Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts

Sunday, 31 January 2016

Pemenang Itu Tak Selalu di Atas Kertas



Hari itu Rabu, 27 Januari 2016. Kami berangkat menuju sebuah sekolah yang ada di Tapaktuan. Keberangkatan kami kali ini adalah dalam rangka mengikuti Smart On Brilliant III (SOB). Sekolah yang menyelenggarakan acara tersebut adalah SMAN UNGUL ACEH SELATAN. Dengan jumlah 21 orang siswa dengan rincian 12 orang mengikuti Lomba Rangking 1, 6 orang mengikuti Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI), 3  orang mengikuti cabang Lomba Vocal Solo, dan dikawal oleh 4 orang guru pendamping.


Berangkatlah kami dari Labuhanhaji pada pukul 06.30 WIB. Sengaja kami berangkat lebih awal mengingat di juknis acara tersebut akan berlangsung pada pukul 08.00 WIB. Kami tak ingin terlambat. Mobil dikebut. Sepeda motor terus dipacu kencang. Tiba kami di sana, ternyata acara sama sekali belum dimulai. Tentu kalian (pembaca) pasti tahu bagaimana kelelahan kami, bukan??? Acara ternyata dimulai pada pukul 10 lewat. 


Vocal Solo mulai menarik nomor undian. Tiga siswa kami masing-masing mendapatkan nomor undian yang berbeda. Nadia mendapatkan undian nomor 5, Sofiana mendapatkan angka undian 2, dan undian 10 dipegang oleh Jessica. Saat panggung utama sudah diriuhi oleh senandung-senandung yang dinyanyikan oleh para peserta Vocal Solo, dewan juri cabang LDBI masih memberikan arahan bagi seluruh peserta LDBI di ruang aula tempat berkumpulnya para pendebat. Arahan demi arahan itu pun berakhir. Dan debat pun dimulai pukul 11.00 WIB.


Kami membagi tugas. Cabang Vocal Solo dan Rangking 1 dikawal dan dibimbing oleh Pak Junaidi bersama Pak Arinal Farid. Untuk tim Debat Bahasa Indonesia yang mengawalnya adalah saya sendiri bersama dengan Buk Rina Suswinta. Saya mengawal dan membimbing Tim Debat bahasa Indonesia yang B dan Tim yang A dibimbing dan dikawal oleh Buk Rina Suswinta (kami memanggilnya Buk Rina).


Mosi ditampilkan di layar oleh dewan juri yang terhormat (dewan juri dalam LDBI adalah mereka-mereka alumni di sekolah itu sendiri). Undian ditarik dan disaat itu juga ditentukan sebuah tim itu akan menjadi pro atau kontra dalam menyikapi mosi yang telah diberikan dewan juri. Peserta masuk ke dalam ruang debat yang dipandu oleh panitia. Saya juga mengikuti mereka. Pada saat meraka berada di luar ruang debat selama 10 menit untuk melakukan case building (mengumpulkan bahan-bahan, argumen-argumen buat bekal debat kelak), semua pembimbing tak boleh mendekati. Boleh kembali didekati/menyaksikan mereka ketika debat sedang berlangsung di dalam ruangan.


Saya dan Buk Rina mengawal anak-anak kami berdebat dalam tiga ronde itu. Setiap ronde usai, mereka berkumpul kembali di dalam ruang utama. Di sana, pada putaran ronde pertama, para dewan juri yang terhormat itu memaparkan hasilnya di atas slide. Di sana tampak jelas perolehan skor dari setiap tim dan setiap tim debat berada di peringkat berapa juga terlihat di sana. Jelas!


Masuk ronde kedua. Mosi diperlihatkan lewat slide. Peserta debat mencatat mosi. Kemudian, peserta debat mengambil nomor undian. Selanjutnya keluar ruangan utama menuju ke ruang tempat debat berlangsung dan itu dipandu oleh para panitia. Setiba di ruangan debat, panitia memberi waktu case building  selama 15 menit. Tim Pro melakukan  case building di dalam ruang sedangkan tim Kontra melakukan case building di luar ruang. Setelah itu selesai, peserta yang dipandu oleh panitia diperintahkan masuk ke dalam ruang.


