Showing posts with label Cerita Santai. Show all posts
Showing posts with label Cerita Santai. Show all posts

Wednesday, 15 November 2017

Petualangan Baru di Nanga Ella Hulu


Petualangan Baru di Nanga Ella Hulu
 oleh: Azmi Labohaji

Tuhan selalu menghadiahkan kita garis takdir yang cantik. Garis takdir yang selalu menjadi rahasia dan akan diketahui kemudian harinya. Hari ini aku dan ribuan teman-teman di seluruh tanah Indonesia menjalani garis takdir yang baru. Garis takdir itu bernama GGD 2016. 

Program GGD 2016 telah mengantarkanku sampai ke suatu tempat yang luar biasa hebat. Sebuah tempat yang dikemudian harinya memberikan aku dan teman-temanku cinta, kedamaian, dan pengalaman hebat yang mungkin tak kami dapati di tempat lain. 



Penantian pengumuman kelulusan GGD yang memakan waktu hampir satu tahun lamanya itu akhirnya terbit juga. Setelah pengumuman itu terbit, namaku terdata di sebuah kabupaten yang bernama Melawi. Kutelusuri dan terus kutelusuri nama Melawi itu ada di mana? Ternyata nama itu berada di Provinsi Kalimantan Barat. 

Objek Wisata Air Terjun Sahai Apat

Menjadi GURU GARIS DEPAN dengan status (C) Pegawai Negeri Sipil di tanah Borneo adalah sebuah petualangan baru. Persiapan lahir batin sematang mungkin pun harus disiapkan untuk menghadapi berbagai rintangan di tanah pengabdian. Sebab ini bukanlah petualangan yang main-main. Setelah mengumpulkan berbagai informasi baik itu dari teman yang pernah ke Borneo, dari foto-foto yang dijelajahi di internet, dan juga dari video-video di You Tube dan juga di-share teman¸ ternyata tanah ini menyajikan petualangan yang cukup menantang.

Tanah berlumpur, hutan belantara, kebun sawit, sungai yang lebar dengan airnya yang keruh, listrik tidak menyala 24 jam, adalah medan yang akan dinikmati dan dijalani. Kini, itu semua tengah aku jalani di Desa Nanga Ella Hulu, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi. Di desa inilah aku dan temanku, Anton Ary Wibowo (lelaki yang berasal Purworejo, Jawa Tengah), ditempatkan di SDN 03 Ella Hulu. Sebagai informasi, menurut berbagai sumber, katanya kepala sekolah di es de tersebut adalah kepala sekolah terkeren se-kecamatan Menukung. Beliau bernama Zainul Awal dengan nama panggilan; Bung Zen atau Pak Zen. 

Air Terjun Sahai Apat

Untuk sampai ke desa tersebut memakan waktu selama dua jam dari ibu kota kabupaten. Jalur yang dilalui pun luar biasa dahsyatnya tetapi menyenangkan. Butuh fisik yang prima untuk melakukan perjalanan ke sana. Selain itu, kondisi kendaraan pun harus oke seratus persen; mulai dari rantai, ban, roda, dan juga bahan bakar. Semua harus diperhatikan dan dijamin aman. Bila tidak, siap-siaplah petaka akan menanti. 

***

Kabut di Pagi Hari 

Bila Pagi
Di tanah Borneo matahari sangat cepat muncul. Pukul 05.00 WIB tanah ditempat aku tinggal sudah terang. Bila di Aceh, pukul demikian aku masih di bawah selimut dengan mimpi yang nikmat. Alam dengan rimbun pepohonan yang lebat menyuguhkan sambutan pagi nan indah di sini. Sahut sambut nyanyian burung-burung khas Kalimantan membuat pagi kian indah untuk dinikmati. Kala pintu depan rumah dibuka, sambutan yang tak kalah dahsyat adalah kabut tebal yang tak jauh dari rumah dinas sekolah tempat kami tinggal. Pemandangan itu selalu menarik untuk dibidik dengan kamera handphone. Pada saat inilah momen menikmati kopi pagi bersama kabut yang indah menjadi hal yang sangat perlu untuk direkam dan kisahkan. Indah!!!

Ketika ritual pagi itu telah selesai, pemandangan lainnya yang akan terlihat di sini adalah orang tua dengan pakaian tempur mereka. Ya, mereka adalah petani yang akan mencari nafkah ke kebun sawit atau ke kebun karet. Selain itu, ada juga sebagian orang tua di sini yang bekerja di perusahaan sawit swasta. Bagi mereka yang ke kebun karet, mereka akan menoreh ratusan pohon karet per hari. Kulat−karet hasil torehan tersebut−akan dijual pada agen yang siap menampungnya dengan harga yang telah ditentukan. Hasil penjualan kulat itulah yang akan mereka pakai untuk membiayai kehidupan sehari-hari. 

Intinya, di sini bila sudah menikmati keindahan pagi hari maka perkara yang harus dilakukan selanjutnya adalah pergi mencari rezeki. 


Kendaraan Sungai

Saat Siang Menjelang
Bila siang menjelang, di sini keheningan begitu sangat terasa. Tak ada suara raungan kendaraan. Semilir angin sepoi-sepoi adalah nikmat Tuhan yang harus kami nikmati. Setelah selesai melaksanakan salat Zuhur pada pukul 11.35 WIB, perkara selanjutnya yang harus dilakukan adalah menikmati siang di atas kasur. 

Keramaian akan terlihat kembali pada pukul 16.00 WIB di lapangan SMPN 2 Menukung. Di sana masyarakat berkumpul dengan aktivitas masing-masing. Ada yang bermain bola kaki dan bola voli. Ada yang bermain bulu tangkis. Di salah satu sudut terlihat juga beberapa orang memainkan alat musik tradisional bersama grupnya. Mereka menghabiskan waktu hingga petang tenggelam dan magrib menjelang tepatnya pada pukul; 17.35 WIB. Ya,begitulah setiap harinya cara mereka menikmati petang. Sungguh asik! 

Ketika Malam Menjelma
Menikmati malam di pedalaman Melawi, tepatnya di Nanga Ella Hulu, yang jauh dari segala kebisingan memiliki kenikmatan tersendiri memang. Tak ada raungan kendaraan-kendaraan yang ada hanyalah nyanyian sahut sambut binatang malam di hutan. Malam seperti lambat berjalan. Suguhan panorama langit dengan hamparan bintang dan caya bulan membuat kenikmatan tersebut ingin terus dicicipi terus. 

Di sini, bila malam tiba, raungan mesin-mesin Dong Feng –aku menyebutnya mesen genset- adalah raungan yang sangat kami tunggu-tunggu dan kami rindukan. Raungan yang sangat kami sukai setiap alunan suaranya. Mengapa sangat kami rindukan? Jawabannya adalah karena di sini tak ada Perusahaan Listrik Negara (PLN). Listrik di sini hanya menyala sejak pukul 18.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB dan aliran listrik itu berasal dari mesin Don Feng tersebut. Nah, bila Dong Feng itu tak menyala maka kami akan berada dalam kegelapan sepanjang malam hingga fajar menjelang. 

Segala perangkat elektronik seperti HP, senter listrik, power bank, laptop, dan perangkat-perangkat lainnya, akan kami aliri listrik hingga di layarnya terpampang kata “Baterai Full” atau angka 100 % bila mesin made in China itu telah hidup. Karena ketergantungan pada handphone pintar semakin tinggi, setiap malam aku harus berusaha mencari sumber listrik tersebut. Kadang-kadang harus numpang di rumah tetangga. Di warung-warung sambil ngobrol-ngobrol ringan dengan pemuda-pemuda kampung. 

Bila sudah seperti ini, kami akan menggunakan barang-barang yang bermuatan listrik itu sehemat mungkin. Buka internet seadanya (itu pun dengan kondisi jaringan internet berstatus “E” bukan “4G”). Mendengar musik untuk beberapa lagu saja. Lalu, sesekali mata kami arahkan ke pojok kanan tempat pemberitahuan baterai tinggal berapa persen lagi. 

Turun ke kota kabupaten dengan jarak selama 2 jam adalah kebahagiaan bagi kami. Ya, sebab setiba di kabupaten, kami bisa sepuasnya menikmati listrik karena di kabupaten listrik menyala 24 jam. Jaringan internet 4G. Segala kebutuhan yang diinginkan ada. Intinya saat jiwa dan raga telah berada di ibu kota kabupaten pikiran dan jiwa seolah-olah telah ter-refresh kembali. Yah begitulah!

