengan keadaan jiwa takut-takut suka aku membiarkan dirinya mendekatkan wajahnya ke telingaku. Di sana ia berbisik dengan suara yang mahamerdu.

“Terima kasih telah menyelamatkanku. Aku bidadari Tuhan yang jatuh dari surga!” bisiknya begitu lembut.

Aku langsung menatapnya semakin melotot. Dengan mulut membentuk huruf O, aku melepaskan pegangan tangannya. Keadaan jiwaku saat ia mengutarakan bahwa ia adalah Bidadari Tuhan yang jatuh dari surga, antara percaya dan tidak percaya, antara kagum dan takut. Lalu, untuk membuktikan bahwa aku tidak sedang bermimpi, aku pun meninggalkan gadis nan mahacantik itu untuk sesaat.

“Mmm…Bidadari Tuhan, kamu tunggu di sini sebentar,” aku menyerahkan kembali mawar putih padanya. Seketika itu juga ia tersenyum padaku seraya memejamkan matanya begitu lembut dan mencium mawar pemberianku itu dengan penuh penjiwaan. 

Aku menuju kandang ayam. Sesampai di sana, aku mencari ayam yang tengah mengeram telurnya. Lalu dengan penuh kepasrahan, kuganggu ayam yang tengah mengeram tersebut dengan cara memasukkan tangan ke telur yang tengah ia erami. Saat itu juga sang ayam yang tengah memanasi telurnya itu mematuk tanganku dengan kuat. 

“Auu … sakit,” ucapku. Berarti aku sedang tak bermimpi. Namun, aku masih belum puas. Sekarang kuganggu pula ayam yang tengah mencakar-cakar tanah sembari bermain dengan anak-anaknya yang masih bayi. Aku sengaja mengganggunya. Kuulurkan tanganku. Dengan cekatan sang ayam yang tengah memanjakan bayi-bayinya itu meng-kelapuh (menghajar) ku. Aku kembali kesakitan dengan amat sangat kali ini. 

 Bidadari Tuhan tersenyum ria melihatku kesakitan akibat dihajar ayam-ayamku sendiri. Aku kembali lagi padanya. Aku kini berada tepat di hadapannya. Saat itu sang Bidadari Tuhan tersenyum tersipu malu padaku. Aku mematung hebat menikmati keindahan dan kecantikan yang ia miliki itu. Sungguh kecantikan yang tiada tandingannya! Aku sungguh tak mampu menggambarkan kecantikannya itu dengan kata-kataku. Bila terlalu kupaksakan melukiskan keindahannya itu maka ia tak terlukis seperti bidadari. 

Cantiknya sungguh sempurna. Sungguh sempurna cantiknya bila kuumpamakan kecantikannya adalah kumpulan dari segenap kecantikan-kecantikan perempuan yang ada di dunia ini (misal, bila kita ambil kecantikan Laila—gadis dalam cerita Laila Majnun, kecantikan Yusniar, Refalina S Tomat, Anjelina Jolie, kecantikan Bunda Illiza—walikota Banda Aceh,  kecantikan  Tata Citata—penyanyi dangdut “Sakitnya tu Di sini”, kecantikan Ralinesyah—aktris iklan White Coffee, kecantikan Nurul Fitri—mahasiswa PPG Unsyiah jurusan Biologi, dan kecantikan-kecantikan perempuan lainnya yang ada di dunia ini) bila disatukan, maka seperti itulah cantiknya bidadari yang jatuh di kandang ayamku itu. Mampukah kau membayangkannya???

Kini aku telah benar-benar percaya bahwa ia adalah Bidadari Tuhan yang jatuh dari surga. Aku kembali meraih tangannya dengan tujuan ingin menuntunnya berjalan tetapi seketika itu juga terpikir olehku bahwa harus kubawa ke mana si bidadari ini? Ke rumah? Tidak mungkin. Jika kupaksakan bawa ke rumah, Emak akan syok saat melihat wajahnya nana mat cantik ini. Bila Emak kembali bertanya anak siapa dia dan dari mana asalnya, harus kujawab apa nanti??? Haruskah kujawab bahwa gadis ini adalah Bidadari Tuhan yang jatuh dari surga dan dikirim khusus buatku? Ah, itu tentu jawaban yang sangat konyol dan aku tentu akan mendapatkan cemoohan yang sangat menyakitkan dari Emak. 