Saya masuk menyaksikan berlangsungnya debat. Di dalam ruang debat itu, terdiri dari dua orang panitia, satu bertugas sebagai Time Keeper, satu lagi sebagai pencatat waktu di papan tulis, dua tim debat (satu tim tiga orang), dua orang dewan juri yang terhormat, dan para penonton. Debat putaran kedua berlangsung hebat. Kedua tim sama-sama membangun argumen dan mempertahankan argumen. Ronde kedua berakhir. Peserta debat kembali ke ruang utama tempat berkumpulnya para pendebat. Di ruangan itu kembali dipaparkan hasil yang diperoleh dan setiap tim berada di peringkat berapa.


Masuk ke ronde ketiga. Dalam ronde ini, dewan juri yang terhormat melepaskan arahan bahwa setiap tim harus berjuang keras. Di putaran ini, dari 12 tim peserta debat, dewan juri yang terhormat hanya akan mengambil 8 tim yang berhak mengikuti debat selanjutnya berdasarkan poin yang telah diperoleh. Artinya, ada 4 tim yang harus gugur. Mosi ditampilkan. Peserta debat mencatatnya dan melakukan hal yang sama seperti pada ronde-ronde sebelumnya.


Saya masih tetap mengawal mereka begitu juga dengan Buk Rina Suswinta. Pada mereka hanya kami sampaikan, berjuanglah sekeras mungkin minimal kita masuk ke dalam delapan besar itu. Debat dimulai. Argumen demi argumen keluar dari mulut peserta debat. Mereka membantah argumen lawan. Mereka juga mempertahankan argumen yang telah diucapkan hingga time keeper mengatakan waktu berdebat telah usai.


Peserta kembali ke dalam Debatter House. Di sana, lewat sebuah slide kembali diperlihatkan perolehan skor setiap tim. Lewat slide itu juga terlihat bahwa empat sekolah yang harus gugur (saya tak ingat lagi sekolah mana saja yang waktu itu tewas). Singkat cerita, peserta debat tinggal delapan tim lagi, dari delapan tim itu dua diantaranya adalah tim kami.


Masuk ke ronde keempat. Berdasarkan perolehan nilai dan posisi peringkat tim, dewan juri yang terhormat  itu langsung menentukan lawan bagi setiap tim. Setelah ditentukan, anak kami Tim B (Annasriel, Haikal, dan Ziyat Ilham) akan melawan tim debat dari sekolah SMA Unggul Darussa’adah. Tim debat A (Soraya, Donna, dan Cut Puteh Manyang) yang dikawal oleh Buk Rina Suswinta akan melawan SMA Insan Madani.


Peserta debat mengambil nomor undian. Mosi yang akan diberikan pada ronde keempat ini adalah mosi dadakan. Nah, dalam putaran keempat ini, dewan juri yang terhormat itu hanya akan mengambil empat tim debat yang berhak masuk ke perempat final. Artinya, diputaran ini akan ada empat tim debat yang harus gugur.  Setelah semua peserta selesai mengambil nomor undian, dewan juri yang terhormat itu pun memperlihatkan slide mosi. Perusahaan Rokok di Indonesia Harus Ditutup. Itulah mosi yang akan didebatkan pada putaran keempat ini. Peserta debat mencatat mosi tersebut lalu menuju ruang debat yang telah ditentukan dan melakukan case building selama 20 menit.


Sepanjang perjalanan menuju ruangan debat kami mengawal mereka (tim A dan B) dan hanya mengatakan kepada mereka, “Bantai mereka dengan argumen kalian. Jangan beri mereka peluang. Ini kesempatan terakhir kalian untuk masuk ke perempat final. Kalian adalah pejuang terbaik dari yang terbaik! Bantai mereka sampai kandas! Tuhan bersama kita sekarang! Itu saja!” Kala itu, kedua tim kami mendapatkan posisi kontra, sebuah posisi yang sangat menguntungkan atas mosi tersebut.