***

Terakhir, terlepas dari segala halangan dan rintangan itu, yang ingin aku utarakan di sini adalah di mana pun kita berada, baik di kota di maupun pedalaman, sudah barang tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Di sini diri kita diuji Tuhan tentang bagaimana cara kita mensyukurinya saja. Bila kau menjadikan kekurangan itu (segala rintangan di daerah pedalaman) sebagai sebuah nikmat Tuhan dan kau terus mensyukurinya tanpa henti, kelak Tuhan akan menjadikan dirimu sebagai pribadi yang hebat, kuat dan patut dihadiahkan surga-Nya suatu saat kelak. Begitu juga sebaliknya, meskipun Tuhan telah menghadiahkan segenap kelebihan untuk kau rasakan tetapi kau tidak pandai mensyukurinya, sudah barang tentu murka Tuhan akan menghampirimu.*** 




                                                                                              Nanga Ella Hulu, 10 November 2017

Saturday, 18 March 2017

5 Rumah yang Tak Dimasuki Playboy



Menjadikan diri sendiri menjadi seseorang yang penuh rayuan, puja, dan pujian bukanlah perkara yang mudah. Untuk menaklukkan objek rayuan yang tak lain adalah si gadis impian dibutuhkan latihan ekstra keras plus beberapa triknya. Bakat merayu atau dalam bahasa Acehnya bakat meng-olah atau bakat me-lawok bukanlah sesuatu yang diwariskna melalui gen. Itu semua didapatkan melalui pengalaman, latihan, dan mungkin didapatkan dari membaca artikel-artikel yang bertebaran di internet.

Merayu, meng-olah, dan me-lawok di dalam kehidupan sehari-hari memang sangat dibutuhkan. Selain itu, tujuan dari merayu itu berbeda-beda. Ada yang melakukannya demi mendapatkan gadis impian yang kemudian dilakab menjadi Playboy, ada yang melaksanakan demi mengelabui orang lain yang kemudian disebut Agen Olah, bahkan ada juga yang melakukannya demi memperoleh suara saat pemilu berlangsung. Untuk yang terakhir ini biasa orang-orang kami menyebutnya PANCURI TUJUH, maksudnya: Leuh dipajoh, keu rakyat dipikee hana (artinya bila sudah menang sang calon tak lagi hirau masyarakat).     

Kali ini saya tidak membahas tentang tukang rayu yang dua terakhir itu. Yang dibahas adalah tentang tukang rayu gadis-gadis atau kemudian kita sebut Playboy beserta lima rumah yang tak berani ia masuki. 

Pertama, Rumah yang Sang Ayah Bermisai Besar dan Tebal

Misai adalah bulu hitam tebal yang menjadi kebanggaan lelaki dewasa. Misai melambangkan kegarangan, kewibaan, dan tentunya melambangkan kegagahan. Akan tetapi, bagi lelaki yang usianya masih di bawah 25 tahun, misai bagi mereka tak lebih hanya sebagai bulu hitam untuk bergaya di depan para gadis. Bagi lelaki dewasa, misai adalah bulu hitam yang menyimpan beribu kenikmatan. Contohnya saja saat selesai makan nasi. Bagi lelaki dewasa membersihkan misai dari bekas makanan dan mengurutnya mengikuti pola huruf A menyimpan kenikmatan tersendiri. Kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 

Nah, bagi sang Playboy, rumah yang di dalamnya terdapat lelaki yang bermisai menjadi sebuah tempat yang sangat mengerikan. Coba bayangkan saja begini, ayah si gadis adalah lelaki yang bertubuh besar, kekar, hitam klo, bermisai pula. Bagaimana mungkin sang Playboy berani memasuki rumahnya apalagi untuk menggoda anak gadisnya. Bagi sang Playboy, jangankan dihardik, melihat ayah si gadis mengurut misainya itu sama halnya dengan sang ayah mengeluarkan parang dari sarungnya. 

Kedua, Rumah yang Salah Satu Anggota Keluarganya Utoh
Utoh adalah seorang pandai besi yang besi yang biasanya membuat parang, rencong, pisau, tombak dan benda-benda tajam lainya. Seorang utoh dalam kesehariannya selalu berhubungan dengan barang-barang keras dan mematikan, contohnya saja, api, palu godam, bara api, besi dan benda-benda lainnya. Bisa dibayangkan bukan bagaimana bentuk seorang utoh apabila ia tengah bekerja? Badan hitam dengan keringat bercucuran, kekar, kumis besar dan tebal, bisep besar, sorot mata tajam, fokus, dan bersuara berat. Itulah karakter seorang utoh lebih kurang. 

Bagi sang Playboy memasuki rumah ini sama halnya dengan masuk ke dalam rumah Aceh berhantu yang telah ditinggal sejak zaman Belanda. Meskipun di dalamnya ada sesosok gadis nan mahajelita, tetap bagi sang Playboy butuh nyali besar untuk masik ke dalam rumahnya. Mengapa demikian? Jawabannya adalah bila nekat masuk dan mengombali sang gadis jelita, salah pula cara merayu si gadis, maka parang tajam kebanggaan milik sang Utoh yang mampu membelah rambut menjadi tujuh helai telah menanti. Menakutkan sekali bukan???

Ketiga, Rumah yang Ayah si Gadis Adalah Tukang Jagal Ayam Potong
Baju selalu berlumuran darah. Tangan kekar. Sorot mata tajam. Tak banyak bicara. Aroma tubuh adalah aroma wangi kematian ayam-ayam potong. Suaranya berat. Di bawah lubang hidung terselip kumis besar berbulu lebat tebal. Mainannya adalah parang bermata tajam karena selalu terasah, batu asah dari India, dan yang terakhir adalah ayam-ayam yang menunggu giliran untuk dicabut nyawanya. Ya, itulah sepintas gambaran tentang pemilik rumah yang kepala keluarganya berprofesi sebagai tukang jagal. 

Mengingat karakter sang ayah saja sudah barang tentu bagi sang Playboy menapakkan kaki ke dalam rumah buat merayu sang gadis takkan mungkin dilakukan. Sudah tentu yang terbayang adalah lelaki besar dengan parang besar yang tajam! Bila nekat melakukannya, memutuskan jemari kaki dengan parang tajam itu bagi si pemilik rumah bukanlah pekerjaan yang berat.  

Keempat, Rumah yang Kepala Keluarganya Adalah Seorang Dukun
Dukun atau istilah lainnya ureng caroeng, orang pintar, atau Smart Man, adalah sesosok manusia yang menguasai ragam ilmu. Ilmu yang dimilikinya tersebut pun mampu mengobati banyak orang dan tentunya juga mampu mencelakai bahkan memusnahkan orang baik jarak dekat maupun jarak jauh. Dan dibanyak tempat, menurut sebuah sumber yang kredibilitas, anak gadis dukun cantiknya di atas rata-rata semuanya!

Nah, bagi sang Playboy melangkahkan kaki menuju ke rumah ini bukanlah pekerjaan yang baik. Sinyal ghaib yang dimiliki sang dukun lebih hebat dibandingkan 4G yang kita pakai sekarang. Lima langkah engkau hampir sampai ke depan pintu gerbang rumah sang dukun, niat serta maksud tujuanmu itu sudah diketahui olehnya. Jadi, hayalan tentang merayu anak gadisnya lagee nyoe ku tak, lagee jeh ku cang, jauhkan dari pikiranmu. Sebelum sempat engkau layangkan Hikayat Tak-Cang mu itu, lidahmu sudah terlebih dahulu dibengkokkan ke langit-langit mulutmu! Jadi, masih berpikir untuk mencobanya? Mikir woi!!!    

Kelima, Rumahnya Para Penikmat Cerita: Adam Sang Penunggu, Geuleupak, Ek-Bham, dan Cerita Bungai Bangkai (Raflesia) 
Bila di dalam rumah yang hendak di-cuca oleh sang Playboy terdapat seorang tokoh penikmat cerita seperti yang telah disebutkan pada judul di atas, ada baiknya sang Playboy balik kanan kembali ke rumah. Memang harus diakui di dalam rumah ini ada seorang gadis yang SANGAT SANGAT SANGAT cantik jelita. Namun, benteng si gadis cantik itu adalah tokoh penikmat cerita seperti yang telah disebutkan pada judul di atas. Untuk itu, jangan lancarkan seranganmu di sini!!! Bila tetap engkau paksakan kehendakmu, meskipun engkau keramat level 7, petaka akan menghampirimu dengan segera.

