Wednesday, 8 October 2014

Rel Takdir


“Setiap satu perbuatan yang kita lakukan di satu masa akan menjelma menjadi rel takdir yang akan kita lalui di masa yang akan datang. Kelak di masa yang telah digariskan itu akan kita alami peristiwa-peristiwa yang tak pernah kita tahu seperti apa dahsyatnya!” (Azmi Labohaji). 

Di sini aku tak akan menguraikan apa maksud dari ungkapan yang kuawali dalam tulisan ini. Ungkapan tersebut memiliki banyak makna dan bisa kita contohkan pada apa saja yang ada di alam ini. Itu semua tergantung pada diri masing-masing mau mencontohkannya pada objek apa. 

Aku mencoba mengutarakan sedikit peristiwa hidup yang tengah kualami. Sesuai dengan ungkapan di awal tulisanku ini, mungkin ini adalah contoh daripada ungkapan itu sendiri yang kuambil dari kisah hidupku. Mengenai benar atau tidaknya ini semua, kuserahkan pada diri kalian masing-masing sebagai pembaca untuk menilainya.

Kejadian yang kualami untuk saat ini adalah sebuah rangkaian peristiwa yang pernah kutulis dalam cerpenku yang berjudul “Parang Warisan” pada empat tahun silam, Juni 2010. Apa yang tertulis lengkap di dalam tulisan tersebut kemudian menjelma nyata terjadi di tahun ini. Dan ini semua tak pernah terduga sebelumnya. Sebuah peristiwa ngeri lagi menyesakkan! 

Semua peristiwa yang kukisah dalam cerpen tersebut tak sedikit pun terpikir olehku akan menjadi nyata di tahun 2014 ini. Aku hanya menulisnya saja tanpa harus berpikir itu akan menjadi nyata di suatu masa. Setelah melewati masa kontemplasi yang cukup, menghubungkan antara tulisan yang pernah kutulis dengan kejadian yang tengah kualami saat ini, baru kemudian aku sadar ternyata kisah yang kutulis dalam cerpen tersebut adalah rel takdir yang harus kulalui di mana sebuah peristiwa besar telah menanti kedatanganku! Sebuah peristiwa besar yang amat ngeri lagi menyesakkan, yaitu perpisahan! Ya, sebuah perpisahan dengan orang yang sangat kucintai. Ia adalah kekasihku!

Dan kalian tahu apa yang kulakukan sekarang setelah aku tiba di peristiwa yang telah “digariskan Tuhan” untukku itu??? Sekarang yang kulakukan adalah merasakan setiap jengkal peristiwa yang termaktub dalam cerita tersebut. Percayalah! 

Tetapi meskipun itu telah terjadi, satu hal yang ingin kuungkapkan di sini adalah apapun yang kalian alami kelak, yakin dan percayalah bahwa ada satu hikmah besar yang sedang menanti kehadiran kalian. Sebuah hikmah besar yang mahadahsyat yang pemilik sahnya adalah kalian sendiri! Bukan orang lain. Lalu kalian akan tertawa menang saat kalian berhasil memecahkan teka-teki tentang mengapa kalian harus melewati rel takdir itu. Bila telah berhasil, jangan lupa ungkapkan sebentuk pujian seperti ini. “Terima kasih Allah. Thanks God.” 

Berbicara masalah sebuah tulisan yang mana tulisan itu sendiri adalah rel takdir yang kelak akan kita lewati, aku sangat yakin kalian tentunya telah banyak menulis tentang banyak hal. Tentang apa saja. Mungkin kalian juga pernah menulis setiap kisah yang kalian alami dalam hidup dengan warna kisah atau kejadian yang berbeda. Kisah sedih, kisah senang, ataupun kisah ngeri yang akan melekat erat diingatan kalian. Aku sangat yakin kalian pasti pernah menuliskannya, apalagi bila ia adalah perempuan. Kalian pasti pernah menulis baik kisah yang sedang kalian alami, kisah yang sudah kalian alami, ataupun kisah (mendatang) yang  akan kalian alami. 

Mengapa kita perlu menuliskan semua kisah tersebut (kisah yang sudah kita alami, yang sedang kita alami, atau kisah yang akan kita alami)? Tentu jawabannya agar kelak saat memori di kepala kita teringat akan kisah tersebut, kita dapat memutar kembali kisah tersebut dengan detailnya lewat tulisan yang pernah kita tulis. Bukankah seperti itu??? 

Petuah-petuah zaman dahulu kala yang terbit lewat mulut-mulut endatu-endatu kita kadang-kadang ada benarnya dan harus benar-benar kita amalkan. Mengapa demikian? Tentu karena di dalam petuah-petuah tersebut banyak termaktub pesan dahsyat yang syufaatnya luar biasa. Petuah-petuah tersebut semisal, petuah tentang pentingnya merenung (kontemplasi) dalam menjalani hidup atau dalam rangka mengungkap takdir Tuhan. 