Peserta diperintahkan masuk ke dalam ruangan debat. Kami juga ikut serta. Saya langsung mengomandoi anak-anak yang lain untuk ikut serta menyaksikan debat sesi keempat ini di dalam ruang debat Tim B. Kedua tim mulai menyampaikan argumen. Tiba di sesi debat bebas, keadaan memanas, kedua tim saling menyerang dengan amunisi yang mematikan. Tim kami (Annasriel, Haikal, dan Ziyat Ilham) berapi-api berperang; Annasriel mencak-mencak menghajar tim SMA Unggul Darussa’adah. Ziyat Ilham dengan urat leher yang membesar juga turut ambil bagian menghajar tim lawan. M. Haikal dengan gaya santainya yang penuh senyum tapi mematikan itu juga turut menindas lawannya dengan argumen-argumennya yang seksi. Lawan mereka banyak terdiam. Meskipun mereka melayangkan argumen bantahan, itu banyak yang tak relevan. Di saat tim kami menyerang lawannya dengan argumen dan semangat yang membara-bara, saya, Rian, Farhan, Rizkha, Mak Tek, Aula, Mahfud, dan lainnya, bersorak riuh gembira hingga panitia harus menenangkan kami. Begitulah seterusnya hingga time keeper menyatakan waktu debat telah habis.


Sang dewan juri yang terhormat itu menarik kesimpulan. Setelah selesai, kami keluar ruangan debat menuju ruang utama. Sepanjang jalan perdebatan tadi, saya menilai tim kami memenangkan pertarungan itu. Begitu juga kata anak-anak saya yang menjadi penonton tadi, mereka juga sependapat dengan saya. Di sisi lain, saya melihat body language (bahasa tubuh) tim lawan, guru pembimbingnya, dan juga pendukung mereka, terlihat lemas.  Mereka seperti sudah merasakan aura kekalahannya. Keluar dari ruangan, saya memeluk mereka dengan gembira (Annasriel, Ziyat Ilham, dan Haikal), “Kalian luar biasa, kalian membuat mereka tak berkutik, ada beberapa pertanyaan kalian yang tak mampu mereka jawab, sekarang mari kita lihat hasilnya.” Kami pun menuju ruang utama.


Setiba di sana, saya mendapati raut muka Tim A yang masam.


“Ada apa Donna dan soraya?” Tanya saya. “Masak mereka (lawan debatnya, Insan Madani) melimitkan mosi tadi. Jadi kalau mosi tadi mereka limitkan kami tidak bisa bergerak bebas untuk menyerang mereka. Kami tanyakan sama dewan juri tak ada solusi,” jawab mereka. Lalu saya temui Buk Rina Suswinta. “Tadi ada permasalahan apa Buk Rina?” tanya saya. “Ya, itu yang kayak dibilang Donna, Soraya, dan si Cut Puteh. Tadi dewan juri juga memperlihatkan pada saya bahwa nilai mereka sama-sama kosong, Pak” jawab Buk Rina Suswinta.


Berdasarkan fakta itu, saya langsung menemui seorang dewan juri yang terhormat itu. “Bagaimana ini solusinya? Tadi telah terjadi permasalahan di ruang debat anak SMA Insan Madani versus anak kami SMAN Unggul Darussalam Labuhanhaji.”


“Iya, sebentar, Pak, saya temui mereka yang menjadi juri di sana tadi. Bapak tunggu dulu ya.”

Setelah berucap seperti itu, sang dewan juri yang terhormat itu, berdiskusi dengan teman-temannya. Saya menunggu di depan pintu sambil menatap mereka. Sudah beberapa menit berlalu, mereka tak juga kembali menghampiri saya untuk memberikan jawaban. Mereka masih berada di meja itu. Saya masih melihat mereka, tetapi mereka seperti mengabaikan saya. Lalu dengan tiba-tiba saja, salah satu dewan juri yang terhormat itu, memandu acara dan mengatakan bahwa sekarang saatnya kita memberikan pengumuman tim mana saja yang berhasil lolos ke babak perempat final keesokan harinya. Kami saling menatap dengan Buk Rina, sebuah tatapan yang dalam bahasa lisannya adalah mengapa sesuatu yang kami tanyakan tadi tak ada jawabannya???? Kok secara tiba-tiba langsung membuat pengumuman tentang tim yang berhak masuk ke perempat final esok hari.


