Wednesday, 18 February 2015

Mengapa Kau Delcon Aku?



Kisah ini bermula saat seorang gadis yang sudah kukenal amat dekat mengiriku sebuah pesan singkat lewat Blackberry Mesangger.

“Lagi di mana?”

“Lagi di kebun,” balasku, padahal tubuhku sedang berguling-guling di atas kasur. 

“Oh, kukira lagi di gorengan Apakir.”

“Oh, ngak. Kenapa?” tanyaku.

Lama setelah itu baru kemudian seseorang yang kunamai “Salju” itu membalasnya. 

“Ngak kenapa-kenapa.” 

Dari balasan pesan tersebut lalu aku mencoba menganalisis jenis pilihan kata dan karakter tulisannya. Lantas aku menerka-nerka dalam hati dengan tingkat kebenaran masih nol persen. Ini pasti bukan si salju yang membalasnya! Ingin membenarkan terkaan tersebut, aku pun kembali bertanya padanya.

“Ini calon suaminya, ya?”

Sesaat kemudian, handphoneku kembali bergetar. Sebuah pesan BBM dari si Salju. 

“Ia, kenapa?”

Aku langsung merasa risih tatkala membaca untaian kata yang terukir rapi di atas layar handphoneku itu. Kerisihan tersebut mengajak seluruh tubuhku untuk tidak lagi berguling-guling di atas kasur. Aku harus berbuat sesuatu untuk mengatasi permasalahan yang mungkin bisa berakibat fatal kelaknya. 

Dalam keadaan jiwa yang sedang serius stadium empat, benda kecil yang ada di tanganku kembali bergetar. Kupicingkan mataku lagi-lagi mataku mendapati untaian kata dari si Salju. Pesan yang masuk masih dalam bentuk kalimat yang sama hanya saja ada satu penambahan suku kata yaitu namaku.

“Ia, kenapa Azmi?”

Mulutku langsung membeo slogan yang selalu dikumandangkan oleh temanku yang berasal dari jurusan Kimia itu. Pak Sem. Kami memanggilnya Sem KW. 

“Omak, panik aku!”

Jemariku masih berdiam manis di atas layar handphone. Ia sedang menunggu perintah untuk menekan tombol huruf yang sedari tadi sudah siap untuk dicumbui. Sejurus kemudian dalam keadaan masih sadar aku pun memerintahkan ujung jemariku untuk mencumbui setiap tombol huruf yang ada di layar handphone. 

“Oh, maaf sudah mengganggu!” aku selesai mengetiknya dan mengirimnya. 

Setelah kupastikan kata-kata tersebut terkirim dengan selamat dan masuk ke dalam handphone si Salju, aku dengan sabar menunggu sebuah lambang “D” yang tertera di sudut kiri layar handphoneku menjadi “R” (tentu kalian tahu apa arti lambang “D” dan “R” tersebut).

Akhirnya, lambang tersebut berubah menjadi “R”. Itu artinya pesanku terkirim dengan selamat dan masuk ke dalam handphonenya dengan terhormat. Lalu tak ingin berlama-lama lagi dan masih berada di dalam aplikasi BBM, aku menuju pada opsi kontak. Di sana kucari nama si Salju. Setelah kutemukan, tepat di atas namanya, kutahan jariku hingga di layar handphoneku muncul pilihan “Delete Contact”. Tanpa berpikir lama dan mengucapkan bismillah, jemariku pun menyentuh kolom yang bertulisan “YES”. 

Sekejap kemudian hilanglah nama si Salju dari handphoneku. Aku tak tahu ia hilang kemana, entah dibawa angin manja, entah dibawa malaikat menuju ke suatu tempat, yang jelas kini aku tak lagi mengusik si Salju karena aku tak lagi memiliki nomor unik BBM-nya itu yang bernama PIN. 
-------
Kamis, 12 Februari 2015
Kejahilanku kembali lahir saat aku menemukan nomor telponnya lewat seorang temanku yang hampir mirip Teuku Wisnu. Pada siang yang terang benderang itu aku kembali menghubungi si Salju yang telah lama kutinggalkan. Kali ini aku menelponnya, tak lagi memberinya kabar lewat pesan singkat.  Sebagai salam pembuka karena telah lama tak berkabar-ria hanya bersitatap lewat hati saja, kuawalilah kalimat percakapan siang itu dengan mengatakan padanya bahwa ada yang rindu dengan kata “Tarrraaammm”.

Dari balik telpon ia marah sedang—bukan marah besar—kala aku melafazkan kalimat tersebut. Tapi aku menanggapinya dengan sangat santai karena aku tahu bahwa marahnya kali ini adalah sebentuk marah yang ada unsur rindu di dalamnya. Tentu aku sangat menikmati marah yang seperti ini!   