Tiada ampun bagi sang Playboy bila melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah ini. Bila diibaratkan senjata maka rumah yang satu ini adalah AK-47. Senjata mematikan dan bisa bekerja di segala medan. Senjata yang pelurunya apabila mengenai tubuh musuh akan hancur tak berbentuk. Hikayat Ular tingkat dewa pun takkan mampu menjadi perisai tubuh bagi sang Playboy bila memberanikan diri masuk ke rumah ini. 

Tokoh penikmat cerita di dalam rumah ini bukanlah sembarangan orang. Jika diumpakan dengan pembunuh, tokoh ini adalah pembunuh berdarah dingin. Mengapa demikian? Jawabannya sebagai berikut. Tokoh ini adalah orang yang telah berkali-kali tersuap ratusan kalimat manis bernada merayu-mendayu. Lalu, wahai Tuan Playboy yang terhormat, engkau mau pakai kalimat yang bagaimana lagi buat merayu tokoh ini??? Efeknya adalah bila engkau kehabisan bahan rayuan dan salah dalam melafazkan kalimat, maka si tokoh penikmat cerita tak segan-segan “menyekolahkan” mu dengan teknik khusus yang dimilikinya. 

Percayalah, tokoh penikmat cerita ini juga tukang rayu. Bahkan orang-orang melakab mereka sebagai Playboy Made in Tuhan. Mengeluarkan anak gadis jelita dari kandang macan milik orang bermisai tebal, anak gadis milik sang utoh, anak gadis tukang jagal ayam potong, dan juga anak gadis sang dukun baginya adalah hal yang teramat sepele. Saking sepelenya mereka berani berucap kalau itu adalah ek but (tahi pekerjaan)!!!  

Pesanku wahai sang Playboy bila hendak merayu, pakai ajimat atau mantera terlebih dahulu, karena tokoh yang satu ini sudah muak dengan rayuan manis. Nah, bila rayuanmu tak berarti apa-apa baginya, maka kepalamu, tanganmu, kakimu, telingamu, dan tentunya seluruh tubuhmu akan diapa-apakan olehnya alias dijadikan tumbal. Nyan ban!!!***

---->BERANI SHARE, HEBAT!!!!
                                                                                                     Labuhanhaji, Maret 2017




Saturday, 11 March 2017

ADAM Sang Penunggu Melati


Entah berapa purnama lagi ia harus menanti yang jelas angka-angka yang berjejer rapi beserta nama hari di kalender usang itu telah disilangnya. Penuh satu tahun. Kini kalender telah berganti dengan yang baru. Hari baru, angka baru, dan juga tahun baru. Penantian ini sungguh membuat keadaan jiwanya tak menentu. Tapi ia tetap menunggu.

 Agar belenggu penantian itu tak berubah wujud menjadi monster yang sangat menakutkan dan terus mencabik jiwanya, Adam segera merakit strategi. Sebuah strategi agar penantian itu menjadi tetesan embun yang kelak berubah menjadi madu. Adam sangat paham bila ia terus mengumpat, penantian yang dinanti pasti akan berubah menjadi monster.

Sebagai pemuda yang cerdas lagi tampan, Adam melampiaskan kegalauannya itu pada empat hal yang berbeda: kandang ayam, kebun kasih (red: lam basa Aceh lampoh Jok), kandang kambing, dan pada sungai.

Satu, Pada Kandang Ayam
Bila otaknya telah berat sekali diusik oleh Si Penantian, Adam akan melampiaskannya pada kandang ayam. Saat Adam telah berada di dalam kandang ayam, pekerjaan lain tak lagi dihiraukannya. Ia hanya akan berhenti untuk salat, makan, dan mandi. Selepas itu, Adam akan kembali menggila pada kandang ayam itu. 

Tingkah Adam dengan serta merta membuat masyarakat ayam terkejut tak terkira. Adam akan membersihkan seluruh kandang ayamnya itu dari kotoran-kotoran yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. Rerumputan yang tumbuh di sekelilingnya dimusnahkan hingga tak berwujud. Atap rumbia yang selama ini telah sihet tak berbentuk dibetulkan dan diganti dengan seng. Tempat ibu ayam dan ayam dara bertelur dan mengeram dibuat baru diarsiteknya senyaman mungkin. Tak jauh dari kandang utama, ayam-ayam yang punya bayi, kandangnya pun direhab semanis mungkin: nyaman, tenang, dan tentunya aman dari incaran musang dan mie agam. 

Akibat ulahnya itu, orang tuanya, saudaranya, dan teman-temannya tat kala melihat kandang ayam tersebut tak ada kata yang diucapkan selain, “Ini kandang ayam atau tamannya Donald Trump. Bersih dan rapi sekali.”

Adam akan menenggelamkan dirinya berhari-hari di sana. Tujuannya adalah agar pikirannya tak lagi terusik dengan yang namanya PENANTIAN. Dimulai dengan pagi hari, setelah memberikan ayam-ayam sarapan paginya, barulah Adam di tempat yang telah ia siapkan menikmati secangkir kopi pagi. Sembari menyeruput kopi pagi yang nikmat itu, Adam dengan penuh penghayatan memperhatikan satu per satu ayam-ayamnya itu yang tengah menikmati umpan. Kini, selain rumah, Adam banyak menghabiskan waktunya di tempat keduanya, kandang ayam. Apabila siang dan petang menjelang, ritual menikmati secangkir kopi sembari memberi makan ayam pun terus berlangsung. Dan kini, ayam-ayamnya pun semakin kenal dengan dirinya, mulai dari bau tubuh Adam, cara ia menyesap kopi, bahkan sampai cara ia mengaduk umpan ayam. 

Seandainya sang ayam-ayam itu mampu berbicara tentu dia akan berucap, “Peu ka pungo Tuan lon?” 

Kedua, Kebun Kasih (red: Lam basa Aceh lampoh Jok)

Kebun kasih adalah tempat kedua pelampiasan kegalauan Adam setelah kandang ayam. Baginya kebun kasih adalah tempat pelarian yang sempurna. Sempurna karena di sana ada banyak hal yang dapat dinikmati; suara kicauan burung-burung bermacam jenis, suara monyet yang tengah merayu kekasih, yang tengah menikmati kelamin lawan jenisnya, suara petani yang tengah menghardik babi yang mencuri ubinya, dan suara-suara penghuni hutan lainnya. Saat Adam berada di kebun kasih jiwanya begitu damai, tentram tak terkira. Dan di antara suara-suara itu ada satu suara yang sangat disukai bahkan bisa dikatakan sangat digilai oleh Adam, suara itu adalah suara uereueng peh jok (petani yang tengah memukul tandan ijuk untuk mengambil airnya).

Bila suara itu telah terdengar, jiwa Adam seperti dihela dipanggil menuju sumber suara. Alunan irama pukulannya sangat teratur, terukur, dan juga diiringi dengan hikayat-hikayat yang sangat indah memukau. Bagi Adam suara itu sama juga dengan bisikan Mawar yang mengutarakan cinta kasihnya yang teramat tulus kepadanya. Suara itu layaknya simponi yang mengalunkan not not yang dimainkan dengan penuh penjiwaan. Suara itu ibarat bisikan genit sang istri pada sang suami saat tengah malam tiba. Sebuah bisikan yang mampu menegakkan bulu segala bulu. Maka dari itulah Adam sangat menyukai suara itu. 

Bila telah berada di bawah pohon kasih, Adam akan mengamati si tukang pukul tandan kasih itu sampai selesai. Adam rela berjam-jam menunggu si tukang pukul tandan kasih itu turun. Bagi Adam turunnya sang tukang pukul tandan kasih sama halnya seperti turunnya hujan di musim kemarau. Memberi rahmat dan nikmat. Mengapa bisa sedemikian rupa? Sebab saat si tukang pukul tandan kasih itu turun, ia juga akan membawa turun air kasih segar yang telah di tampung dalam bambu. Bagi Adam, air yang ada tabung bambu itu adalah rahmat yang tiada terkira nikmatnya. Sangking nikmatnya air kasih itu membuat Adam menamsilkan air kasih itu adalah sebentuk air yang bermuasal dari surga. Lalu, oleh Tuhan memerintahkan malaikatnya untuk menaruhnya di dalam tandan pohon kasih.