Tanpa ada penayangan jumlah skor yang diperoleh oleh setiap tim, para dewan juri yang terhormat itu hanya menampilkan slide SMA A Vs SMA B, pemenangnya adalah SMA B. Kami terus menunggu slide demi slide. Slide itu akhirnya menampilkan tim debat kami. SMAN Unggul Labuhanhaji B Vs SMAN Unggul Darussa’adah pemenangnya adalah SMAN Unggul Darussa’adah. Melihat itu, saya terbakar. Begitu juga dengan anak-anak didik saya yang lain yang sempat menyaksikan debat tadi, mereka mulai riuh. Jelas-jelas di ruangan tadi anak-anak debat saya melumat habis lawannya dengan argumen yang cukup bernas! Mereka menguasai pertarungan debat tadi. Lalu mengapa mereka kalah??? Sekarang tiba di slide SMA Insan Madani Vs SMAN Unggul Labuhanhaji, pemenangnya adalah SMA Insan Madani. Melihat itu, Buk Rina langsung terbakar. Ia bangkit dari duduknya lalu pergi keluar ruangan dengan bahasa tubuh yang menampakkan kekesalan sambil berujar palak.


“Kecewa saya. Ini curang, masak nilainya sama-sama kosong kok tiba-tiba ada pengumuman pemenangnya. Aneh! Saya ngak terima! Sakit hati saya!”


Saya menemui Buk Rina. Lalu kami sepakat untuk menemui dewan juri yang terhormat itu untuk menanyakan perkara ini. Kami menunggu semua peserta keluar ruang utama itu, lalu saya, Buk Rina, Pak Arinal Farid, dan Pak Junaidi Dongoran, pun menemui mereka. Kami langsung meminta pada salah satu dari mereka kertas yang berisi penilaian akhir itu. Kami hanya ingin melihat jumlah skor akhir saja, bukan rincian skor setiap aspek penilaian. Ya, hanya jumlah skor akhir saja, itu saja. Tetapi mereka tak mampu menunjukkannya pada kami.


Bersebab tak ada yang mampu ditunjukkan kepada kami oleh dewan juri yang terhormat itu kami pun mulai mendebat mereka.


“Yang ingin kami lihat hanya skor akhir saja. Itu saja! Jika kalian mampu menunjukkan itu maka kami akan keluar dari ruangan ini sekarang juga. Kami takkan mendebat apalagi memprotes kalian karena itu hak kalian!”


“Itu privasi,” sahut seorang dewan juri yang terhormat itu pada kami. Mendengar itu, kami pun kembali menyalak. Kami ceramahi anak muda yang menjadi dewan juri yang terhormat itu.


“Benar, memang itu privasi, tapi privasi yang bagaimana? Bila kami menanyakan setiap aspek penilaian sama kalian, misalnya aspek A kenapa segini nilainya, aspek B mengapa sebanyak itu nilainya, itu baru tidak boleh. Itu namanya privasi, karena itu adalah hak prerogatif setiap dewan juri. Tapi yang kami inginkan hanyalah ingin lihat skor akhir saja, mana? Tunjukkan pada kami kertas itu! Mengapa di akhir setiap ronde (1,2,3) tadi kalian memperlihatkan skor akhirnya, sedangkan sekarang tak kalian perlihatkan??? Nah, bila itu tak mampu kalian tunjukkan, kami mampu menyimpulkan kalian menilai asal-asalan. Belum objektif! Tidak fair!!! Mengapa kami ngotot demikian karena di atas kenyataannya Tim B kami saat berlaga mereka menguasai pertarungan debat itu dengan memberikan argumen-argumen yang mantap, tidak asbun. Kemudian Tim A kami juga demikian bahkan dewan juri memperlihatkan pada kami nilai mereka (kedua tim) masih kosong. Jadi atas dasar apa kalian menentukan tim itu lolos ke putaran berikutnya sedangkan nilainya tak ada? Setiap orang akan bersedia timnya kalah di atas kertas asalkan sang pengadil mampu menunjukkan buktinya! Asal kalian tahu, ini namanya pembunuhan karakter anak didik! Itu saja!!!”