Bila kalian membaca kisah ini tentu kalian akan bertanya mengapa dicari kembali sesuatu yang telah didelete itu? Jawabannya termuat dalam percakapan yang berdurasi selama 60 menit 30detik di siang itu. Semuanya terkuak di sana. Apa, mengapa, kok bisa, semuanya terjawab.  

Pada percakapan yang berdurasi satu jam lebih itu si Salju berkisah panjang lebar. Aku mendengar dengan khidmat ia berkisah seraya menikmati alunan suara yang begitu lama telah kurindu. Aku sungguh-sungguh menyimaknya layak Marsha yang mendengar si Bear yang membacakan dongeng dalam film kartun Marsha and The Bear itu. 

“Tentang balasan hari itu sebenarnya yang membalas pesan tersebut adalah diriku. Bukan calon suamiku!” ucapnya.

“Sebenarnya aku kesal padamu. Sekarang kukatakan padamu bahwa sesuatu yang berbentuk persegi dan sering berada di tangan orang-orang, mereka menyebutnya handphone, tak pernah kuberikan pada orang lain. Itu privasi.”

Aku terdiam seraya menyimaknya dengan khusyuk. 

“Aku tak pernah menyerahkan benda kecil itu pada orang lain! Dan kau tahu, sebenarnya yang membalas pesan itu adalah diriku sendiri. Namun, saat itu kau sudah terburu-buru menghapusku dari handphone-mu jadi aku tak sempat mengirimimu penjelasan tersebut.”

Aku lega mendengar penjelasan darinya. Tiba-tiba pikiranku teringat akan sebuah film yang sarat kisah romantik, yaitu Romie and Juliete. Sang lelaki terlalu terburu-buru meneguk racun yang mematikan saat melihat kekasihnya yang telah terbujur di atas dipan. Padahal sang kekasih hanya terlelap saja. Aku mungkin hampir mirip seperti si Romie itu yang terlalu terburu-buru mendelete PIN seseorang yang amat baik itu, padahal ia sama sekali tak menginginkan hal itu terjadi. 

Setelah penjelasan panjang lebar itu, akhirnya aku kembali berbicara dengannya dengan leluasa. Kali ini dalam pembicaraan yang topiknya bagai gado-gado (alias topik yang tidak jelas) aku dengan sangat bahagia menikmati suaranya, tawanya, dan kesahajaannya itu. Siang itu aku sungguh bahagia. Selain itu, kebahagiaanku ternyata juga tertular menjalari jiwa seorang sahabatku bernama Ozy. Ia bahagia karena menikmati aku yang berkata-kata dengan si Salju dengan bahasa yang sungguh mendayu-dayu bak pujangga yang tengah menyembah sesuatu yang bernama cinta. Itu saja!

Baiklah ceritanya selesai. Bila tidak kuakhiri sampai di sini, akan banyak lagi lembaran-lembaran yang menjadi korban untuk kuceritakan setiap detil peristiwa ini. 

Terakhir kalinya, sejujurnya yang ingin kukatakan di sini adalah sebagai seorang lelaki yang masih memiliki hati dan perasaan—kedua-duanya masih aktif dan masih bekerja dengan baik—aku tak ingin mengusik orang lain apalagi menyangkut dengan hal yang bernama KEBAHAGIAAN! Sungguh tak ingin.  Itulah alasan terbaikku bila ada yang bertanya mengapa kau delcon  salah satu nama yang ada di dalam BBM-mu itu!

Saturday, 7 February 2015

Puisi Memaki


Kadang kala saat sabar telah habis terkikis meninggalkan tubuh, saat lisan tak kuasa lagi mengucap asma Tuhan, makian pun menjadi kata terakhir sebagai bentuk atau wujud pemuas jiwa. Apalagi bila seseorang itu berasal dari kaum yang keseharian kaum-kaum tersebut telah terbiasa dengan makian. Ada banyak jenis bentuk rupa makian yang diutarakan saat rasa kesal atau amarah menghampir di jiwa. Kadang kala makian diwujudkan dalam bentuk jenis-jenis binatang, baik yang haram maupun yang tidak haram. Bila bentuk amarahnya teramat besar, makian yang dipakai pun bisa lebih ekstrim lagi, misal, make mother (peuget ma), Fucking your mother (pap ma), kejar ibu (let ma). 

Di sini saya sama sekali tidak menganjurkan Anda untuk memaki karena perbuatan memaki amat cepat dicatat oleh malaikat Tuhan ke dalam buku dosa. Nah, bila Anda kadang dengan keadaan jiwa yang tak kuasa lagi menahan amarah, menahan kesal, atau menahan sesuatu perhal yang mengusik tubuh Anda, semisal ada si Gam meujanggot yang mengusik Anda saat menjawab soal ujian, atau saat nama Anda tak tertera dalam daftar pengumuman berita kelulusan, bertasbihlah, bertasbihlah, atau sesekali membaca puisi ini. 