Banyak jenis perenungan yang bila kita mau melakukannya akan mendapatkan hikmah yang luar biasa darinya. Semisal, merenungi nasib, merenungi jodoh, merenungi rupa (mengapa saya tampan atau mengapa saya jelek), dan merenungi hal-hal yang perlu direnungi dalam rangka mencari hikmah Tuhan. Bila kita mau menyelisik lebih jauh lagi, sebetulnya hanya lewat proses merenunglah kita akan mendapatkan hikmah yang luar biasa dahsyatnya.  
Untuk itu, marilah kita merenung agar mendapatkan hikmah seperti yang telah aku utarakan di atas. Kemudian tuliskan semua kisah yang patut kalian tulis sebagai rel takdir yang kelak akan kalian lintasi di mana sebuah peristiwa-peristiwa dahsyat yang hikmah di dalamnya telah menunggu kedatangan kalian untuk kalian miliki seutuhnya! Selamat merenung, menulis dan mengikuti rel takdir yang kalian ukir!
***

*Beberapa hari setelah tulisan ini aku terbitkan, maka akan menyusul cerpen “Parang Warisan” yang berisi kisah-kisah seperti yang kuutarakan di atas! Selamat membaca.    

oleh: Azmi Labohaji

Saturday, 13 September 2014

Menjemput Jodoh

Benar bahwa jodoh itu ada di tangan Tuhan. Lalu, untuk mendapatkannya kita harus menjemputnya dengan sepenuh hati. Biarkan dia di sana di dalam genggaman nyaman Tuhan karena di sana ia sangat aman, nyaman, dan damai. Bila tiba waktunya, tepatnya saat engkau hendak menjemputnya, pastikan dirimu telah menyiapkan segenap keperluan. Mulai dari kata-kata indah, serangkai kuntum indah dan pasti menyejukkan matanya bila dipandang,cincin cantik untuk engkau lingkarkan di jari manisnya, dan tentunya penampilan menarik yang membuat matanya takkan berkedip untuk waktu yang lama.

Mengapa itu semuanya kukatakan harus engkau persiapkan? Itu semua punya alasan dan maksud sendiri. Penjelasannya seperti ini. Bayangkan bila engkau adalah orang yang akan pergi menjemput jodohmu sendiri. Setiba di tempat tujuan, tepatnya di “istana jodoh” yang telah disediakan Tuhan, jodohmu telah menunggu kehadiranmu di gerbang istana. Lalu tanpa basa-basi, engkau langsung meraih tangannya dan lantas langsung membawanya pergi menuju kediaman yang telah engkau tentukan. Jika seperti itu yang engkau lakukan, percayalah, niscaya engkau adalah “si penjemput jodoh bodoh yang tak punya sisi keindahan di dalam dirimu”. Itu semua bila dikenang suatu saat akan menjadi kenangan yang sangat tak berarti, hambar, layaknya gulai yang dimasak oleh manusia setengah wanita setengah pria (banci). Masakan yang sangat hambar, tak berasa apa-apa. Percayalah!

Sekali lagi percayalah!!! Jika seperti itu caramu menjemput jodoh, aku berani bertaruh demi langit dan bumi, kau takkan mendapatkan pelukan hangat dari jodohmu saat engkau menjemputnya. Kasihan jika itu terjadi, kawan.

Bandingkan saat engkau menjemput jodoh dengan segenap persiapan yang telah matang. Kala waktu menjemput jodoh itu telah tiba engkau pergi dengan penuh semangat, dengan penampilan yang sungguh menarik. Tentu saat berada di hadapannya langsung engkau pun berseru dengan penuh percaya diri.

“Aku begini karenamu. Dan aku begini hanya untukmu.”

Lalu kedipkan kedua matamu untuknya. Aku yakin sekali, kawan, bila itu yang engkau lakukan, jantungnya akan berdetak kencang. Sungguh detak jantung yang sungguh-sungguh sangat bermakna. Bukankah itu yang engkau inginkan???

Lalu, kata-kata indah, semisal puisi, telah engkau persiapkan dengan sangat matang. Puisi yang kelak akan engkau bacakan saat tanganmu pertama sekali meraih tangan jodohmu itu. Semisal puisinya seperti ini (sebenarnya ini adalah puisi yang akan kuucapkan pada saat aku akan menjemput jodohku kelak. Tetapi karena waktu untuk menjemput jodoh bagiku masih sangat lama, puisi ini kuhadiahkan saja untukmu, kawan).

duhai permata Tuhan
ini adalah hari yang telah ditentukan.
hari seperti yang telah termaktub dalam Kitab Janji
hari ini aku akan menjemputmu dengan sepenuh hati
engkau akan kumiliki sepenuhnya.
engkau akan kujaga selamanya. Engkau akan kucintai sepanjang usia bumi
Sekarang aku telah di hadapmu.
duhai permata Tuhan
izinkan aku mencium lembut tanganmu sebagai salam pertama
duhai permata Tuhan yang memancarkan cahaya segala cahaya
kini akulah lelaki pemilik sah cahaya itu.
terangi aku dengan cintamu, kasihmu, dan sayangmu.
Sekarang, peluklah aku selembut jiwamu
Lalu mari kita pergi ke sebuah istana yang telah kuukir untukmu …


Setelah engkau bacakan puisi ini di hadapannya, balikkanlah badanmu. Bukakan tasmu, keluarkan kuntum indah itu. Serahkan padanya dengan wajah tertunduk indah.

“Kuntum ini hanya kuperuntukkan buatmu, sayang!”