Nah, berangkat dari perkara itu kami menarik benang merah kejanggalan dari proses tersebut. Pertama, mengapa dewan juri yang memimpin debat itu dua orang setiap ruang? Seharusnya dalam penjurian, dewan juri itu harus ganjil (3 atau 5 orang) tidak boleh genap (2 atau 4 orang), karena jikalau genap bagaimana cara menarik kesimpulannya (referensi pernyataan ini berasal: dari salah seorang dosen sastra Universitas Syiah Kuala yang telah melakukan penjurian dalam berbagai even, tentang identitasnya tanyakan sama saya langsung). Kedua, pada ronde 1, 2, dan 3 skor akhir beserta peringkatnya ditayangkan dalam slide, lalu mengapa disaat ronde keempat hal itu tak dilakukan? Ketiga, berdasarkan penuturan Buk Rina, salah satu dewan juri mengatakan padanya bahwa kedua tim debat (SMA Unggul Labuhanhaji B dan SMA Insan Madani)  belum ada nilai, masih kosong. Tetapi mengapa disaat pengumuman pemenangnya adalah SMA Insan Madani. Pertanyaannya adalah dari mana nilai itu diambil untuk menentukan si pemenang yang akan lolos ke babak berikutnya? Keempat, mengapa sang penilai disaat kami minta melihat kertas yang berisi skor akhir itu mereka tak mampu memperlihatkannya???


Setelah selesai mendebati mereka, akhirnya kami berangkat pulang karena hari sudah senja. Tak ada lagi kata-kata keramat yang bisa kami ucapkan untuk menyemangati mereka, anak-anak kami. Bahasa tubuh mereka menunjukkan keterpukulan dan kekecewaan yang mendalam atas keputusan itu. Mereka berjalan menuju mobil. Sepanjang perjalanan menuju mobil itu yang kami utarakan kepada mereka adalah “Pemenang Itu Tak Selamanya di Atas kertas. Hari ini kalian adalah pejuang sejati. Kalian adalah orang-orang hebat yang sebagian orang tak berani untuk mengakuinya. Dan hari ini kalianlah pemenang yang sebenarnya. Maka dari itu, sekarang mari kita berjalan pulang dengan kepala tegak layaknya seorang pejuang yang telah memenangkan pertarungan! Tentang peristiwa ini, simpanlah baik-baik di ingatan kalian dan juga di buku hidup kalian karena kelak peristiwa ini akan ada yang membacanya!”  

 ***  



                                                                        Labuhanhaji Setelah Peristiwa Itu, Januari 2016
 oleh:
Azmi Labohaji, seseorang yang suka keadilan, belum menikah, dan sayang dengan murid-muridnya sama seperti dia menyayangi kekasihnya.....

SILAKAN DI-SHAREEEEEE .......! 

Friday, 4 December 2015

Della dan Mimpinya Ke Lombok Bersua Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta

Ini adalah sepotong kisah nyata yang baru saja kualami. Sebagai alumni SM-3T angkatan II, mengajar dan mendidik sudah menjadi sesuatu kebutuhan yang sangat penting bagiku. Beberapa bulan setelah menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di LPTK Universitas Syiah Kuala, aku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, Labuhanhaji, Aceh Selatan. Pilihan kembali ke kampung halaman dan mengabdi di sekolah-sekolah yang ada di kampung cukup beralasan. Di daerahku itu masih digolongkan sebagai daerah 3T, sekolah-sekolah masih kekurangan guru. Maka dari itu, kuputuskanlah untuk kembali ke kampung halaman dan mengabdi di sana.

Setiba di kampung halaman, aku diminta untuk mengajar di sebuah sekolah. Sekolah itu bernama Sekolah Menengah Atas Negeri Unggul Darussalam Labuhanhaji. Meski sudah berstatus negeri, unggul lagi, tetapi sekolah itu baru saja berdiri. Jelas guru masih kurang! Hanya ada beberapa guru yang berstatus pegawai negeri dan sisanya adalah guru horor (honor). Aku diminta oleh kepala sekolah untuk mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal di sekolah tersebut guru Bahasa Indonesia sudah ada. Aku menerimanya karena latar belakang pendidikan S1-ku juga dari Pendidikan Bahasa Indonesia. 