Wa Geu Pap
Oleh: Azmi Labohaji

Ini kali aku memaki 
Buat negeri dan orang yang kubenci 
Negeri macam apa ini orang macam apa ini?
Wa Geu Pap
Banyak orang melarat mencari nasi
Makin banyak pencuri pakai dasi
Aku semakin benci melihat ini orang dan ini negeri!
Wa Geu Pap
Kian banyak orang menyanyikan lagu kematian sendiri
Oh, ini tanda apa?
Oh, ini bala namanya apa?
Negeri semakin kacau
Orang-orang jadi galau.

Wa Geu Pap,
Kata nenekku  jika kau hendak mengupat
Katakan saja Wa Geu Pap!
Kau akan selamat….

Rangkang Blang, Maret 2012 

Puisi ini pernah dimuat pada Harian Serambi Indonesia tertanggal 25 Maret 2012

Thursday, 25 December 2014

Perempuan Pengantar Pizza



Seperti hujan malam kemarin, malam ini rintiknya juga masih sama, tak terlalu lebat. Hawa dinginnya merayap perlahan-lahan menaiki dinding rumah dan berakhir di tubuhku. Tak tahan dengan hawa dinginnya yang terus menusuk tubuh, aku pun menghangatkan diri di depan perapian. Aku sangat membutuhkan hangat api untuk kali ini. Seiring dengan kebutuhan akan kehangatan, ketakutanku pun mulai merongrong tubuhku. 

Ketakutanku pada malam ini sangat beralasan, sebab malam masih terlalu panjang sedangkan kayu untuk kucampakkan pada api yang masih menyala hebat itu hanya tersisa dua bongkahan kecil. Harus dengan apa kuhangatkan tubuhku ini nantinya??? Selimut tebal masih dalam cengkraman ember di kamar mandi. Sarung yang kupakai sehari-hari tak kutahu lagi di mana keberadaannya. Ah, aku semakin takut saja!

Sambil membenarkan letak kayu yang tengah dilahap si jago merah, tanpa sengaja besi yang kupakai untuk membenarkan letak kayu di dalam tungku mengeluarkan arang yang masih bersarang api di dalamnya. Bara api itu tercampak tepat di bawah letak bingkai foto yang berisi gambar istriku. Tak ingin bingkai foto tersebut  disentuh oleh bara api yang masih menyala, cepat-cepat kutumpahkan kopi ke atas bara yang masih membara. Bara padam. Lalu kupunggut dan kucampakkan kembali dalam tungku. 

Aku kembali pada bingkai foto yang berisi gambar istriku. Saat hendak kuambil foto tersebut, tangan yang hendak meraih bingkai foto istriku itu tertahan oleh getaran handphone dalam saku celana. Sebuah pesan singkat menghiasi layar handphone-ku. Pesan singkat itu mengabarkan bahwa seseorang yang mengantarkan pizza telah berdiri tegak di depan pintu rumahku. Aku bergerak ke sana.

Selepas kubuka pintu, tampaklah si pengantar pizza yang terbalut dengan mantel hujan. Ia menyerahkan pesanan dan menyebutkan harga yang harus kubayar untuk pesanan tersebut. Aku sibuk merogeh saku celana mengeluarkan uang dan si pengantar pizza asik membenarkan mantel hujannya. Saat kuserahkan uang pada si pengantar pizza raut wajahku langsung berubah. Aku menatap si pengantar pesananku dengan terpukau. Seorang perempuan cantik dan berprofesi sebagai pengantar pizza. Aku mengenal perempuan ini. 

Ah, tanpa kuperintah, pikiranku langsung berpikir liar. 

Perempuan cantik. Malam yang dihiasi hujan. Lalu aku pun berpikir semakin liar bahwa perempuan cantik dan hujan adalah dua hal yang sangat indah dan sangat didambakan oleh semua kaum adam sepertiku. Harus diakui perempuan cantik dan hujan mampu melahirkan keindahan yang tak pernah mampu kita bayangkan!

Kami sama-sama terpaku dan saling menatap bola mata. Tangan si perempuan pengantar Pizza dan tanganku terpaku pada pecahan lima puluh ribu. Dengan tingkah yang asing, aku pun menyudahi tatapan yang sangat bermakna dengan cara melihat ke kiri dan ke kanan lalu berucap padanya, “Ini uangnya!” Perempuan pengantar pizza mengambil uang tersebut dan berlalu dari hadapanku setelah mengucapkan terima kasih. 