Aku yakin sekali, kali ini “Permata Tuhan mu  itu” ingin sekali segera memelukmu. Tapi jangan biarkan hal itu terjadi dulu. Biarkan dia bahagia larut dalam lakon yang baru saja engkau persembahkan untuknya. Biarkan saja. Yakinlah, “Permata Tuhan mu itu” pasti akan memandangmu dalam waktu yang cukup lama dengan laku yang bahagia; ia menggigit bibirnya sendiri, menggoyang-goyangkan tubuhnya sembari memegang kuntum yang engkau berikan, dan tentunya dengan senyuman genit yang engkau inginkan.

Setelah itu, berilah ia kejutan berikutnya. Balikkan badanmu. Bukakan tasmu. Lalu keluarkan cincin indah yang bersemayam di dalam kotak yang berwarna merah muda itu. Balikkan badanmu menghadapnya, bukakan kotak yang berisi cincin itu seraya berkata.

“Izinkan aku melingkarkan cincin indah ini di jemari indahmu, sayang!!!”

Di sini engkau tak perlu menunggu persetujuannya untuk mengatakan “ya” atau menunggunya mengulurkan tangannya untukmu. Segera raih tangannya. Pilih jari manisnya lalu sematkan cincin itu di jemarinya!

Selamat kawan. Ia tak tahan lagi. Ini kali, biarkan ia meloncat ke atas tubuhmu. Ia ingin memelukmu dengan sepenuh hati dan cinta. Kini engkaulah yang harus berdiam diri. Rasakan hangat, lembut pelukannya. Dengarkan desah nafasnya. Biarkan ia merajai tubuhmu. Biarkan ia sendiri yang melepaskan pelukan itu saat ia sudah benar-benar puas memelukmu. Bila ia tak puas dengan memelukmu dan ingin menghadiahimu gerakan yang lain, semisal ia ingin memberimu ciuman indah di bibirmu, katakan dengan lembut seperti ini.

“Jangan di sini, sayang! Aku menginginkan itu, tapi mari kita melakukannya di istana yang telah aku persiapkan untukmu. Aku tak mau melakukan ini di kediaman Tuhan yang Mahasuci ini.”

Selepas engkau menyelasaikan kalimat tersebut, raihlah tangannya dan bawalah ia ke istana yang telah engkau persiapkan.

Ya, itu saja kawan! Itu saja petuah menjemput jodoh yang mampu aku ikrarkan untukmu. Maka, lakukanlah dengan benar setiap langkahnya. Jangan ada yang tertinggal, apalagi salah. Lakukan dengan penuh penjiwaan, niscaya engkau akan dicap sebagai “Si Penjemput Jodoh dari Negeri Kayangan”.

“Lalu bila kau akan menjemput jodohmu, penulis???”

“Aku akan menjemput jodohku saat mawar yang kutanam, kala hujan menyiram bumi, telah memberi kuntum yang indah. Kuntum yang akan memercikan semerbak aroma wewangian surga delapan. Itu tepatnya saat angka 35 telah menghampiri tubuhku!!!”


                                                                                                 ------Kediaman Tuhan--------


Oleh: Azmi Labohaji

Wednesday, 16 July 2014

Guru yang Dinanti

Berbicara masalah guru memang tak pernah ada habisnya. Selalu saja ada kisah menariknya. Salah satunya kisah seorang guru yang saya dapati dari seorang teman. Teman saya menceritakan kisah seorang temannya ketika ia masih duduk di bangku SMA. Ketika jam pelajaran pertama baru di mulai, sang teman dengan tenangnya melipat kedua tangannya dan merebahkan kepalanya di atas kedua tangan yang terlipat itu. Ia tidur. Padahal, hari masih pagi sekali.

Seperti biasanya, setelah sang guru menyapa anak didiknya dan mengabsen mereka satu persatu, sang guru baru memulai pembelajaran. Tak ada yang berbeda pada pagi itu. Sang guru dengan segenap teori yang telah ia miliki mulai menjelaskan tentang topik yang akan dipelajari pada hari itu. Pada saat tiba giliran sang guru melemparkan pertanyaanya kepada siswanya dengan tujuan apakah para siswa telah mengerti tentang apa yang telah dijelaskan barulah sang guru tahu ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menarik perhatiannya. Salah seorang anak didiknya tengah tertidur pulas di saat ia tengah sengit-sengitnya menjelaskan segenap teori.

Si pendidik berjalan pelan menuju bangku siswa yang tengah tertidur pulas itu. Langkah sang guru yang berjalan menuju bangku siswa yang tengah terlelap puas itu membuat siswa lainnya melahirkan segenap pernyataan di benaknya masing-masing. Pasti dia (siswa yang tengah pulas) dimarahi. Saat sang guru tiba di bangku si siswa yang tengah terlelap itu, dengan penuh keibuan tangan sang guru mengelus-elus pundak si murid yang tengah terlelap. Semua mata siswa yang berada di kelas tersebut tertuju pada adegan yang tengah berlangsung. Harapan siswa lain bahwa si siswa itu akan dihujani amarah sang guru ternyata tidak tepat.