Adam dan si tukang pukul tandan kasih adalah ikatan yang telah tercatat di buku besar Tuhan. Bagai air dan minyak. “Bagai buah dan batang”. Bagai Laila dan Majnun. Seirama, sehati, dan sepemahaman. Adam sangat paham kapan, pada hari apa, dan pukul berapa si tukang pukul akan menurunkan “air surga” itu dari pohonnya. Begitu juga sebaliknya, Adam juga sangat mahfum benda apa yang harus disediakan buat si tukang pukul ketika mereka kelak akan menikmati air surga itu. Benda itu adalah mie caluk, Dji Sam Su, dan Bakong Aceh!!!

Bagi si tukang pukul tandan kasih, kenikmatan kedua setelah kenikmatan bercinta dengan perempuan halal tak lain adalah menikmati air kasih tersebut bersama Adam. Bagi Adam ini adalah kenikmatan pertamanya. Lalu mereka akan menikmati air kasih itu sesapan demi sesapan di atas jambo yang telah tersedia. Rasa air yang bernuansa asam buah itu membuat pikiran Adam terbang melayang melanglang buana ke negeri jauh. Sesekali dihisapnya dalam dalam Dji Sam Su yang tembakaunya telah dimodifikasi dengan Bakong Aceh. Kemudian disuapnya mie caluk made in Cutpo Rahmi Mudri yang penuh cita rasa itu. Akhhh, nikmat sekali. 

Bila telah mencapai klimaks kenikmatan, sungguh kejiwaan Adam aman, damai, dan tentram. Ia benar-benar melupakan perkara yang selama ini telah mengusiknya. Perkara pengumuman yang selama ini tak kunjung berwujud. Air kasih benar-benar menentramkan jiwanya di tengah hutan yang damai di atas jambo yang kokoh. Tapi itu semua hanya berlangsung dalam hitungan jam. Setelah dosis kenikmatan itu berakhir, sang pengusik kembali menggoda kejiwaan Adam. 

Ketiga, Kandang Kambing

Di dalam buaian kenikmatan yang tiada tara itu, Adam masih menyisakan kewarasannya. Ia sangat sangat sadar bila terus bercinta kasih dengan air kasih kemungkinan besar kejiwaannya akan meloncat pada jalur yang lain. Jalur mengerikan dan penuh kegilaan. Ia sangat sadar bahwasanya di pelosok nun jauh di sana masih banyak jiwa-jiwa yang membutuhkan kejeniusannya. Nun jauh di sana masih banyak bocah-bocah yang butuh cahaya kecerdasan darinya. Bersebab itulah Adam berhenti sejenak dari air kasih. 

Kali ini siasat untuk menghalau sang pengusik jiwa adalah kandang kambing. Adam akan menghabiskan hari-harinya di kandang kambing. Seperti halnya kala ia membenahi kandang ayam, misi kali ini adalah membenahi kandang kambing. Di sana Adam akan merapikan tempat pakan. Men-setting ulang posisi bubung yang telah reot. Membetulkan tangga buat sang kambing masuk ke kandang. Membetulkan kawat pagar yang telah dihancurkan oleh babi liar. 

Setelah beberapa hari mencumbui bau-bau asam buah yang terlalu nikmat, kali ini hidung Adam harus berhadapan dengan bau yang menjijikkan; bau air seni kambing (bee chung iek kameng: red. bahasa Aceh). Tapi di tempat ini Adam tak banyak menghabiskan waktunya. Itu semua karena kambing. Ya, hanya karena kambing. Sejatinya ada banyak hal yang akan dilakukan oleh Adam di sini. Akan tetapi, bersebab seekor kambing jantan yang mengamuk, semua hal yang tengah direncanakan itu diakhiri tidak sesuai prosedur.

Kala itu, di saat energi semangat Adam tengah klimaks untuk merapikan setiap sudut kandang kambingnya, ada seekor kambing jantan dengan penuh power menanduk selangkangannya. Adam meraung kesakitan. Adam tak tahu entah ada dendam apa si kambing pada dirinya, hingga dengan tiba-tiba sang kambing murka padanya. Yang ada, kemarin hari tanpa sengaja Adam melempar batu mengusir bebek yang masuk beramai-ramai ke dalam kandang kambing. Tanpa sengaja, lemparan Adam meleset. Batu yang dilempar Adam berakhir menghantam biji pelir sang kambing. Kambing jantan yang pelirnya dihantam batu memandang ke arah Adam penuh khidmat; layaknya seseorang yang tengah merekam wajah sang musuh sedetail mungkin.

Selangkangan sakit tak terkira ditambah lagi yang dinanti belum juga diumumkan membuat kejiwaan Adam kian tercabik. Marah. Kesal. Emosi meletup-letup. Adam pun berjanji dalam hati, esok hari ia akan membalas dendamnya. Tapi dendam itu tak sempat terbalaskan sebab tanpa sepengetahuan Adam, kambing itu telah di jual oleh sang ayah di pasar jegal. 

Keempat, Sungai dengan segala kesunyiannya dan sebuah “Hadiah”

Sungai adalah tempat terakhir pelarian kegalauan kejiwaan Adam. Ada alasan tersendiri bagi Adam mengapa ia memilih sungai sebagai tempat menenangkan kejiwaannya. Sungai di kampungnya memiliki alur yang panjang dan bermuara ke laut. Riak air di sana tenang sekali. Meskipun tenang tapi tetap menghanyutkan. Tak banyak sampah di sana. Airnya hampir bening. Dan yang menjadi pujaan orang-orang kampung Adam pada sungai itu adalah ikan-ikan yang ada di sana. Mulai dari ikan Bacee, Seungko, ikan Krup, hingga ikan Nila. Dan diantara ikan-ikan itu, ikan Mujair adalah ikan yang menjadi bintangnya. 

Memancing sama dengan melatih kesabaran. Pemancing tentunya tak pernah tahu seberapa banyak ikan di dasar sungai. Begitu juga sebaliknya, sang ikan juga tak pernah tahu umpan jenis apa yang dipasang di ujung mata pancing. Dan kadang-kadang, sang ikan sengaja tak memakan umpan yang ada di depannya itu. Sang ikan ingin mengetes sejauh mana kesabaran si pemancing. Begitulah siklus itu berjalan hingga pada akhirnya kadang-kadang sang ikan terangkat juga dari dasar kehidupannya. Di lain sisi, kadang-kadang sang pemancing pulang dengan hasil hampa. 

Kali ini, Adam sudah berniat di dalam hati untuk menghabiskan banyak waktunya di sungai. Ia ingin melatih kesabarannya. Tujuannya sangat jelas agar ia mampu menjinakkan kegalauan jiwanya akan sebuah penantian itu. 

Hari pertama Adam memancing sejak pagi pukul 10.00 hingga senja menyapa tak ada hasil. Kesabarannya mulai dilatih. Hari kedua Adam memancing dimulai dari pukul yang sama hingga berakhir dengan jam yang sama dan hasilnya pun masih sama. Kesabaran adam mulai terbentuk. Di hari ketiga, pancing Adam diganggu ikan, tetapi saat ia membalas yang menyangkut di mata pancingnya adalah bekas pembalut wanita. Adam masih sabar. Kali ini sabarnya diiringi dengan sebuah senyum kecil. Di hari keempat, pancing Adam tak bergerak sama sekali. Hingga waktu senja tiba tak ada ikan yang memakan umpan kailnya. Kesabaran Adam hampir sempurna. Pada hari kelima, pancing Adam disambar Bacee, namun saat ia membalasnya, sang Bacee berhasil melepaskan diri dari mata pancing Adam. Adam mulia bergairah dan kesabarannya hampir sempurna. Pada hari keenam, Adam bagaikan patung tak bernyawa yang duduk di pinggir sungai. Kailnya sama sekali tak disentuh ikan. Saat ia mengangkat kailnya yang sangkut di sana adalah seonggok karet yang kemudian ia tahu bahwa itu adalah kondom. 

Kesabaran Adam yang selama ini mulai dilatih sudah terlihat retak. Dalam hati kecil ia pun berkata, bila esok tak juga ada hasilnya, maka ia akan murka. Ia akan mematahkan pancingannya itu. Hari ketujuh Adam pun melemparkan mata pancingnya. Satu jam, dua jam, tiga jam, kailnya hanya diganggu saja tidak disambar. Menjelang pukul 15.00 mata pancing Adam benar-benar di sambar. Saat ia membalasnya sang ikan sempat tersangkut di mata pancing namun lagi-lagi ia berhasil kabur. Adam pun murka. 