Aku masih menatap perempuan pengantar pizza itu. Entah kenapa baru kali ini aku ingin berlama-lama menatap perempuan. Padahal pada hari-hari biasanya aku sangat sering bersemuka dengan perempuan-perempuan cantik dan takkan ada pandangan yang akan berlangsung lama seperti ini. Tapi kali ini lain sekali. Lantas, aku pun mulai mendukung pernyataan liarku tadi tentang hujan dan perempuan cantik!

Di bawah rintik hujan, perempuan pengantar pizza itu menutup pagar depan rumahku dengan amat hati-hati seraya menatapku dengan tatapan yang dalam dan penuh makna. Sebuah tatapan yang harus benar-benar kumaknai dengan sangat cermat.  Kini ia telah berada di atas motor dan hendak pergi, tapi gerakkan tangannya yang meraba-raba saku baju dan celana menandakan bahwa ada sesuatu yang hilang. Aku semakin kasihan padanya dan rintik hujan pun mulai melebat. 

Aku masih terpaku di depan pintu menatap perempuan pengantar pizza  yang belum menemukan sesuatu yang hilang. Tanpa sengaja saat aku hendak berbalik masuk ke dalam rumah, kakiku menyepak sebuah kunci motor. Tak salah lagi, perempuan itu pasti kehilangan benda yang mampu menyalakan motornya. 
“Nona, pasti kau tengah mencari benda ini, bukan?” ucapku setengah teriak. 

Perempuan pengantar pizza itu langsung mengiyakannya dan beranjak kembali padaku untuk mengambil benda yang telah kutunjukkan padanya. Aku pun menyerahkan kunci tersebut padanya seraya menatap bola mata dan raut rupanya yang indah.

“Terima kasih,” ucap perempuan pengantar pizza padaku. Aku tak membalas ucapan terima kasihnya. Pikiranku semakin liar dan hujan semakin melebat.

“Aku belum pernah melihat perempuan secantik dirimu yang mau melakoni pekerjaan seperti ini.”
Perempuan pengantar pizza terdiam dan menatapku aneh. 

“Terima kasih atas pujiannya,” ujar perempuan pengantar pizza untuk yang kedua kalinya. 
Aku tak membalas ucapan terima kasihnya untuk yang kedua kali. Aku malah melontarkan pertanyaan gila padanya.

“Maukahkah kau menemaniku untuk malam ini? Aku akan membayarmu berapapun harganya! Aku tahu ini pertanyaan gila, tetapi aku membutuhkan jawabanmu sekarang!”

“Maaf!!!  A a a ku bukan perempuan yang seperti kau ….”
Belum selesai ia menyempurnakan kalimatnya, tanganku dengan sebilah benda yang sangat menakutkan telah berada di salah satu bagian tubuhnya. 

Hujan akhirnya menyempurnakan malam. Ia melebatkan rintiknya. Hawa dingin semakin menari-nari memeluk tubuh-tubuh yang kesepian. Di rumahku, tepatnya di depan tungku perapian, kini hanya ada aku dan si perempuan pengantar pizza. Dan kini, tak ada lagi ketakutan yang bersemayam di tubuhku karena aku telah mendapatkan dua kehangatan yang berbeda. Hujan pun semakin lebat!

“Telah lama sekali aku mencari dan mengikuti jejak langkahmu dan pada akhirnya aku menemukanmu juga, nona. Kau tahu, aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu saat aku pasti akan menikmati tubuhmu dan ini adalah balasan atas apa yang telah engkau lakukan padaku, nona,” ucapku pada perempuan pengantar pizza itu seraya menggerak-gerakkan tubuhku di atas tubuhnya.  

“Andai saja kau mau menerima lamaranku dulu, nona, maka hal ini takkan pernah terjadi. Tapi saat itu kau menolaknya serta berkata dengan sangat angkuh padaku. Sekarang nikmatilah saat-saat yang indah ini meskipun kau terpaksa!”

Hujan kian melebat, di depan tungku perapian, kami pun mendesah semakin hebat. Aku semakin gila seraya menatap raut mukanya yang indah bersahaja. Aku merindukan kata-kata dari perempuan pengantar pizza saat itu, tapi mulutnya terus terkatup dan mata tertutup. Perempuan pengantar pizza itu menikmati persetubuhan ini dengan penuh paksaan dan itu berakhir hingga pagi buta.

Di depan meja kerja, perempuan tambun yang lehernya dililit mutiara ternama, menerima karyawannya. Ada percakapan yang menakutkan di sana. 

“Mulai hari ini saya berhenti bekerja!”

Perempuan tambun pemiliki usaha makanan Italia itu pun terkejut bukan kepalang. Baru mengawali pagi sudah ada karyawan yang ingin berhenti. 