Elusan tangan guru yang mengajarkan mata pelajaran ilmu berhitung itu ternyata membuat si siswa yang terlelap terjaga. Dengan nada yang amat rendah, sang guru bertanya pada siswa mengapa ia tertidur saat pelajaran baru dimulai. Dengan tenang dan penuh kejujuran si siswa menjawab bahwa ia amat terkantuk. Semalam ia harus membantu ibunya membuat kue untuk dijual.

Sang guru langsung mengangguk. Paham. Ia kembali mengelus pundak anak didiknya itu seraya mengajaknya untuk tidak tidur lagi. Dengan penuh keikhlasan, si anak didik pun mengikuti apa yang dikatakan sang guru. Dan pembelajaran kembali berjalan dengan lancar.

Dari kisah singkat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketika mengajak seseorang, apalagi anak didik,  ke arah yang baik dengan menggunakan hati nurani, atau kelembutan, maka orang yang diajak itu pasti akan mengikutinya dengan penuh keiklasan. Artinya, tidak mesti harus selalu mengajak atau menasehati orang lain (apalagi anak didik) dengan kekerasan.

Pribadi yang selalu dinanti

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru memiliki pengertian sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, atau profesinya) mengajar. Sebagai seorang yang pekerjaannya mendidik atau mengajar, menekuni peran menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab, sebagai seorang pendidik atau pengajar, saban hari kesabaran seorang pendidik itu selalu diuji oleh anak didiknya. Hal tersebut disebabkan oleh macam-ragam karakter yang dimiliki oleh anak didik. Maka, disaat kesabaran sedang diuji, kesabaran harus dijaga agar tidak berubah menjadi omelan yang akan menyakitkan telinga anak didiknya. Dengan demikian, bermacam cara pun harus digunakan oleh guru untuk menjaga kesabarannya itu.

Tidak bisa dipungkiri memang, ada guru yang langsung menyiram anak didiknya dengan hujan amarah, ketika kesabarannya telah mencapai titik didih. Ada pula guru yang tetap menggunakan kesabaran (hati nurani) untuk menghadapi tingkah-polah anak didiknya. Berdasarkan cara yang digunakan oleh sang pendidik dalam menghadapi tingkah-polah anak didiknya itu, maka dengan sendirinya akan lahir kesimpulan pada diri anak didik itu sendiri akan pribadi guru yang mengajarinya itu. Dari kesimpulan itulah akan lahir sesosok orang dalam diri si anak didik akan guru yang dinanti (karena kesabaran yang dimilikinya) dan guru yang dibiarkan datang dan pergi, ka tamong ka tamong, han ka tamong beu bek keudeh (engkau masuk, masuklah, tidak engkau masuk pun tidak apa-apa).   

Guru tidak hanya berperan sebagai orang yang mentrasnferkan ilmu bagi manusia yang tengah dicerdaskan yakni siswa. Namun, jauh dari itu guru juga dituntut untuk mengubah/memperbaiki perilaku atau sikap manusia tersebut. Coba bayangkan saja jika dalam sebuah kelas ada siswa sebanyak empat puluh orang, berarti seorang guru harus menghadapi emput puluh buah kepala. Dalam satu kepala ada satu sikap/perilaku. Berarti ada empat puluh sikap/perilaku yang berbeda-beda yang harus diluruskan oleh seorang guru setiap harinya. Dalam sehari seorang guru kadang-kadang harus masuk ke dalam tiga kelas. Dengan demikian bisa dibayangkan bukan, berapa buah kepala beserta sikap/perilakunya yang harus dihadapi oleh seorang guru dalam sehari? Nah, apakah ini sebuah pekerjaan yang mudah?

Tentang hal ini, ada ungkapan menarik yang dipaparkan oleh Henry Adam. “A teacher effect eternity. He can never tell where his influence stops. Yang artinya ‘guru itu berdampak abadi. Ia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya itu berhenti’. Harus diakui memang, seperti apa yang diutarakan Adam, dampak atau pengaruh yang diberikan oleh seorang guru itu menjadi sesuatu yang berharga dan abadi. Misalkan saja manusia yang tidak bisa membaca dan menulis diajarkan dengan tulus hingga bisa membaca dan menulis. Manusia yang tidak bisa berhitung diajarkan cara berhitung agar tidak ditipu oleh orang lain. Jika ruang yang gelap itu diibaratkan seorang murid, lampu (penerang) adalah gurunya. Artinya, guru, dengan segenap kemampuan yang ia miliki berusaha membuka mata anak didiknya yang selama ini “buta” menjadi bisa “melihat”. Maka dari itu, apa jadinya jika di muka bumi ini tak ada guru?

Sosok seorang guru itu selalu menyiratkan pengaruh yang luar biasa terhadap anak didiknya. Sehingga baik tidaknya murid sangat ditentukan oleh guru. Ibarat pepatah lama mengatakan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Artinya, kelakuan seorang murid atau anak didik, selalu mencontoh guru. Guru yang lengkungan senyumannya selalu ke atas akan selalu disukai dan dikenang oleh anak didik setiap saat. Begitu juga sebaliknya, guru yang lengkungan senyumnya selalu ke bawah akan selalu dibenci atau tidak disukai oleh anak didiknya saban hari.