Seiring waktu berjalan, salah seorang guru yang mengajarkan pelajaran Fisika, Pak Yusri, menyodorkan padaku secarik kertas berwarna oren. Di kertas itu kudapati pengumuman yang bernada “Letter Writing Competition 2015 dengan tema Budayaku Identitasku”. Aku mengambil kertas tersebut lalu membacanya dengan serius.

“Di sekolah ini ada beberapa anak yang punya kemampuan menulis, Pak. Coba Bapak tempel pengumuman ini, mana tahu mereka ingin ikut,” ucap pak Yusri. 

Aku mengiyakannya dan langsung memperbanyak selebaran tersebut dan menempelnya di dinding setiap kelas. Pada hari yang telah aku tentukan, saat aku memasuki ruangan di sana kudapati enam orang siswa. Kujelaskan apa itu isi pengumumannya, orang yang akan mereka jumpai bila mereka terpilih sebagai finalis, dan juga kujelaskan tentang tema yang diusung oleh orang yang membuat lomba tersebut. Setelah kujelaskan itu semua panjang lebar dan kuputuskanlah tenggat waktu pengumpulan karya. 

Pada hari yang telah ditentukan, dari  enam orang yang semula ingin ikut, tetapi yang berhasil menyelesaikan surat tersebut hanya dua orang. Satu orang menulis surat tersebut dengan sempurna dan sesuai dengan jumlah karakter tulisan yang diminta oleh panitia dan sisanya tak menyelesaikan surat tersebut sesuai dengan karakter yang telah ditentukan. Siswa yang berhasil menulis surat dengan sempurna adalah Della Irfana. Dalam surat yang dia buat itu, dia mengangkat budaya lokal yang ada di kampungnya yaitu Manoe Pucok!

Setelah surat itu benar-benar sempurna, tentunya setelah kuperiksa sekali lagi EyD, kalimatnya, dan juga cara dia mendeskripsikan Manoe Pucok itu seperti apa, pada hari Jumat, 19 Juni 2015, aku dan Della pun pergi ke kantor pos untuk mengirimkan surat tersebut kepada mereka (harian Republika Online). 

“Hari ini kamu telah melakukan sebuah pekerjaan yang orang lain belum tentu mampu melakukannya, Della. Surat sudah kita kirim bersama-sama. Dan di Lombok sana, tiga orang hebat Habiburrahman El Shirazy, Tere Liye, dan Ginatri S. Noer telah menunggu kedatanganmu. Mereka ingin berjabat tangan denganmu dan juga ingin berbagi ilmu denganmu. Selepas ini, sering-seringlah berdoa semoga karyamu itu menang,” ucapku sambil tersenyum manis padanya. 
 
“Ia, Pak, terima kasih,” ucap Della dan membalas senyumku.

Pengumuman tentang Writing Letter itu pun tiba. Kala itu aku sedang mengecat sebuah kedai. Tiba-tiba di layar handphone-ku tampak sebuah nomor baru. Panggilan itu kuangkat. Dari balik telpon terdengarlah suara yang tak asing lagi. Dengan nada yang penuh keceriaan ia pun berkata padaku.

“Pak, ini Della, tadi orang Republika ada telpon Della katanya Della masuk 30 besar!”

Aku langsung bersyukur dan kutinggalkan kuas cat.
“Selamat Della kamu akan berjumpa dengan tiga orang-orang hebat itu kelak di Lombok. Ya, sudah, berita ini kita pastikan lagi kebenarannya. Jadi, besok kamu jumpai bapak di sekolah!” aku menutup percakapan dengannya dan kembali melanjutkan pekerjaan mengecat. 