“Kamu kenapa? Kok tiba-tiba ingin berhenti bekerja? Kamu itu salah satu karyawan terbaik di sini dan saya tak menginginkan kamu melakukan hal tersebut. Ada apa denganmu??”

Sambil mengeluarkan bulir bening dari kedua bola matanya yang indah, perempuan pengantar pizza itu berucap apa adanya.

“Suamimu telah meniduriku semalam saat aku mengantarkan pizza padanya. Bila saya tak mau melakukannya, maka sebilah belati yang ada di tangannya siap untuk mengeluarkan usus-usus saya!”

“Bejaaat!!!!” teriak perempuan tambun yang lehernya dililit mutiara ternama seraya menumpahkan segenap benda yang ada di atas meja kerjanya. Perempuan tambun itu pun meraih kunci mobil dan berlari keluar ruangan. 

Di sana, di atas sofa yang empuk sang suami bersama gelas kopi paginya asik tersenyum seorang diri mengingat peristiwa yang terjadi semalam. Namun, sang suami tak menyadari bahwa senyumannya itu takkan bertahan lama karena sebentar lagi raksasa yang telah memberinya kemewahan itu akan menghancurkannya tanpa ampun!  

------------     
Darussalam, November 2014

Oleh: Azmi Labohaji


Dimuat di Harian Serambi Indonesia, Minggu 7 Desember 2014

Monday, 24 November 2014

Terima Kasih, Bu Wardiati Guruku!

Aku menyukainya dan mencintai pelajaran Bahasa Indonesia bersebab karena seorang perempuan yang cantik, baik hati, bersahaja, dan lemah lembut sifatnya itu. Dialah guruku, guru bahasa Indonesiaku, pada saat aku mengenyam pendidikan di Madrasah Aliyah, Wardiati namanya!

Guru, sosok orang yang harus digugu dan ditiru. Kata itulah yang selalu tergambar di kepalaku saat mendengar kata guru; sosok yang selalu ditiru dan selalu menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Mengapa hanya ada nama (buk) Wardiati yang hanya kusebutkan di kalimat awal pembuka kisah ini? Itu punya alasan. Sebab atau alasannya adalah guru yang bernama Wardiati itu adalah seorang guru yang sangat berarti bagiku. Ia adalah ibu kedua bagiku setelah ibu kandungku!
 

Sebagai orang yang berarti dan telah mengajariku dan teman-temanku tentang pelajaran bahasa Indonesia di sekolah, tentu memiliki guru seperti Bu Wardiati adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga. Sungguh sangat berharga! Sebagai sesuatu yang sangat berharga tentu itu semua harus dijaga dengan baik bukan??? Salah satu cara menjaga sesuatu yang sangat berharga itu dengan baik adalah dengan cara mengingatnya! Ya, dengan cara mengingatnya, bila tak setiap waktu, setiap setahun sekali pun tak apa yang penting ada mengingatnya!
 

Bu Wardiati mengajariku dan teman-temanku yang batat tiada tara itu dengan tingkatan ikhlas yang sangat luar biasa dan penuh senyum. Saat beliau berada di kelas dan hendak mengajari kami tentang bahasa Indonesia, selalu saja ada ulah yang kami ciptakan. Dan dalang serta aktor pencipta ulah adalah orang-orang yang sekujur tubuhnya setiap hari dicium oleh rol kuning. Dan itu terjadi saban hari setiap ia masuk ke kelas kami. Bila suasana kelas sedang memanas, Bu Wardiati yang sangat kami sayangi itu tak akan memulai pembelajaran. Ia memandang tajam ke arah kami dengan bola matanya yang bulat itu. Pandangannya dengan bola mata yang bulat itu tak juga membuat kami meredakan aksi. Padahal, itu adalah pandangan yang menyiratkan kemarahan yang luar biasa. Setelah lima menit berlalu, baru aksi gaduh kami itu beranjak pergi ketika kapur berwarna putih berterbangan ke segenap penjuru kelas. Mengenai setiap wajah-wajah pembuat gaduh.
 

Saat-saat seperti itu, aku dan teman-temanku terdiam dan kami saling memandang. Ketika adegan pandang memandang berlangsung, laku diamlah yang kami lakonkan dan itu hanya bertahan selama lima menit. Selepas itu, kami kembali tertawa terpingkal-pingkal ketika seorang teman bengalku berkata tanpa takut pada Bu Wardiati.
 