Sebagai salah satu komponen dalam sistem pendidikan, keberadaan guru sangat mempengaruhi hasil proses belajar mengajar di sekolah. Keberadaannya memiliki relasi yang sangat dekat dengan peserta didiknya. Relasi antara guru dan peserta didik, adalah relasi kewibawaan. Relasi kewibawaan bukan menimbulkan rasa takut pada peserta didik, akan tetapi relasi yang membutuhkan kesadaran pribadi untuk belajar. Kewibawaan tumbuh karena kemampuan guru menampakkan kebulatan pribadinya, sikap yang mantap karena kemampuan profesional yang dimilikinya, sehingga relasi kewibawaan itu menjadi katalisator peserta didik mencapai kepribadiannya sebagai manusia secara utuh atau bulat.

Selanjutnya, menjadi seorang guru yang selalu dinanti anak didik bukan berarti antara guru dan anak didik tiada tabir pembatas (antara posisi sebagi guru dan posisi sebagai anak didik). Itu ada dan harus selalu dijaga. Tujuannya agar si anak didik tidak melampaui batas (nga' bek ji ek ateuh ulee artinya, 'agar tidak naik atas kepala’) ketika ia telah begitu dekat dengan kita. Kita juga berhak membentak mereka, mengeluarkan mereka ketika jam pelajaran sedang berlangsung atau bahkan  ketika ujian sedang berlangsung, memberi mereka hukuman, atau sebagainya asalkan sesuai dengan alasan atau kesalahan yang mereka lakukan.

Dalam hal ini, kadang kala kita patut juga menyadarkan diri kita sendiri dalam bentuk memosisikan diri menjadi seorang siswa. Pasti kita akan merasa sangat kecewa jika ada seorang guru yang tak mau mendengar alasan-alasan anak didiknya sebagai bentuk pembelaan diri karena telah melakukan satu kesalahan. Kita misalkan saja peristiwa di atas tadi, saya yakin, tak banyak guru yang akan mendengar atau mau menerima alasan siswanya itu bahwa ia harus bergadang untuk membantu ibunya maka ia tertidur. Saya sangat yakin pilihan yang akan dipilih sang guru adalah mengeluarkan si siswa dari kelas beserta setumpuk omelan. Maka dari itu, mari menghadapi hal-hal yang seperti itu dengan menggunakan sudut hati nurani kita.  

Guru sebagai salah satu komponen di sekolah menempati profesi yang memainkan peranan penting dalam proses belajar mengajar. Kunci keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah ada di tangan guru. Ia mempunyai peranan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan siswanya, pengetahuan, ketrampilan, kecerdasan dan sikap serta pandangan hidup siswa. Oleh karenanya, masalah sosok guru yang dibutuhkan adalah guru dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkan pada setiap jenjang sekolah.

Ketika seorang guru sudah mampu membaca setiap karakter anak didiknya dan mampu menggunakan sudut hati nuraninya dalam menghadapi berbagai persoalan anak didiknya, niscaya orang yang dididik itu akan selalu mengaguminya dan segenap ilmu yang ia sampaikan itu pun akan tersampaikan dengan mudah dan melekat pada diri anak didik layaknya lem. Untuk itu, kepada seluruh guru di seluruh Indonesia, Aceh khususnya, marilah menjadi guru yang selalu dinanti oleh anak didik. Guru yang selalu menggunakan sudut hati nuraninya dalam menghadapi ragam persoalan anak didiknya. Karena disaat seorang anak didik yang tengah atau sedang menanti guru (yang ia kagumi) untuk mengajarinya, itu pasti karena ada sesuatu yang ia inginkan darinya kita 
   