“Ikan setan, sungguh kau adalah makhluk yang penuh PHP seper…” belum selesai Adam menyempurnakan kalimatnya, mata Adam tertuju pada sebuah pemandangan yang menakjubkan. 

Seekor Seungko besar di salah satu akar pohon pinggir sungai sedang mengintai umpan. Adam memasang kuda-kuda. Mata pancing langsung dipasang kodok. Selesai. Adam langsung melempar mata pancing tak jauh dari sang ikan. Di tengah penantian umpan disambar, mata Adam tanpa sengaja melihat seorang perempuan cantik di pinggir sungai yang tengah menabur bunga melati ke sungai. Wanita itu sungguh cantik sekali. Secantik Raline syah, sebohai Raisa. Adam terkesima. Ini pemandangan langka baginya. Matanya lazat menikmati keindahan si perempuan. 

Beberapa puluh menit kemudian, umpan pancing Adam disambar. Adam kalah cepat. Disaat Adam hendak membalas pancingannya itu, Seungko besar itu lebih dulu membawa kabur mata pancing beserta kailnya. Adam murka. Pancingannya kian dibenamkan ikan ke dasar sungai. Adam merasa kehilangan!

Tak ingin berlama-lama dalam kesediham, Adam kembali fokus pada sang wanita cantik di pinggir sungai itu. Didekatinya perlahan-lahan. Didekatinya lagi perlahan-lahan. Dan kini Adam berada tepat di samping sang wanita cantik. Ini benar-benar manusia bukan hantu. Entah rayuan maut dan doa pengasih milik siapa yang dipakai Adam yang jelas saat itu juga sang wanita memeluk Adam. Memeluk erat seperti seorang ingin melepaskan rindu membara.

Di pinggir sungai yang sunyi. Entah ini adalah garis takdir Adam seperti yang telah tercoret di dalam buku besar, hanya Tuhan yang tahu. Di dalam ilalang yang lembut, Adam dan wanita cantik itu pun berguling-guling manja. Saling memeluk. Saling menindih. Saling mendesah. Tak ada percakapan diantara mereka, yang ada hanyalah pukulan-pukulan kecupan penuh kasih sayang. Ah, rezeki apa ini, Adam tak pernah tahu. Apakah ini adalah buah daripada kesabarannya? Di juga tak tahu. 

“Peperangan”selesai!!!

Seperti tak pernah terjadi sesuatu, Adam dengan penuh percaya diri memulai percakapan dengan wanita cantik itu.

“Kau tahu, Dik, bunga melati yang telah kau tabur di atas air sungai ini telah mengejutkan ikan-ikan yang ada di dasar sungai. Oleh sebab itulah, mereka tak lagi memakan umpan pancingku,” ucap Adam.

“Oh ya? Kalau begitu maafkan aku, Bang!”

“Ouh, itu tidak jadi masalah. Lagi pula ikan-ikan di sini juga banyak PHP-nya,” jawab Adam. “Ngomong-ngomong, adik ini siapa dan di mana rumahnya?”
“Saya Hawa si Penunggu Melati, Bang. Rumah saya di Kuta Raja!”

“Penunggu Melati? Apakah melati yang kini sedang ditunggu oleh banyak orang itu?”
“Iya, Bang!”

Mendengar jawaban dua kata itu, Adam langsung terdiam mematung. Organ yang sejengkal berada di bawah pusatnya baru saja bahagia, tetapi organ yang sejengkal di atas pusatnya itu sesak, sakit bagai kena hantaman palu besar. 

Pikiran Adam melayang jauh. Kini Adam hilang ingatan.***


                                                                                                                 Labuhanhaji, Maret 2017
 
Berani share, HEBAT ...













Tuesday, 2 August 2016

Kamu Harus Pulang, Yoni!


Malam itu hening sekali. Di luar rintik kecil hujan turun dengan sangat lembut. Di kedai, aku tengah duduk seorang diri menikmati nuansa kesyahduan malam itu. Lalu, beberapa saat kemudian, terdengarlah deru sepeda motor di depan kedai. Dari balik helm yang dipakai, aku melihat sesosok lelaki berkacamata. Dia Yoni.

Yoni Prawardayana seorang lelaki jangkung berkulit putih dengan kacamata sebagai asesoris penghias wajahnya. Malam ini dia akan menyampaikan perkara perpisahannya kepadaku. Kami pun bercerita panjang lebar. Mulai dari segenap kisah yang pernah dialami di tanah Jawa sana, hingga cerita tentang kengerian harga emas yang semakin mengila yang berefek pada jerit tangis dara Aceh karena tak ada yang melamar dan juga berimbas pada kesepian pemuda Aceh ketika jam dinding menunjukkan angka 00.00 WIB.

Yoni ditempatkan di Aceh pada hari Selasa, 18 Agustus 2015 lewat sebuah program Kemendikbud yang bernama SM-3T. Dia akan berada di tanah Aceh selama satu tahun lamanya. Lelaki yang berasal dari Malang ini (dari LPTK Malang) sebenarnya menginginkan penempatan di tanah Papua. Tapi garis takdir telah terukir dia harus dicampakkan di tanah mulia para Aulia Tuhan, Tanah Aceh!

Di tanah para aulia ini dia ditempatkan di sebuah sekolah bernama SMA Negeri Unggul Darussalam Labuhanhaji bersama seorang perempuan yang agak sehat berasal dari Padang dan juga mengikuti program SM-3T. Bila malam telah tiba, guru muda yang mengajarkan pelajaran Sejarah ini ditemani oleh seorang temannya yang juga sama-sama berasal dari Malang bernama Yuda. Temannya itu membidangi pelajaran Penjaskes.

Seiring waktu berlalu, Yoni semakin mantap menjiwai hidup di tanah Aceh, tepatnya di Labuhanhaji. Dia mulai merasakan tanah air Labuhanhaji. Mulai merasakan masakan perempuan Labuhanhaji. Menikmati udara segar hutan Labuhanhaji. Matanya dimanjakan oleh kecantikan-kecantikan gadis-gadis Labuhanhaji keturunan Arab-India. Mendapatkan anak didik yang cerdas, cantik, batat sikit─tetapi memiliki semangat belajar yang tinggi, dan juga anak didik yang tampan-tampan subhanallah. Selain itu, Yoni menemukan sesuatu sebagai pelengkap penjiwaannya atau bisa disebut anugerah Tuhan yang luar biasa selama hidup di tanah Labuhanhaji, Yoni menemukan lelaki-lelaki sopan, tampan, menawan, penuh pengalaman hidup, baik, dan juga humoris di sekolah tempat ia bertugas. Lelaki itu adalah Pak Sem, Pak Yusri, aku, Pak Junaidi Dongoran, Pak Riski Ilahi, dan juga Pak Dedi wan Saputra.

Kata Yoni, lelaki-lelaki ini tak mampu dilupakan olehnya ketika dia telah berada di tanah Jawa kelak. Sebabnya adalah pada setiap harinya, ada saja sejarah yang tercipta antara dia dan para lelaki itu. Dengan Pak Sem misalnya, ada saja debat-debat kecil yang berujung dengan kalimat, “Kamu ngejek saya?” ucap Pak Sem. Bersama Pak Riski, Yoni selalu saja kena perangkap “Batmannya Riski”. Ada saja perkara yang diciptakan Pak Riski yang berujung pada kesialan Yoni. Dengan Pak Junaidi, sang Yoni harus selalu melapor kepadanya bila hendak melakukan kegiatan yang melibatkan anak didik, sebab Pak Junaidi berperan sebagai Wakasis. Kadang-kadang Yoni mendapat hadiah “semprotan bataknya” pak Junaidi. Hahaha. Untuk panutan perangkat elektronik, perkara sarana sekolah, semisal printer, listik, bola lampu, jaringan wifi, Yoni harus dengan penuh kesopanan menghadap Pak Yusri.

Bersama dengan Pak Dedi wan Saputra, Yoni selalu diajarkan cara memegang raket yang benar. Namun, ketika melakukan praktiknya di lapangan, Yoni selalu saja memegang raket dengan cara yang salah. Dan saat melakukan pertandingan kecil-kecilan, dia selalu menjadi orang yang kalah. Tuh, rasain. Memangnya enak! Bila lagi denganku, Yoni banyak curhat. Mulai dari curhat masalah blognya, kekasihnya yang sedang mengabdi di tanah papua, curhat masalah yang dihadapi dengan anak-anak didik, dan juga dengan sekolah. Dan aku selalu melayani curhatnya itu lalu memberinya saran dengan logat Aceh yang begitu kental.