Keesokannya setiba di sekolah, aku mencari kabar tentang perihal ini. Kuminta nomor handphone orang yang telah menelpon Della. Kutelpon yang bersangkutan dan ternyata benar Della telah masuk ke dalam 30 finalis yang akan diberangkat ke Lombok untuk mengikuti pelatihan menulis di Lombok bersama ketiga orang hebat itu. Selanjutnya, orang yang kemudian kuketahui namanya Syatria itu mengirimiku poster tentang pengumuman tersebut via email. Saat kuperhatikan poster tersebut, ternyata peserta yang berasal dari Aceh bukan Della saja, tetapi ada dua yang lainnya; siswa yang berasal dari MTsN Rukoh, Narid Sulthan Maulana, dan juga Rizki Mulia yang berasal dari SMAN 1 Bambel Aceh (Aceh Tenggara). Kabar tentang Della berhasil menang dan akan berangkat ke Lombok pun tersebar ke setiap telinga siswa-siswa yang lainnya dan juga para guru yang ada di sekolah. Ucapan selamat pun bertubi-tubi diterima Della. Dari raut wajahnya, Della tampak begitu bahagia, begitu juga dengan aku, sebagai guru yang telah membimbingnya, juga turut merasakan kebahagiaan itu. 

Pengumuman keberangkatan kubaca sekali lagi. Di sana tertulislah bahwa semua peserta wajib mengikuti Winner Camp dari tanggal 6 sampai 10 Agustus 2015 di Lombok.  Berarti Della harus berangkat pada tanggal 5 Agustus 2016 dari Labuhanhaji menuju Banda Aceh. Selain tanggal keberangkatan, ternyata ada beberapa berkas yang harus disiapkan Della sebelum ia berangkat, salah satunya adalah surat izin orang tua. 

Pada tanggal 3 Agustus 2015, Della membawa serta orang tuanya menghadap kepala sekolah membicarakan masalah keberangkatannya ke Lombok. Di dalam ruang kepala sekolah kala itu hanya ada aku, Della, orang tuanya, dan kepala sekolah. Ketika pembicaraan tiba pada titik intinya, di situlah Della harus mengubur mimpinya! Ia tak dapat bertemu dengan ketiga orang hebat yang namanya telah tertulis di dalam poster pengumuman tersebut. 

Mimpi itu terpaksa dikubur dalam-dalam oleh Della bersebab orang tuanya tak memberi izin bagi Della untuk berangkat ke Lombok, NTB. Alasan yang diutarakan oleh orang tua Della tak memberikan ia izin untuk berangkat ke Lombok adalah karena tak ada guru pendamping yang mendapingi ia mulai dari Aceh sampai Ke Lombok. 

“Bila tak ada guru pendamping yang mendampinginya dari Aceh sampai ke Lombok, maka tak ada izin buat Della untuk berangkat ke Lombok mengikuti acara tersebut,” ucap orang tua Della. 

Keadaan semakin tegang kala itu. Della mulai tersedu-sedu karena apa yang baru saja diucapkan oleh orang tuanya membuat ia begitu terpukul. Bapak kepala tak bisa berbuat banyak. Aku apalagi!!!  Lalu aku pun mencoba untuk meyakinkan orang tua Della bahwa Della akan baik-baik saja saat mengikuti acara tersebut.

“Saya sudah menghubungi panitia pelaksana yang ada di Jakarta, Pak. Dan hal yang saya tanyakan adalah masalah pendamping juga. Kata mereka, untuk pendamping mereka tidak mampu menyediakan dana. Dana yang mereka sediakan hanya buat peserta saja. Dan kata mereka, para peserta insyaallah akan aman mulai dari pertama berangkat sampai ia kembali ke rumah masing-masing!” ucapku pada orang tua Della. 

Orang tua Della tetap dengan keputusannya. Melihat orang tuanya yang masih teguh pada pendiriannya, Della pun menangis sejadi-jadinya. Berjuta alasan diutarakan Della untuk meyakinkan orang tuanya, tapi tetap saja alasan itu tak bermakna bagi orang tuanya. 

Ingin kukatakan di sini, padahal Della beberapa hari sebelum tanggal 6 Agustus 2015 itu, ketika aku masuk mengajar di kelasnya, tertangkap olehku Della membaca novel Ayat-Ayat Cinta. Ketika aku berkeliling-keliling kelas menjelaskan tentang sebuah teori, mataku terus melirik ke arah novel Ayat-Ayat Cinta yang ada di atas meja Della. Di antara lembar-lembar kertas novel tersebut, menyembullah kertas berwarna ping. Kertas itu adalah kertas pembatas. Dan ia kini berada di tengah-tengah novel. 