Azmi Labohaji, guru dan juga penikmat sastra

Tuesday, 15 July 2014

Reaktif, Salah Satu Ciri Khas Orang Aceh

Istilah reaktif dapat disamakan dengan responsif yang bermakna cepat merespon, bersifat menanggapi, dan tergugah hati. Baik istilah reaktif maupun responsif dipandang sebagai istilah positif dalam tindakan manusia. Seseorang dikatakan berwatak reaktif jika dia segera bereaksi atau menanggapi sesuatu yang muncul atau timbul. Orang Aceh sangat dikenal dengan wataknya yang keras klo tulo. Namun, di balik sifat klo tulo-nya itu, orang Aceh juga memiliki sifat baik hati dan pemurah. Sifat yang demikian, akan diunjuk kepada siapa saja oleh orang Aceh. Sifat reaktif merupakan salah satu sifat orang Aceh di samping sifat militan, optimis, konsisten, dan loyal. 
Sifat reaktif itu dimiliki oleh setiap orang Aceh dalam hal menjaga harga diri. Harga diri bagi orang Aceh adalah sesuatu yang tidak boleh diusik. Harga diri merupakan sesuatu yang sangat berharga dan mahal harganya bagi orang Aceh. Jika harga dirinya telah diusik, maka sifat reaktif orang Aceh yang telah mendarah daging itu pun akan diunjuk.
Sebagai etnis yang memiliki sifat reaktif yang kuat dalam menjaga harga diri, orang Aceh juga dikenal dengan sifatnya yang ramah tamah dan baik hati kepada orang lain, misalnya dalam menjamu tamu. Salah satu pertanyaan atau ajakan yang pertama kali diajukan oleh orang Aceh sebagai pemilik rumah adalah kaleuh bu? ‘sudah makan? Ini sudah menjadi kebiasaan bagi orang Aceh. Orang Aceh tak mahu tahu apakah si tamu itu datang berniat baik atau buruk, yang penting bu ‘nasi’ adalah tawaran pertama yang harus diajukan kepada si tamu.
 Sifat baik hati dan ramah tamah ini tak akan diunjuk kepada mereka yang telah melukai hati atau harga diri orang Aceh. Hal ini tampak sekali dalam hadih maja berikut: meunyoe ate hana teupeh/ aneuk kreh jeuet ta raba/ meunyoe ate ka teupeh/ bu leubeh han jipeutaba/ (kalau hati tidak tersinggung, buah pelir boleh diraba, kalau hati telah tersinggung, nasi lebih pun takkan ditawarkannya). 
Dalam hadih maja di atas, sifat reaktif orang Aceh sangat tampak jelas pada baris terakhir, bu leubeh han jipeutaba. Orang Aceh tak akan berbagi nasi lebih kepada mereka yang telah melukai hatinya, meskipun si pengusik itu telah berhari-hari tak makan nasi. Biar ada efek jeranya. Oleh sebab itu, jangan sesekali mengusik harga diri atau hati orang Aceh, agar sewaktu bertamu akan ada nasi lebih yang akan ditawarkan.
Jika hati/harga dirinya tidak diusik, sifat reaktif orang Aceh yang berdampak negatif tak akan ditunjukkan kepada orang yang melakukan sesuatu padanya, meski buah pelir (zakar) yang dipegangnya. Hal ini tampak dalam hadih maja di atas, aneuk kreh jeuet ta raba. Jika ditilik dari segi kewajaran, memegang anak pelir (zakar) seseorang adalah suatu perbuatan yang kurang wajar. Aneuk kreh jeuet ta raba dalam hadih maja di atas, sebagai tamsilan (saja) bahwa betapa orang Aceh takkan bereaksi negatif meskipun yang dipegang adalah buah pelir. Akan tetapi, jikalau hatinya telah tersakiti dan mencoba meraba buah pelirnya, mereka tak segan-segan untuk memukul si pengusik bahkan mau untuk membunuh si pengusik. 
Di samping itu, sifat reaktif orang Aceh secara kelompok juga akan ditunjukkan kepada orang lain (baik kepada individu maupun kelompok atau juga pemerintah). Misalnya, menguburkan jenazah dari keluarga seseorang yang di dalam masyarakat keluarga tersebut dicap sebagai keluarga penyantet. Maka sifat reaktif kelompok orang Aceh yang akan ditunjukkan adalah dengan tidak menguburkan jenazah tersebut. Meskipun dalam agama hal yang demikian dilarang.      
Begitu juga sifat reaktif orang Aceh terhadap pemerintah, khususnya pemerintah Indonesia. Sifat reaktif orang Aceh dalam membantu Indonesia tampak jelas tatkala orang Aceh menyumbang semua harta bendanya demi membeli dua buah pesawat terbang (seulawah RI). Masa itu memang harus diakui hati/harga diri orang Aceh belum terusik.    
Selain sifat ramah dan baik hati yang dimiliki oleh orang Aceh, sifat pendendam dan pemarah juga mendarah daging dalam diri orang Aceh. Sifat pemarah dan pendendam tersebut lahir dari sifat reaktif yang diperlihatkan orang Aceh tatkala mereka telah diusik. Muenyoe ka teupeh, dong beukong ‘kalau sudah diganggu, maka siap-siaplah’.
Orang yang telah melukai hati/ harga diri orang Aceh tak lagi dianggap sebagai sahabat, tamu, keluarga, musafir, dan orang yang dihormati. Orang Aceh akan menganggap mereka sebagai MUSUH yang harus “dibumihanguskan”.
Sifat reaktif orang Aceh terhadap musuh akan tampak sekali dalam hadih maja berikut; jirhom geutanyoe ngon ek leumo ta rhom jih ngon ek guda, ‘dilempar kita dengan tahi lembu, kita lempar dia dengan tahi kuda’. Inti dari hadih maja di atas adalah orang Aceh akan membalas perbuatan si pengusik dengan … “ta rhom jih ngon ek guda” (secara alamiah, tahi kuda lebih keras dibandingkan tahi lembu). Demi mempertahankan harga diri, orang Aceh rela berperang hingga titik darah penghabisan. Hal tersebut telah diamanahkan oleh endatu-endatu orang Aceh, bahwa menjaga harga diri adalah suatu hal yang sangat diutamakan, bahle matee daripada malee. 
Sifat reaktif orang Aceh dalam bentuk protektif (memberi perlindungan, baik kepada keluarga, teman, dan juga sahabat) akan sangat tampak tatkala salah satu dari mereka (keluarga, teman sahabat) diusik. Orang Aceh-lah yang akan pertama sekali tajo u likeu (menghadapi si pengusik) bukan yang terkena usik. Meski orang Aceh memiliki watak keras bak karang di lautan , namun sifat lembut orang Aceh juga akan tampak seperti pada kasus di atas (dalam hal memberi perlindungan).
Jika ada orang dari luar Aceh yang datang ke Aceh dan bersahabat/bergaul dengan orang Aceh, tatkala ia kembali ke daerah atau negara asalnya ada satu hal yang akan melekat di hati si pendatang yakni orang Aceh selalu menawarkan bu, bu, dan bu kepada tamunya. Maka dari itu, sering-seringlah main ke Aceh biar Anda selalu ditawari bu, bu, dan bu. Satu hal pula yang harus diingat, ketika Anda telah lama berada di Aceh, makan nasi orang Aceh, minum air orang Aceh, bergaul dengan pemuda dan pemudi Aceh, dan menghirup udara di tanah Aceh, saat Anda kembali ke kampung asal jangan pernah menyebut-menyebut “Aceh itu kampung saya” karena itu sangat berbahaya. Tetapi boleh Anda berkata, “saya dulu pernah tinggal di Aceh”. Hidup bangsa Aceh, bangsa teuleubeh ateuh rung donya!
--------------
                