Njan, ka dikhem Ibuk, ka dikhem,” ucapnya seraya tertawa terbahak-bahak. Dan benar seperti ucapan temanku itu. Bu Wardiati tak dapat menahan amarahnya. Kata-kata yang diucapkan oleh teman bengalku itu bagaikan tangan yang menggelitik tubuh. Bu Wardiati pun turut tertawa dan larut tertawa bersama kami! Setelah lelah tertawa bersama, seperti dikomandoi saja, kami langsung membuka buku pelajaran bahasa Indonesia dan mengikuti dengan sepenuh hati apa yang diajarkanoleh Bu Wardiati dan tak akan membuat ulah sampai bel akhir pelajaran berbunyi.
 

Begitulah saban hari yang kami lewati di sekolah sepuluh tahun yang lalu. Bila mengenang itu semua saat hendak beranjak tidur dengan istri tercinta, kadang-kadang tawa lahir dengan sendiri. Itu adalah kenangan yang sangat manis dan tak mungkin terulang lagi! Bila Bu Wardiati telah geram tiada tara, jari-jari lentiknya akan mencubit-cubit bagian tubuh kami dengan amat kuat! Saat itu terjadi, kami tak melawan sama sekali. Kami malah membiarkan bagian tubuh kami yang dicubit oleh sang guru tercinta sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya. Dan cubitan Bu Wardiati adalah bagian terindah yang harus kami nikmati. Selepas cubitan sayang itu, beramai-ramailah kami membuka baju lalu memeriksa jumlah warna merah yang ada di bagian tubuh kami itu! Dan itu sungguh sangat menyenangkan! Apakah kalian pernah merasakannya???

Buku yang Belum Sempat Kukirimkan untuknya!Sebagai seorang guru yang sangat penyayang dan mengajari kami dengan penuh keikhlasan, Bu Wardiati seperti tak pernah kehabisan semangat untuk mengajar dan mendidik kami menjadi orang yang berguna. Segala apa yang diajarkan kami terima tanpa pernah ada kata bantahan. Karena membantah apa yang beliau kata, durkaha jadinya dan nerakalah tempatnya! Kalau urusan yang satu ini kami tak pernah melakukannya.
 

Saat itu kelas sedang sangat hening. Semua kepala serius mengikuti pelajaran. Pelajaran bahasa Indonesia yang akan kami pelajari pada hari itu adalah tentang Kalimat Majemuk. Ini adalah materi yang sulit bagi kami karena pada materi ini akan dibicarakan anak kalimat dan induk kalimat. Untuk itu, konsentrasi penuh adalah langkah pertama yang harus kami lakukan.
 

Ketika telah tiba pada penentuan anak kalimat dan induk kalimat dalam kalimat majemuk, Bu Wardiati terdiam. Kami pun terpaku menatap papan tulis hitam yang telah dicoreti kapur dan terpaku menatapnya juga! Diam Bu Wardiati dan diamnya kami bersebab kali ini kami harus mencari mana anak kalimat dan mana induk kalimat!
 

Kali ini kami sekelas tak ingin jahil. Padahal pertanyaan-pertanyaan jahil telah berontak di dalam kepala masing-masing hendak keluar untuk diutarakan pada Bu Wardiati. Salah satunya pertanyaan jahil yang waktu itu tak sempat diorbitkan adalah, “Bu, kapan si Kalimat itu menikah? Siapa suaminya? Kok tiba-tiba sudah punya anak? Atau jangan-jangan anak kalimat itu adalah anak haram?”
 

Aku yakin sekali, kelas akan meledak bila pertanyaan itu dilayangkan. Tapi pertanyaan itu kami urungkan!
 

Dalam keheningan itu, Bu Wardiati bertanya pada kami sekelas bahwa yang mana bagian induk kalimat dan yang mana bagian anak kalimat pada kalimat majemuk yang telah tertulis di papan tulis itu??? Kami terdiam bagai lilin yang dimatikan. Tak tahu mana yang ibu kalimat dan mana yang anak kalimat! Lama kami berdiam diri akibat pertanyaan tersebut hingga pertanyaan tentang yang mana ibu kalimat kembali dilontarkan oleh guruku itu, Bu Wardiati. Saat itu, diam adalah pilihan dan daripada asbun yang tak berarti.
 