Pasti Emak akan berucap seperti ini. “That teuga kameulumpoe. Njoe bak sang efek karena gohlom kameukawen!!!!” 

Saat Emak berucap seperti itu, aku sudah sangat hafal bagaimana raut wajah Emak yang mengejekku dan juga raut wajah adik perempuanku. Ah, tentu mereka takkan percaya. 

Sekejap kemudian, terlintas di pikiranku untuk memasukkan si bidadari di rumah Aceh milik nenekku yang tidak ditinggali lagi dan bersebelahan dengan pekarangan kandang ayamku. Aku langsung mengajaknya ke rumah tersebut. Ketika tanganku menyentuh punggungnya untuk mengajaknya berjalan menuju rumah Aceh itu, aku merasakan cairan yang begitu dingin menyentuh telapak tanganku. Dinginnya sedingin es di dalam kulkas milik Emak. Aku langsung melihat telapak tanganku. Ternyata cairan dingin yang menyentuh tanganku itu adalah darah yang mengalir di punggung sang bidadari. 

“Punggungmu berdarah,,” ucapku. 

“Ia, saat aku jatuh, aku tersangkut di pohon besar itu,” jawab sang bidadari dan mengarahkan telunjuknya ke dahan pohon kuini di mana telah tersangkut sepasang sayap berbulu putih lembut miliknya itu. 

Aku harus segera mengambil sayap-sayap itu sebelum orang-orang melihatnya. Tapi itu akan kulakukan nanti setelah sang bidadari benar-benar telah berada di dalam rumah Aceh. Aku kembali mengajaknya untuk berjalan menuju rumah Aceh.  Saat ia melangkahkan kakinya, secara tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan, ia terkulai lemas dan rebah . . . . . . . . . . . .  (BERSAMB

→ SEMOGA YANG SHARE TULISAN INI DAPAT JODOH BIDADARI DARI SURGA :-) 


Wednesday, 18 February 2015

Mengapa Kau Delcon Aku?



Kisah ini bermula saat seorang gadis yang sudah kukenal amat dekat mengiriku sebuah pesan singkat lewat Blackberry Mesangger.

“Lagi di mana?”

“Lagi di kebun,” balasku, padahal tubuhku sedang berguling-guling di atas kasur. 

“Oh, kukira lagi di gorengan Apakir.”

“Oh, ngak. Kenapa?” tanyaku.

Lama setelah itu baru kemudian seseorang yang kunamai “Salju” itu membalasnya. 

“Ngak kenapa-kenapa.” 

Dari balasan pesan tersebut lalu aku mencoba menganalisis jenis pilihan kata dan karakter tulisannya. Lantas aku menerka-nerka dalam hati dengan tingkat kebenaran masih nol persen. Ini pasti bukan si salju yang membalasnya! Ingin membenarkan terkaan tersebut, aku pun kembali bertanya padanya.

“Ini calon suaminya, ya?”

Sesaat kemudian, handphoneku kembali bergetar. Sebuah pesan BBM dari si Salju. 

“Ia, kenapa?”

Aku langsung merasa risih tatkala membaca untaian kata yang terukir rapi di atas layar handphoneku itu. Kerisihan tersebut mengajak seluruh tubuhku untuk tidak lagi berguling-guling di atas kasur. Aku harus berbuat sesuatu untuk mengatasi permasalahan yang mungkin bisa berakibat fatal kelaknya. 

Dalam keadaan jiwa yang sedang serius stadium empat, benda kecil yang ada di tanganku kembali bergetar. Kupicingkan mataku lagi-lagi mataku mendapati untaian kata dari si Salju. Pesan yang masuk masih dalam bentuk kalimat yang sama hanya saja ada satu penambahan suku kata yaitu namaku.

“Ia, kenapa Azmi?”

Mulutku langsung membeo slogan yang selalu dikumandangkan oleh temanku yang berasal dari jurusan Kimia itu. Pak Sem. Kami memanggilnya Sem KW. 

“Omak, panik aku!”