Azmi Labohaji

Friday, 11 July 2014

Surat dari Kamar Jeumpa

Besok malam aku akan menjadi seorang anak manusia yang sangat bahagia. Sebab, hari ini aku baru saja menerima gaji dari hasil kerjaku yang begitu melelahkan. Ya, pekerjaan sebagai seorang marketing bank. Sungguh sebuah pekerjaan yang menuntut kesabaran tinggi dan tenaga yang ekstra. Dan buah dari kelelahan dan kesabaran itu akan kunikmati bersama mak malam esok.

Aku mulai mengemasi barang-barangku. Menyatukannya dalam sebuah koper yang berukuran sedang. Tak ada satu pun barang yang lupa kumasukkan ke dalamnya, mulai dari pasta gigi hingga kado buat mak. Penuh senyum saat kumasukkan semua benda itu ke dalam koper. Seraya memasukkannya, aku mulai menghayal senyum ibu yang akan mengembang di bibir manisnya. Menghayal akan tangan ibu yang akan lama-lama mengelus-elus kepalaku. Dan menghayal akan semua yang akan diberikan oleh ibu buatku.

Aku selesai mengemasi barang-barangku. Dan kini waktunya menghubungi mobil yang akan kutumpangi menuju Kuta Raja, tempat ibuku tinggal. Sesaat kemudian, orang mobil mengabariku bahwa mereka akan berangkat malam ini juga dan aku akan turut serta bersama mereka. 

Petang merangkak perlahan-lahan. Mengeserkan sang surya yang cayanya kian memuram. Aku baru saja selesai membersihkan diri. Seraya menunggu waktu keberangkatan, aku pun bersantai di depan di depan rumah kontrakanku dengan segelas kopi tubruk. Baru saja berapa teguk kuminum kopi ala Aceh Selatan itu, tiba-tiba seorang  memarkirkan  sepeda motornya tepat di halaman rumah kontrakanku.

“Saudara Muzakir?” tanya lelaki jangkung itu sambil membuka pintu pagar.

“Ya, benar saya Muzakir,” jawabku sambil meletakkan gelas kopi ke panteu tempat kududuk tad.

“Ini ada surat buat Anda.”

Tanganku meraih surat yang diberikan oleh lelaki jangkung itu sambil mengerutkan dahi.
    
Dalam keheranan itu aku pun menyempatkan diri bertanya pada lelaki jangkung itu,

“Surat dari siapa?”

“Emm, saya tidak tahu juga dari siapa. Yang saya tahu orang kantor  menyuruh saya mengantarkan surat ini ke alamat ini,” jawab lelaki jangkung itu sambil mengarahkan telunjuknya pada bidang papan yang terdapat nama jalan dan nomor rumah kontrakanku yang menempel tepat di tiang panteu.

Kami sama-sama terdiam. Aku terdiam dalam balutan keheranan dan si lelaki jangkung itu terdiam dalam kekusyukannya menatap jemariku yang begitu lincah menandatangani borang penerimaan surat. Ia beranjak dari hadapanku. Dan aku kembali ke panteu.

Aku mulai melafalkan empat kata yang tertulis pada amplop surat. Surat dari Kamar Jeumpa. Perlahan-lahan kubuka amplop tersebut dan kukeluarkan isi yang ada di dalamnya. Setelah membuka beberapa lipatannya, mataku menuju isi surat. Isinya hanya beberapa baris. Selanjutnya bola mataku pun mengarahkan tatapannya pada alamat surat yang tertulis di baris pertama surat. Ya, surat ini memang tertuju buatku.

“Kepada Muzakir, dari Mak di kamar Jempa rumah sakit Kesdam,” bacaku dalam hati. Suhu badanku langsung berubah ketika membaca tiga kata terakhir itu. Aku langsung memburu isi surat tersebut.

“Anakku tersayang, sudah seminggu Mak berada di rumah sakit Kesdam, tepatnya di kamar Jeumpa. Penyakit Mak kambuh lagi. Mak sengaja tidak memberitahu padamu tentang ini karena Mak pikir ini akan segera berakhir. Tetapi pikir Mak mu ini salah. Dan kini Mak begitu merindukanmu, maukah kamu cuti sebentar saja untuk menjengguk Mak mu ini? Mak begitu sangat merindukanmu, Zakir. Sungguh! Setidaknya sebelum Mak pergi, Mak sempat melihat wajahmu. Salam, Mak.”