Namun apa hendak dikata, impian itu terpaksa dibuang jauh-jauh! Melihat Della yang terus tersedu-sedu memohon pada orang tuanya, hatiku juga tak kuasa menahannya. Ingin sekali kala itu aku berteriak! Ingin sekali hari itu aku juga turut menangis bersama Della, muridku itu, di dalam ruang kepala sekolah itu agar orang tuanya memberi izin untuk Della dapat berangkat ke Lombok. Tapi aku masih kuasa menahannya dan itu pun tak berlangsung lama. Ketika Della pulang bersama orang tuanya, aku keluar kantor, lalu di bawah pohon mangga yang rindang, tepat di depan kantor, dalam buaian angin sepoi, air mataku keluar juga dari sarangnya. Aku juga terpukul!
 
“Andai saja Engkau tahu, Pak, bahwa apa yang telah diraih oleh Della bukan sesuatu yang diperoleh dengan amat mudah. Ini prestasi nasional! Tidak semua anak punya kesempatan seperti ini dan tidak semua anak memiliki nasib seberuntung Della! Anda telah menarik Lombok, Habiburrahman El Shirazy, Tere Liye, dan juga Ginatri S. Noer dari dalam kepala Della lalu menguburnya di dalam tanah yang cukup dalam!” batinku berkata.

Beberapa jam setelah kejadian itu, Della jatuh sakit. Lambungnya kembali berulah. Pak kepala sekolah memanggilku. Ia ingin membicarakan hal itu lagi denganku.
***
Dua hari setelah kejadian itu, Della menemuiku dengan wajah yang masih menyimpan kekecewaan. Lalu ia pun berkata padaku.

“Pak, Bapak masih mau membimbing, Della kan kalau ada perlombaan-perlombaan seperti itu lagi?”

Pertanyaan itu membuatku kembali bersemangat. Pertanyaan itu bagaikan listrik yang menyetrum tubuhku yang telah hilang semangat. Dari pertanyaan itu aku mampu menyimpulkan bahwa keadaan jiwa Della masih baik-baik saja! Lalu aku pun menjawabnya.

“Tentu, Nak. Mau sekali! Membimbing setiap siswa yang mau menulis adalah kewajiban Bapak! Tentu Bapak masih bersemangat untuk membimbingmu. Dan Bapak berharap padamu tentang kejadian kemarin ada baiknya kamu tulis karena itu adalah salah satu bukti sejarah bahwa kamu adalah salah satu anak yang berprestasi ketika masih sekolah! Meskipun kamu tak sempat berjabat tangan dengan ketiga orang yang hebat itu, tapi yakinlah suatu saat kadang takdir akan berkata bahwa ketiga mereka-lah yang akan berjabat tangan denganmu atas penghargaan karya-karyamu. Semoga. Pokoknya jangan lupa teruslah, membaca, membaca, membaca, lalu menulis, menulis, dan menulis, kemudian berdoa. Itu saja!”

“Iya, Pak, terima kasih banyak.”

Della berbalik kembali ke kelas. Lalu aku pun kembali berkata padanya.

“Della, tentang kejadian di hari Sabtu yang durjana itu jangan kamu tangisi lagi. Kamu tak perlu menyalahkan siapa-siapa. Tak perlu menyalahkan orang tuamu, tak perlu menyalahkan Bapak, atau yang lainnya. Ini adalah garis takdir. Garis takdirmu telah terlukis seperti itu. Ingatlah satu hal, setiap orang tua mengharapkan yang terbaik buat buah hatinya, dan Bapak mengharapkan kamu selalu menjadi juara, dan Tuhan, telah mengariskan takdir yang terbaik buat ciptaannya! Itu saja,” ucapku bijak dan berlalu darinya.   

Della kemudian melemparkan senyum kepadaku dan aku kembali masuk ke kelas karena bel tanda pergantian pelajaran telah meraung-raung.***
                                       

                                                        
                                       SMA Unggul Darussalam Labuhan Haji, 2015