Jemariku masih berdiam manis di atas layar handphone. Ia sedang menunggu perintah untuk menekan tombol huruf yang sedari tadi sudah siap untuk dicumbui. Sejurus kemudian dalam keadaan masih sadar aku pun memerintahkan ujung jemariku untuk mencumbui setiap tombol huruf yang ada di layar handphone. 

“Oh, maaf sudah mengganggu!” aku selesai mengetiknya dan mengirimnya. 

Setelah kupastikan kata-kata tersebut terkirim dengan selamat dan masuk ke dalam handphone si Salju, aku dengan sabar menunggu sebuah lambang “D” yang tertera di sudut kiri layar handphoneku menjadi “R” (tentu kalian tahu apa arti lambang “D” dan “R” tersebut).

Akhirnya, lambang tersebut berubah menjadi “R”. Itu artinya pesanku terkirim dengan selamat dan masuk ke dalam handphonenya dengan terhormat. Lalu tak ingin berlama-lama lagi dan masih berada di dalam aplikasi BBM, aku menuju pada opsi kontak. Di sana kucari nama si Salju. Setelah kutemukan, tepat di atas namanya, kutahan jariku hingga di layar handphoneku muncul pilihan “Delete Contact”. Tanpa berpikir lama dan mengucapkan bismillah, jemariku pun menyentuh kolom yang bertulisan “YES”. 

Sekejap kemudian hilanglah nama si Salju dari handphoneku. Aku tak tahu ia hilang kemana, entah dibawa angin manja, entah dibawa malaikat menuju ke suatu tempat, yang jelas kini aku tak lagi mengusik si Salju karena aku tak lagi memiliki nomor unik BBM-nya itu yang bernama PIN. 
-------
Kamis, 12 Februari 2015
Kejahilanku kembali lahir saat aku menemukan nomor telponnya lewat seorang temanku yang hampir mirip Teuku Wisnu. Pada siang yang terang benderang itu aku kembali menghubungi si Salju yang telah lama kutinggalkan. Kali ini aku menelponnya, tak lagi memberinya kabar lewat pesan singkat.  Sebagai salam pembuka karena telah lama tak berkabar-ria hanya bersitatap lewat hati saja, kuawalilah kalimat percakapan siang itu dengan mengatakan padanya bahwa ada yang rindu dengan kata “Tarrraaammm”.

Dari balik telpon ia marah sedang—bukan marah besar—kala aku melafazkan kalimat tersebut. Tapi aku menanggapinya dengan sangat santai karena aku tahu bahwa marahnya kali ini adalah sebentuk marah yang ada unsur rindu di dalamnya. Tentu aku sangat menikmati marah yang seperti ini!   

Bila kalian membaca kisah ini tentu kalian akan bertanya mengapa dicari kembali sesuatu yang telah didelete itu? Jawabannya termuat dalam percakapan yang berdurasi selama 60 menit 30detik di siang itu. Semuanya terkuak di sana. Apa, mengapa, kok bisa, semuanya terjawab.  

Pada percakapan yang berdurasi satu jam lebih itu si Salju berkisah panjang lebar. Aku mendengar dengan khidmat ia berkisah seraya menikmati alunan suara yang begitu lama telah kurindu. Aku sungguh-sungguh menyimaknya layak Marsha yang mendengar si Bear yang membacakan dongeng dalam film kartun Marsha and The Bear itu. 

“Tentang balasan hari itu sebenarnya yang membalas pesan tersebut adalah diriku. Bukan calon suamiku!” ucapnya.

“Sebenarnya aku kesal padamu. Sekarang kukatakan padamu bahwa sesuatu yang berbentuk persegi dan sering berada di tangan orang-orang, mereka menyebutnya handphone, tak pernah kuberikan pada orang lain. Itu privasi.”

Aku terdiam seraya menyimaknya dengan khusyuk. 

“Aku tak pernah menyerahkan benda kecil itu pada orang lain! Dan kau tahu, sebenarnya yang membalas pesan itu adalah diriku sendiri. Namun, saat itu kau sudah terburu-buru menghapusku dari handphone-mu jadi aku tak sempat mengirimimu penjelasan tersebut.”