***

Selama berada di tanah Labuhanhaji, sebetulnya Yoni sudah kena pasal Rasis. Ya, bila aku berbicara, selalu saja ia mengulang perkataanku yang kental dialek Acehnya. Setelah itu, dia tertawa lebar. Merasa puas. Berangkat dari hal itu, mulailah aku mengulang perkataan yang dia ucapkan dan memasukkan unsur jawanya. Ketika aku melakukan itu, Yoni menatap wajahku. Melihat itu, aku pun tertawa lebar. Merasa puas!

Yoni waktumu sekarang sudah habis. Pada bulan ini kamu sudah segenap setahun berada di tanah para aulia Tuhan ini. Kamu harus pulang, Yoni. Kembali ke tanah Jawa. Kami tahu, selepas engkau pulang nanti, sekolah yang sangat kamu cintai ini akan kehilangan sesosok yang lucu seperti dirimu. Kami yang kamu tinggali tak tahu harus kemana lagi mengalamatkan perangkat bully yang sudah kami persiapkan. Nanti pada tanggal 5 Agustus 2016 kami akan sangat merasakan kehilanganmu. Kami tapi tidak akan menangis. Yoni, tak ada lagi yang menggoreng tempe di dapur sekolah. Kami tak bisa lagi mengeroyok saus ABC kesayanganmu itu sampai tewas bila datang bakwan gratis atau bila kami lagi makan mie bakso. Pokoknya kami sangat merasakan kehilanganmu, wahai Yoni tukang foto di sekolah.

Lewat coretan ini, Yoni, pesanku, berterimakasihlah kamu kepada Tuhan, kepada program SM-3T, dan kepada tanah yang kita cintai ini. Karena dengan itu, kita dipertemukan dalam jarak dan waktu yang tak disangka-sangka. Sayonara Yoni Prawardayana. Selamat kembali ke tanah Jawa dan juga selamat menikmati nikmatnya masakan orang tua. Meskipun kamu selalu terjatuh dalam perangkap bullyan kami, kami berharap agar kamu selalu mengenang kami dalam bingkai yang takkan lekang dan pudar oleh waktu kehidupanmu. Sampai bertemu kembali Yoni Prawardayana di lain waktu dan lain kesempatan. Oh ya, jangan lupa kamu ceritakan pada teman-temanmu di sana nanti kalau lelaki-lelaki tampan kini semakin langka. Yang masih tersisa hanya tinggal di SMA Negeri Unggul Darussalam labuhanhaji. Mereka adalah lelaki yang kusebutkan di atas. :-P ***


Labuhanhaji, Agustus 2016

Sunday, 22 November 2015

SM3T Itu, Mandinya Bareng Kecebong


Ini adalah sepotong kisah yang saya alami sewaktu mengikuti program SM3T. Program yang tak asing lagi bagi para guru muda di seantero tanah air Indonesia. Program yang dicetus oleh orang-orang hebat di Dikti ini mengajak guru-guru muda yang memiliki jiwa petualang untuk mengabdikan diri mendidik anak-anak negeri yang ada di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) dengan tujuan memajukan pendidikan di Tanah Air Indonesia.

Menyebut daerah 3T tentu terbayang di kepala kita sebuah daerah yang ekstrem. Sebuah daerah yang serba serba kekurangan. Daerah yang kenikmatan kemerdekaannya belum mencapai 100%. Ada banyak kekurangan yang akan kita dapati bila kita mau menyebutnya satu per satu. Mulai dari jalan yang tak bagus. Listrik tak ada; kadang-kadang ada dan itu pun cahayanya sudah diatur (menyala pukul sekian dan wafatnya pukul sekian!). Sinyal tak ada (kalau ada pun mesti manjat pohon-pohon yang tingi di atas bukit atau gunung yang tinggi pula). Kekurangan air bersih. Transportasi susah. Dan tentunya banyak tantangan yang dihadapi. 
 
Semua kekurangan yang ada di daerah 3T itu akan menjadi sebuah kenangan yang manis bila kita bersedia menjadikannya sebagai sebuah kenangan yang manis. Tak menutup kemungkinan juga semua kekurangan yang ada di daerah 3T itu akan menjadi musibah bagi kita jika kita memikirkan semua kekurangan itu adalah musibah. Itu tergantung pada pribadi masing-masing tentang bagaimana otak kita memikirkan semua kekurangan tersebut. Tetapi bagi saya kekurangan yang ada di daerah 3T itu menjadi sebuah kenangan yang manis. Alasannya, ya karena selama ini saya hidup di daerah yang serba ada. Jadi, di saat saya ditempatkan di daerah yang serba kekurangan itu, saya menjadi sadar bagaimana nikmatnya hidup di daerah yang lampunya menyala 24 jam dan bagaimana pula hidup di daerah yang lampu telah diatur waktu hidupnya dan telah ditentukan pula waktu wafatnya. Saya jadi sadar bagaimana susahnya hidup di daerah yang untuk mendapatkan sinyal handphone-nya saja kita harus berjuang mati-matian manjat pohon yang tinggi atau mendaki bukit/gunung yang tinggi dulu untuk mendapatkan sang gadis yang bernama sinyal.

Saya adalah alumni SM3T angkatan ke-2 skala nasional dan angkatan ke-1 untuk skala provinsi Aceh. Berkat doa kedua orang tua dan juga doa teman-teman saya yang baik hati, saya akhirnya ditempatkan di salah satu daerah 3T yang terindah di dunia (menurut saya), yaitu di Kepri, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Anambas. Waktu itu kami yang berasal dari Aceh, LPTK Unsyiah, dengan jumlah peserta SM3T sebanyak 301. Dari 301 peserta itu kami akhirnya “dibuang” di tiga provinsi yang ada di Indonesia yaitu, Kepulauan Riau (Kabupaten Kepulauan Anambas), Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Barat. Sebanyak 126 orang di tempatkan di Kabupaten Kepulauan Anambas. Selebihnya “dibuang” di NTT dan Kalbar.

Saya tidak pernah bermimpi untuk hadir di daerah 3T, Kabupaten Kepulauan Anambas. Karena sewaktu saya lulus tes perekrutan SM3T, yang saya tanamkan di dalam benak saya adalah selama satu tahun ke depan saya akan berada di daerah ekstrem. Saya akan berada di daerah yang serba kekurangan. Itulah yang saya tanamkan dalam benak saya. Intinya, pada waktu itu, saya bertekad di mana pun saya ditempatkan untuk mencerdaskan anak negeri saya siap 1000 persen! Ternyata Tuhan menempatkan saya di daerah yang sangat indah meskipun daerah itu digolongkan ke dalam daerah 3T.

Akhirnya, kami yang berjumlah 126 orang itu disebar di beberapa pulau (yang sudah ditentukan oleh dinas pendidikan) yang ada di Kabupaten Kepulauan Anambas. Ada yang mengajar di SD, SMP, SMA, dan juga SMK. Setelah melihat nama-nama yang tertera di atas kertas yang dibagikan oleh pihak dinas setempat, ternyata saya ditempatkan di sebuah SMA yang ada di pulau Palmatak, desa Tebang. SMAN 1 Palmatak namanya. Di pulau Palmatak kami berjumlah 26 orang dengan tempat tugas yang berbeda-beda. Mulai dari SD, SMP, SMA, dan MTs, hingga MA.

Masing-masing kami yang ditempatkan di Pulau Palmatak punya cerita tersendiri, baik itu tentang sekolahnya maupun tentang tempat tinggalnya. Cerita teman saya yang penempatan di Mts akan berbeda dengan cerita teman saya yang bertugas di SMP dan tentunya akan berbeda lagi dengan teman-teman saya yang menjalankan tugas di SD. Begitu juga kisah saya yang berada di SMA akan berbeda dengan kisah yang dialami oleh teman-teman saya yang bertugas di MA (Madrasah Aliyah) baik itu kisah tentang sekolah mereka maupun kisah tentang tempat tingal mereka. 