Bola mataku memerah. Aku hendak menangis, namun kutahan. Segera kuhubungi Waklah, lelaki yang kegilaannya mengendarai sepeda motor sudah terkenal ke seantero kecamatan. Beberapa saat kemudian, ia muncul di hadapanku.

“Ada apa, Kir?” tanya Waklah.

“Sore ini aku membutuhkan jasamu. Sore ini kau harus mengantarkanku  ke Kuta Raja. Mak ku tengah sakit di sana.”

“Ta.. ta.. pi… Kuta Raja jauh sekali, Kir?”

“Berapa aku harus membayarmu? Berapa pun yang kau minta aku akan membayarnya.”

Hanya senyuman yang Waklah berikan padaku. Ia langsung menghidupkan sepeda motornya.

“Kau tunggu di sini sebentar, aku mau masuk ke dalam dulu mengambil uang dan sesuatu yang berharga.”

Aku mulai mengamankan diri di belakang Waklah. Untuk kali ini aku tak menganggapnya “gila” untuk urusan mengendarai sepeda motor. Dari belakang Waklah aku menyempatkan diri melihat jarum amper yang ada di atas stang motornya itu. kulihat jarum itu menari-nari pada angka 140 dan 150. Sungguh kencang! Sungguh gila! Tapi tak apa-apa karena keadaan genting.

Desa desa telah kami lalui. Kecamatan-kecamatan telah kami sebrangi. Kabupaten-kabupaten pun telah kami lewati. Satu jam lagi kami akan tiba di Kuta Raja. Tinggal menghitung detik. Tinggal menghitung menit. Roda kendaraan Waklah terus berguling menuju tempat tujuan. Dan akhirnya kami pun tiba di tempat tujuan. Rumah Sakit Kesdam.

Aku berlari-lari kecil menuju ke salah seorang tentara yang berada di pos penerima tamu. “Samlekom, Pak. Saya mau bertanya, Paviliun teuku Umar, kamar Jeumpa, ada di mana, Pak?” tanyaku terburu-buru.

Pak Tentara itu langsung menjelaskan padaku seraya mengarahkan telunjuknya ke koridor yang menuju ke kamar Jeumpa.
“Terima kasih banyak, Pak!”

Aku langsung memanggil Waklah yang kala itu tengah asyik ngobrol dengan seorang janda dan mengajaknya menuju kamar yang kumaksud. Aku tiba di kamar yang kumaksud. Setelah kuucapkan salam, langsung kubuka pintu kamar Jeumpa. Aku terdiam. Orang-orang yang berada di kamar Jeumpa bukanlah orang-orang yang kukenal. Bukan keluargaku. Dan yang terbaring di atas kasur pesakitannya bukan ibuku. Oh tuhan kemana ibuku?!

Langsung kutemui perawat yang berada di samping kamar Jeumpa. Aku menanyakan makku. Dan mereka langsung mencari nama mak di buku tamu.
“Pak, ibu Anda telah pergi seminggu yang lalu,” ucap perawat tersebut begitu santai.

Aku terdiam dan meneteskan air mata tanpa bertanya lagi pada si perawat maksud kata perginya itu; pergi ke Rahmatullah atau pergi pulang ke rumah. Aku meninggalkan perawat tersebut dengan jiwa yang dibalut kesedihan yang mendalam.

Sambil meneteskan air mata aku berkata pada Waklah, “Kita pulang ke rumahku sekarang.”

Kami pun tiba di rumahku. Dengan langkah yang begitu lunglai dan air mata yang terus bercucuran, aku kini telah berada tepat di depan pintu rumahku. Setelah mengucapkan salam seseorang membukakan pintu. Betapa terkejutnya aku ketika melihat wajah perempuan yang membukakan pintu untukku. 

“Maaaakkk????!!!”

Aku langsung memeluk mak begitu kuat. Seraya menangis hebat.
“Kenapa kamu menangis, Kir?”

“Kemarin Zakir menerima surat Mak. Di surat itu berkabar bahwa Mak sakit. Dan Zakir langsung kembali ke sini hendak menemui Mak. Ketika  Zakir berada di rumah sakit tempat Mak di rawat, kata mereka Mak telah pergi. Zakir begitu sedih Mak. Zakir kira Mak telah pergi ke pangkuang Ilahi,” jawabku sambil menyeka air mata.

“Betul, seminggu yang lalu Mak sakit dan Mak juga memesanmu. Tapi surat itu sudah seminggu yang lalu dikirim. Dan sekarang Mak sudah sehat-sehat wal afiat,” ucap Mak seraya mengembangkan senyumnya.

Aku terdiam. Mendengar penjelasan dari Mak ternyata surat tersebut telah dikirim Mak seminggu yang lalu. Dan dalam keterdiamanku itu aku menyesali orang yang telah berbuat salah dalam hal ini.

“Ah, untung saja Makku masih bisa kulihat, kalau tidak aku bersumpah akan menuntutnya sampai ke akar-akarnya,” ucapku dalam hati sambil tertawa geli.
Aku pun memanggil Waklah yang sedang asyik ngobrol dengan jandanya lewat telpon seluler dan mengajaknya masuk ke rumah. ***
    
Azmi Labohaji
Kesdam, Juli 2012     
  
-dimuat pada harian Serambi Indonesia