Sampai bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi, kami tak mampu menemukan si ibu kalimat. Begitu juga guruku, Bu Wardiati. Karena itulah, suatu saat aku berjanji dengan diriku nanti, bila aku menemukan buku tentang bagaimana mencari si ibu kalimat dan anaknya dalam kalimat majemuk, maka aku akan mengirimkannya buat guruku tersayang itu! Ya, itu akan kulakukan biar generasi berikutnya saat belajar Kalimat Majemuk tahu yang mana si ibu kalimat yang tak pernah menikah itu dan mana si anak kalimat yang tak pernah dilahirkan itu dalam kalimat majemuk!
                                                                               

                                                                                  ***
 

Bila mengenang itu semua, ingin rasanya kembali ke kelas yang berisi teman jahil, ingin belajar lagi di sekolah itu, dan tentunya ingin diajarkan lagi oleh guru yang sangat baik hati itu, namun waktu tak mungkin diputar untuk dikembalikan ke masa yang diinginkan. Sebagai seorang murid yang pernah memiliki seorang guru, mengenangnya adalah sebuah kewajiban. Apalagi di tanggal 25 November ini adalah hari untuk para guru yang ada di seluruh tanah air Indonesia. Maka, mengenang para guru yang telah berhasil mencerdaskan kita mungkin bukanlah pekerjaan yang berat. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk itu, semisal mendoakan guru-guru yang telah mendidik kita dulu agar selalu diberi kesehatan, dilimpahkan rezeki, diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya, serta semoga dapat pergi ke tanah suci! Mudah bukan??? Maka, bial engkau pernah merasa memiliki guru, kenanglah ia di hari ini! 
 

Seperti mereka-mereka yang di sana yang mungkin pada hari ini mengenang guru-gurunya, aku juga sama. Aku juga mengenang guru-guruku dan ingin kuutarakan isi hati kecilku untuknya dan semoga ia membacanya!
 

“Bu War, anakmu yang dulu kecil kurus lagi nakal itu kini telah dewasa dan telah menyelesaikan kuliahnya. Ia akan menjadi guru seperti dirimu. Mengajar dan mendidik anak bangsa agar mereka pintar, cerdas, tidak dibodohi orang, dan tentu akan mengajarkan anak negeri tentang apa itu puisi, apa itu cinta, lewat pelajaran Bahasa Indonesia. Aku ingin mengajarkan mereka seperti engkau mengajarkanku dulu. Salam, siswamu Azmi Labohaji”

Selamat hari guru dan ingin kunyanyikan lagu ini untukmu, guruku!
….. namamu akan selalu hidup di dalam hatiku. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejukkk, dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsaaa, tanpa tanda jasaaaa …..

oleh: Azmi Labohaji

Senin, 24 November 2014 

Thursday, 20 November 2014

Gigèh Meutakèh




Meunyoö hana tauseuha
panè atra rhöt di manyang
(kalau tidak berusaha
Manalah ada harta jatuh dari langit)




Inilah sepatah hadih maja yang dikutip dari buku Memahami Orang Aceh karya Dr. Mohd. Harun, M.Pd., yang  mungkin dapat memperjelas  perkara yang menyatakan bahwa orang Aceh malas. Di sana terdapat sebuah ungkapan yang layak kita cermati, yang berbunyi panè atra rhöt di manyang ‘manalah ada harta yang jatuh dari langit’ yang bermaksud bahwa rezeki seseorang manusia tidak akan datang begitu saja tanpa diusahakan (harta jatuh dari langit). Dari ungkapan itu, tampak jelas pesan yang tersirat, yakni selagi manusia masih membutuhkan makan dan minum, maka wajib baginya untuk berusaha. Meski usaha yang ditempuh dengan cara yang berbeda-beda; halal dan haram.  Yang penting usaha, perkara dosa dan segala macam itu hati nurani masing-masing yang harus memutuskan. 

Karena berusaha mencari rezeki hukumnya wajib, maka setiap insan dilarang untuk menghayal tanpa diiringi dengan ikhtiar. Mana mungkin dengan hayalan saja padi akan menjadi beras, perut yang lapar akan terasa kenyang! Dan mana mungkin pula dengan menghayal saja harta akan jatuh dari langit! Sungguh tidak mungkin. Tuhan pun takkan memberi jika kita tak berusaha.


Dalam pandangan islam, ada tiga macam rezeki, yaitu rezeki yang dijanjikan Allah, rezeki yang diberikan Allah, dan rezeki yang didapat karena Allah, (Harun, 2009:56). Rezeki yang dijanjikan Allah adalah rezeki yang dianugerahkan Allah kepada setiap makhluk hidup. Dengan kata lain, setiap makhluk hidup pasti ada rezekinya di dunia ini karena Allah telah menyediakannya. Namun, rezeki itu harus diusahakan, bukan dengan cara duduk dan menghayal. 

Orang Aceh pemalas?
Mungkin stempel pemalas layak dicap pada segelintir orang Aceh saja, tapi tak layak dicap bagi “orang” Aceh. Sebagaimana yang diutarakan Denni Iskandar (Serambi Indonesia, Selasa 7 Februari 2011), bahwa teori lain yang lebih netral mengatakan soal malas atau rajin itu sangat individualistik dan bergantung pada moral, motivasi, rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Dan sekarang, sila melangkah ke Aceh dan saksikan sendiri dari sebagian banyak orang Aceh, saya yakin stigma orang Aceh pemalas akan segera lenyap ketika anda dapati bahwa orang Aceh banyak yang gigèh-nya daripada yang beuoe-nya. 