Sekali waktu saya bersama teman bernama T Andizal−Guru Olahraga yang mengajar di salah satu SD di Pulau Air Asuk−berkunjung ke kediaman Ade Fauzi, Yudi, dan Sarwo Edi di MA. Mereka tinggal di rumah dinas milik sekolah. Kediaman mereka tinggal memang sedikit angker. Di depan dan samping rumah dinas terhampar ilalang setinggi bahu orang dewasa dan tumbuh di atas rawa-rawa. Di belakang rumah mereka pohon-pohon rumbia tumbuh subur. Bila malam tiba suasana sungguh sangat hening. Mencekam. Hanya ada suara kodok bersahut-sahutan bernyanyi. Sesekali diiringi suara jangkrik malas dan juga suara cacing tanah yang sedang “eh-oh” dengan kekasihnya. Sore hari bila kita beruntung maka akan terlihat seekor biawak yang ukurannya cukup besar dengan lidah menjulur-julur keluar. Lain lagi cerita bila pagi menyapa. Bila pagi menjelma telinga kita akan sedikit bahagia karena dari balik semak rawa-rawa itu akan terdengar bermacam-macam kicauan burung. Tentang makhluk halus yang bernama hantu itu jangan ditanya lagi, mereka bertiga itu sudah kebal dengan gangguannya.

Dalam kunjungan kali itu, kami memang berniat untuk bermalam di kediaman mereka. Petang menjelang. Kami pun pergi mandi bersama. Ade Fauzi−guru Olahraga−membawa kami ke sumur yang tak jauh dari rumah mereka tinggal. Kala itu Sarwo Edi−guru yang mengajar mata pelajaran Kimia− dan Yudi−guru Matematika−sudah selesai mandi. Sepanjang perjalanan menuju sumur, kulihat Ade Fauzi membawa serta saringan teh yang diambil dari kantor sekolah. Barang aneh yang dipegang oleh Ade Fauzi menarik perhatianku dan juga T Andizal.

“Untuk apa kamu bawa saringan teh sekolah ke sumur, Ade?” tanyaku.

“Mmm … ini akan kamu perlukan nantinya,” jawab Ade Fauzi santai.

Penjelasan Ade Fauzi cukup singkat. Lantas aku dan T Andizal pun saling memandang. Kami tiba di sumur. Ade Fauzi langsung buka baju. Basahannya hanyalah celana bola berlambang Realmadrid. Peralatan mandi serta saringan teh di taruh di tempat yang tak jauh dari sumur. Ia langsung menimba air dan menyirami tubuhnya. Sudah lima timba air menyirami tubuhnya. Aku dan T Andizal masih buka baju, buka celana. Sebagai basahannya kami hanya memakai celana dalam saja, karena di tempat itu kupastikan tidak ada seorang gadis pun yang melintas karena sumurnya dikelilingi dengan ilalang. Hihihi.

Ketika aku dan T Andizal bersiap-siap untuk menimba air, kulihatlah Ade Fauzi menuangkan air yang ditimbanya ke dalam ember besar yang ada di dekat sumur. Saat itulah pertanyaan mengapa Ade Fauzi membawa saringan teh ke sumur dengan sendirinya terjawab. Di dalam ember besar itu, kulihatlah berpuluh-puluh kecebong kecil-kecil imut dan menggemaskan. Mereka hitam berekor. Berenang dan saling kejar-kejaran mengelilingi ember. Aku dan T Andizal saling berpandangan lalu tersenyum-senyum.

“O, Potallah na jih (kecebong) lagoe lam mon nyoe,” ujar T Andizal seraya melihat lebih dekat lagi sumur yang airnya akan ditimba sebentar lagi. (Ya Allah, ada kecebong rupanya di dalam sumur ini).

Ade Fauzi mulai beraksi. Saringan teh mulai ia tugaskan untuk menjaring kecebong-kecebong yang ada di dalam ember itu. Aku suka apa yang baru saja dilakukan oleh Ade Fauzi. Kuambil saringan teh dari tangan Ade Fauzi, lalu mulailah kejahilanku beraksi menjaring kecebong-kecebong yang tak berdosa itu yang ada di dalam ember.

Kini aku asyik menjaring kecebong yang ada di dalam ember. T Andizal mulai menyirami tubuhnya.

“Andi, nyan bak get-get bek sampe ditamong aneuk abik-abik (kecebong) lam babah. Aneuk abik-abik nyan meugigoe, bak get-get, bek sampe dikap “dek gam” kah yang lam sempak nyan,” ucapku sambil tertawa terbahak-bahak. (Andi, hati-hati jangan sampai kecebong itu masuk ke dalam mulutmu. Kecebong itu bergigi, hati-hati, jangan sampai digigit “burungmu” itu).

Mendengar itu, Ade Fauzi juga turut tertawa bersamaku. Aku semakin asyik menjaring kecebong-kecebong yang ada di dalam ember itu. Sifat kekanak-kanakanku pun muncul; sambil menjaring kecebong-kecebong itu, aku berbicara dengan kecebong-kecebong yang ada di dalam ember itu. Hihihi.

“Ayooo, kecebooong, selamatkan diri kalian, pukat harimau sudah mendekati kalian ini. Mereka akan menjaringmu,”ucapku sambil memainkan saringan teh itu di dalam ember.

Air di dalam ember kini telah steril dari kecebong. Melihat itu, aku, Ade Fauzi, dan juga T Andizal segera menggosok gigi. Setelah selesai, Ade Fauzi langsung membilas tubuhnya untuk yang terakhir dengan air di dalam ember yang telah bersih dari kecebong itu. Begitu juga dengan T Andizal.

“Airnya jangan dihabiskan. Tinggalkan juga buat aku untuk bilasan terakhir,” ucapku pada mereka.

Akhirnya, kami bertiga pun selesai mandi sore itu. Seperti biasa, setelah selesai mandi kami pun “bersolek” meskipun mandi bareng para kecebong. Ketampanan mesti tetap dijaga meskipun sebelumnya kami mandi bersamaan dengan para kecebong. Apalagi gadis-gadis yang ada di pulau itu pun ramai yang tertarik pada kami. Kata mereka bapak-bapak Aceh banyak yang ganteng dan manis-manis.

Itulah sepotong kisahku dan teman-teman selama berada di daerah penugasan. Untuk itu, bagi kamu anak muda yang punya jiwa petualang, ikutlah SM3T. Selain bertugas mendidik dan mencerdaskan anak bangsa, mana tahu di daerah penempatanmu kelak kamu punya cerita mandi bareng biawak, mandi bareng merpati, atau mandi bareng penguin. Mana tahu ya kan?! Maka dari itu, sekali lagi, ikutlah program hebat ini biar kamu tahu luasnya tanah Indonesia. Biar kamu tahu suku adat dan budaya yang ada di tanah Indonesia. Biar kamu semakin cinta dengan gadis yang bernama INDONESIA.***



                                    -Ditulis setelah mandi bareng kecebong di Tanah Anambas   



 oleh: Azmi Labohaji


Berani share??? Hebat!!!   

Monday, 27 April 2015

[Bukan] Surat [Cinta] buat Kira




Kira tertariknya aku padamu itu bermula dari segenap keanggunan yang kaumiliki. Keanggunanmu itu terpancar terang lewat potret-potret yang kauunggah melalui media sosial yang bernama facebook. Aku menilai keanggunan yang kaumiliki itu sungguh sempurna karena ia dibalut dalam kesahajaan yang tak dimiliki oleh gadis-gadis lain. Aku sangat menyukai itu. Sungguh!

Kemudian genap hari dan genap malam sebelum aku meninggalkan Kuta Raja bersebab karena studiku telah habis masa, hari-hari dan malam-malam aku terus dihantui oleh bayang keanggunan dan kesahajaanmu itu. Aku tak kuasa melawan bayang itu untuk tidak menghantuiku lagi. Ia seperti udara yang membelaiku kapan ia mau dan tak kenal waktu. Seperti nyamuk yang selalu ingin mencintai tubuhku saban malam. Bagai matahari yang tiada memilih kasih untuk menerangi bumi. Aku ingin mengumpamakan lagi keanggunan Kira. Keanggunan yang dibungkus kesahajaan pada Kira adalah kelangkaan seumpama batu akik mulia yang bernama indocrase yang semua orang berhasrat tinggi untuk memilikinya. Sebagaimana indocrase yang tersembunyi jauh di dalam bebatuan dan bersemayam di pegunungan Nagan Raya, Kira pun tersembunyi jauh dalam likuk-likuk tempat yang teramat damai di desa di tepian Kuta Raja. 