Aku lega mendengar penjelasan darinya. Tiba-tiba pikiranku teringat akan sebuah film yang sarat kisah romantik, yaitu Romie and Juliete. Sang lelaki terlalu terburu-buru meneguk racun yang mematikan saat melihat kekasihnya yang telah terbujur di atas dipan. Padahal sang kekasih hanya terlelap saja. Aku mungkin hampir mirip seperti si Romie itu yang terlalu terburu-buru mendelete PIN seseorang yang amat baik itu, padahal ia sama sekali tak menginginkan hal itu terjadi. 

Setelah penjelasan panjang lebar itu, akhirnya aku kembali berbicara dengannya dengan leluasa. Kali ini dalam pembicaraan yang topiknya bagai gado-gado (alias topik yang tidak jelas) aku dengan sangat bahagia menikmati suaranya, tawanya, dan kesahajaannya itu. Siang itu aku sungguh bahagia. Selain itu, kebahagiaanku ternyata juga tertular menjalari jiwa seorang sahabatku bernama Ozy. Ia bahagia karena menikmati aku yang berkata-kata dengan si Salju dengan bahasa yang sungguh mendayu-dayu bak pujangga yang tengah menyembah sesuatu yang bernama cinta. Itu saja!

Baiklah ceritanya selesai. Bila tidak kuakhiri sampai di sini, akan banyak lagi lembaran-lembaran yang menjadi korban untuk kuceritakan setiap detil peristiwa ini. 

Terakhir kalinya, sejujurnya yang ingin kukatakan di sini adalah sebagai seorang lelaki yang masih memiliki hati dan perasaan—kedua-duanya masih aktif dan masih bekerja dengan baik—aku tak ingin mengusik orang lain apalagi menyangkut dengan hal yang bernama KEBAHAGIAAN! Sungguh tak ingin.  Itulah alasan terbaikku bila ada yang bertanya mengapa kau delcon  salah satu nama yang ada di dalam BBM-mu itu!

Saturday, 7 February 2015

Puisi Memaki


Kadang kala saat sabar telah habis terkikis meninggalkan tubuh, saat lisan tak kuasa lagi mengucap asma Tuhan, makian pun menjadi kata terakhir sebagai bentuk atau wujud pemuas jiwa. Apalagi bila seseorang itu berasal dari kaum yang keseharian kaum-kaum tersebut telah terbiasa dengan makian. Ada banyak jenis bentuk rupa makian yang diutarakan saat rasa kesal atau amarah menghampir di jiwa. Kadang kala makian diwujudkan dalam bentuk jenis-jenis binatang, baik yang haram maupun yang tidak haram. Bila bentuk amarahnya teramat besar, makian yang dipakai pun bisa lebih ekstrim lagi, misal, make mother (peuget ma), Fucking your mother (pap ma), kejar ibu (let ma). 

Di sini saya sama sekali tidak menganjurkan Anda untuk memaki karena perbuatan memaki amat cepat dicatat oleh malaikat Tuhan ke dalam buku dosa. Nah, bila Anda kadang dengan keadaan jiwa yang tak kuasa lagi menahan amarah, menahan kesal, atau menahan sesuatu perhal yang mengusik tubuh Anda, semisal ada si Gam meujanggot yang mengusik Anda saat menjawab soal ujian, atau saat nama Anda tak tertera dalam daftar pengumuman berita kelulusan, bertasbihlah, bertasbihlah, atau sesekali membaca puisi ini. 

Wa Geu Pap
Oleh: Azmi Labohaji

Ini kali aku memaki 
Buat negeri dan orang yang kubenci 
Negeri macam apa ini orang macam apa ini?
Wa Geu Pap
Banyak orang melarat mencari nasi
Makin banyak pencuri pakai dasi
Aku semakin benci melihat ini orang dan ini negeri!
Wa Geu Pap
Kian banyak orang menyanyikan lagu kematian sendiri
Oh, ini tanda apa?
Oh, ini bala namanya apa?
Negeri semakin kacau
Orang-orang jadi galau.

Wa Geu Pap,
Kata nenekku  jika kau hendak mengupat
Katakan saja Wa Geu Pap!
Kau akan selamat….

Rangkang Blang, Maret 2012 

Puisi ini pernah dimuat pada Harian Serambi Indonesia tertanggal 25 Maret 2012