Sangatlah tidak benar jika dikatakan orang Aceh itu pemalas. Bagaimana mereka bisa bermalas-malasan jika beras di rumah tak ada. Apalagi bagi mereka (orang Aceh) yang sudah berkeluarga. Dari mana uang yang mereka dapatkan untuk memberi jajan sekolah anaknya, mengirimi uang untuk anaknya yang kuliah, jika mereka tidak bekerja. Pasti mereka akan bekerja walau hasil yang didapatkan kelak tak banyak. 

Selain itu, memang tak dapat dipungkiri bahwa prinsip pajoh atra yang kana ‘menikmati yang sudah ada’ masih melekat erat pada segelintir orang Aceh. Maka, selagi atra yang kana (stok) masih banyak, mungkin sebagian dari mereka itu akan beristirahat atau bersantai untuk me-refresh badan yang lelah. Bisa jadi dalam jangka waktu tersebut sebagian orang menafsirkan orang Aceh malas. Ini seratus persen tidak benar. Dan prinsip pajoh atra yang kana pun tak terlepas dari banyak faktor. Salah satunya, orang Aceh banyak yang tak punya pekerjaan tetap. Misalnya, mereka yang bekerja sebagai kuli bangunan, yang kadang-kadang bekerja selama seminggu dan “nganggur” selama seminggu juga. Jadi, selagi ada pekerjaan yang baru, maka atra yang kana itulah yang akan dinikmati dulu.

Menyambil 
Pada kehidupan sehari-hari, banyak orang tua yang menasehati anaknya melalui ungkapan yang menjurus pada berusaha. Salah satunya  gigèh meutakèh, beuo meukeudo (gigih berkerak, malas berkeruh). Artinya, jika kita ulet, gigih dalam berusaha, maka kebutuhan-kebutuhan kita sehari akan terpenuhi. Begitu juga dengan keadaan perut, perut kita takkan keroncongan jika kita gigih dalam berusaha. Sebaliknya, jika beuo meukeudo maka keroncongan itu adalah sahabat yang tak pernah lekang dari perut kita. 

Di sisi lain, jika kita mengamati orang Aceh yang berprofesi sebagai petani di pedalaman kampung sana, pekerjaan menyambil (seumambee) banyak mereka lakukan. Misalnya, di samping menanam padi, di setiap pematang sawahnya pasti ada beberapa batang jagung dan kacang panjang yang akan mereka tanami. Karena selain padi dipanen kelak, jagung dan kacang panjang pun ikut dipanen. Bahkan sebagian lagi ada yang memanfaatkan waktu sebaik mungkin; pagi ke sawah, siangnya mereka ke ladang. Dan ini merupaka bagian dari ke-gigèh-an seseorang. Walaupun itu pekerjaan sambilan, jika dilakukan dengan baik, ternyata mendatangkan manfaat yang baik pula. 

Selain itu, prinsip gaki jak urat meunari/ na tajak na raseuki (kaki berjalan urat menari/ ada berjalan ada rezeki)  masih dipegang teguh orang Aceh. Karena ketika kaki sudah melangkah, pasti ada rezeki yang akan kita peroleh. Walaupun tempat tujuan ia pergi itu ke warung kopi. Mungkin di sana akan ada teman yang akan menawarkan pekerjaan. 

Kemudian, endatu orang Aceh juga telah mengajarkan bahwa bermalas-malasan itu dilarang.  Sebab akhir dari bermalas-malasan itu pasti mengharap pada orang lain. Nah, jika kita mau membuka halaman sejarah, maka di sana akan tertulis bahwa Aceh pernah mengenyam predikat penghasil lada terbanyak di dunia. Jadi, jika orang Aceh distempel “pemalas” maka itu akan sangat bertentangan dengan apa yang tertulis dalam sejarah.  

Jadi, perlu dikaji ulang jika ingin men-stempel orang Aceh pemalas. Sebab tak semua orang Aceh pemalas. Meskipun hasil buminya melimpah, tapi mereka tak ingin dininabobokan  atau terlena dengan hasil bumi tersebut, karena hasil jerih payah sendiri rasanya akan sangat berbeda dengan hasil yang diberikan cuma-cuma. Maka, stempel yang layak dicap untuk orang Aceh adalah ureung Aceh lee nyang gigèh meutakèh (orang Aceh banyak yang gigih berkerak).


oleh: Azmi Labohaji
Kamis, 20 November 2014

Gigèh Meutakèh 'gigih Berkerak'