Tentu semua orang bertanya-tanya dan ingin tahu di mana pula aku menemukan Kira yang seumpama indocrase itu??? Yang jelas aku bukan menemukannya di Nagan Raya dan bukan jua di desa tempat ia bersemayam saban waktu. Aku menemukannya pada gedung megah pencetak guru, FKIP namanya. Selanjutnya, kutelusuri lebih jauh ia lewat dunia maya. Ya, seperti itulah rupa keanggunan dan kesajahaan, Kira. Sungguh dahsyat, bukan??? Lalu aku bertanya pada angin saat aku sendirian, lelaki mana yang tak menginginkan keanggunan yang dibalut kesahajaanmu itu, Kira?

Pada subuh sebelum matahari terbangun dari lelapnya, tepatnya selepas aku menyembah Sang Pencipta, keanggunanmu itu semakin menggila meraung-raung dan mengaduk-aduk dadaku yang di dalamnya ada segumpal daging yang bernama hati. Jujur aku tak kuasa menahan itu! Musabab tak tahannya aku akan raungan dan adukan ngeri itu, lalu dengan penuh kesadaraan aku menghubungimu yang kala itu kau masih memeluk erat bantal panjang kesayanganmu. Kau pun terjaga karena raungan handphone yang terus memainkan nada deringnya  pertanda ada sebuah panggilan masuk. Ya, itu aku!

Dari balik handphone aku mendengar suaramu yang baru saja terjaga. Aku tahu kala itu kau belum bersih untuk menghadap Tuhan maka aku pun tak menanyakan perkara apakah kau telah selesai shalat atau belum. Sebagai pengantar dalam pembicaraan pagi itu sebelum kuutarakan isi hati, aku pun bertanya banyak hal padamu; tentang mimpi malammu, tentang jumlah nyamuk yang telah berhasil mencumbui tubuhmu lewat jarumnya nan maharuncing, juga tentang kabar hatimu pada pagi itu. Lantas kau pun menjawabnya seperti air mengalir dengan suara merdu yang kaumiliki. Kemudian pada menit yang tak kutahu lagi, kita pun sama-sama terdiam untuk durasi waktu yang singkat. Memecah keheningan pagi itu, kau pun bertanya padaku apakah aku telah selesai melaksanakan perintah Tuhan. Aku pun menjawab sudah kulakukan. 

Selepas kau tanyakan perkara itu padaku, kita kembali membisu. Hanya deru angin pagi yang terdengar dari balik handphone. Kali ini dengan segenap keberanian, sambil membenarkan letak kopiah dan kain sarung, aku pun langsung mengutarakan isi hati itu. Langsung kukatakan padamu bahwa setelah beberapa hari aku melihat gerak-gerikmu lewat potret di facebook, lewat pertemuan kita di kantin di atas kolam ikan FKIP, dan juga pada saat kita bersama menikmati angin senja di sebuah tempat di sudut Ulee Lheue yang bernama Kuala Cangkoi, aku nyatakan bahwa aku memiliki rasa atas dirimu. Ya, aku jatuh hati padamu!

Saat kuutarakan kata itu kau terdiam membisu seolah-olah tak percaya akan kata yang baru saja aku muntahkan dari mulutku. Saat kuucapkan kata-kata itu seolah-olah kau merasa dirimu masih dalam buaian mimpi. Aku kembali mengulang kata-kata itu. Ya, sungguh aku menyukaimu, Kira! Kau tak sedang bermimpi aku juga demikian. Kuutarakan kata-kata ini dengan penuh kesadaran yang kumiliki di awal pagi ini. 

Kemudian kau kembali bersuara lewat handphone setelah beberapa saat terdiam mencari jawaban atas ucapanku itu. Seketika itu juga kau balas ucapan hatiku dengan sejumlah alasan yang kata-katanya tertata rapi, penuh makna, dengan tujuan meyakinkanku. Singkatnya, pagi itu kau belum menerima rasa yang kumiliki ini!

Aku lantas tak langsung patah hati atas ucapanmu pada pagi itu. Alasannya ialah karena jauh sebelum aku mengagumi keanggunanmu itu, aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa setelah berpisah dengan perempuan yang lahir di bulan Juni itu, aku takkan melangsungkan percintaan (baca: pacaran) lagi dengan segenap gadis. Bila telah tiba waktunya sesuai perjanjian Tuhan denganku, tentunya saat aku sudah matang secara mental dan finansial, aku akan segera menikahi tulang rusukku (baca: jodoh) itu dan menjadikannya pendamping hidup. Namun, keanggunanmu mengalihkan duniaku dan menghancurkan perjanjian yang telah kubuat antara diriku dengan hatiku!

Pada hari yang tak terhitung lagi, aku masih menghubungimu lewat handphone, media sosial (BBM, facebook), sekedar bertanya kabar, menanyakan makan siang, makan malam, sarapan pagimu, dan juga menanyakan kabar tentang hatimu. Ah, itu kulakukan tanpa ada maksud agar kau menerima rasa itu. Itu terus terjadi seiring waktu hingga tiba pada sekali waktu aku yang sedang membawa segenap rombongan (teman-teman PPG; Sayed Munandar, Diba Rizki ‘Jersey’, Zal ‘Bg’, Pak Sem KW, Bang Mustaqim, Abi Khalifah, Zaldi ‘selalu cot iri-selalu cot iri’, Ali Yuzar ‘the Gunner’, Adun Mustafa Karo-Karo, yang berwisata ke daerah yang sangat terkenal di Aceh yakni Aceh Selatan. Sekedar informasi mereka ingin melihat tapak kaki terbesar di dunia peninggalan orang Alim, Tuanku Tapa, yang ada di Tapaktuan) mendapat pesan singkat darimu yang mana di dalam pesan tersebut kau menyapaku dengan sapaan yang ada unsur kata ‘sayang’-nya. Aku terkejut. Merasa tak percaya, kubaca pesan singkat itu dengan amat pelan kata per kata hingga dua puluh kali. Baru kemudian aku percaya ini benar pesan singkat darimu. Sepanjang perjalanan itu aku tersenyum seorang diri di belakang Pak Sem dan berteriak-teriak kencang bila hatiku kegirangan.

Setelah hari berganti  minggu. Minggu berganti bulan. Kita masih saja bertanya kabar seperti biasa dan juga menggunakan sapaan seperti yang kusebutkan di atas. Namun, semenjak aku terbaring lemah bersebab kepalaku sakit teramat sangat, sejak itu pula aku tak lagi mendengar kabar tentangmu. Manjaan terakhir darimu yang masih kuingat hanyalah seuntai kalimat yang berisi perintah, “Sudah, minum obat sana biar kepalanya ngak sakit lagi, Abang.” Aku hanya mengiyakannya saja, tetapi obat yang kuanggap racun hasil racikan orang-orang ahli itu tak juga kutengak.

Aku seperti kehilangan Kira, tetapi batinku sendiri seperti tak merasakan kehilangannnya. Sungguh aneh diriku, bukan? Ah, entahlah aku memang tak mendapatkan kabar lagi darinya. Entah ia dibawa oleh angin yang menyejukkan hingga ia terbuai jauh dan larut dalam pelukannya, entah ia ditelan bumi yang tak kutahu belahan bumi mana yang telah menelannya, atau entah ia telah terjatuh dalam lubang yang di dalamnya ada sebentuk hati yang dipenuhi dengan segenap kenyamanan, kedamaian, dan juga cinta, pada sesosok adam! Wallahu’alam. Pesanku, Kira semoga kau baik-baik saja dan sehat-sehat saja meskipun di belahan bumi mana pun kau berada. 

Bila pun kau telah terjatuh dalam hati sesosok adam seperti yang kulukiskan di atas, semoga kau bahagia dan tentunya aman nyaman sejahtera bersamanya. Di samping itu, aku pun berharap semoga kau memberikan hati dan segenap keanggunanmu yang dibalut kesahajaan itu pada lelaki yang tepat! Aku akan selalu mengenangmu, Kira. Dan untuk merindukanmu, aku pikir itu sama seperti membuang-buang waktu pada hal yang percuma. Aku berkata demikian karena di balik semua ini ternyata ada sesosok bidadari kecil yang telah bertahun-tahun mengharapkan rinduku ini! Salam hangat teruntuk Kira(ku) dari lelaki yang mengagumi keanggunanmu. *** 

======>Boleh dishare buat yang lain.